Sponsor Rokok


Kalau suatu saat akrab sama orang barat atau malah tinggal di negeri barat, ada pertanyaan yang ingin sekali saya tanyakan ke mereka, kenapa mereka anti tembakau tapi pro alkohol?

Begini begini, hipotesis saya ini sangat mungkin salah karena referensi utama saya adalah balapan Formula 1. Sejak tahun 2006, FIA selaku panitia balapan Formula 1 melarang adanya iklan produk tembakau atau rokok dalam event olahraganya. Larangan ini tidak lepas dari dorongan dari WHO dan negara-negara tempat balapan dihelat. Sementara itu iklan produk-produk alkohol masih diijinkan sampai sekarang.

Saya coba mengesampingkan bias yang mungkin terjadi karena saya orang Indonesia dan muslim yang normalnya menganggap rokok masih mending daripada minumal beralkohol. Tapi meski begitu dalam benak saya tetap logisnya kalau tembakau dilarang seharusnya alkohol juga dilarang, atau sebaliknya dibolehkan dua-duanya saja.

Saya sebagai penonton tidak lantas pengen ngrokok hanya karena lihat iklan rokok. Apalagi di Indonesia iklan rokok ada di mana mana di seluruh sudut kota, sudah kebal. Lagipula sponsor-sponsor rokok di body mobil F1 punya nilai nostalgia dan membuat tampilan tampak lebih maskulin.


Karena larangan iklan rokok ini, Ferrari yang pada era Schumacher sangat identik dengan logo Marlboro-nya mengubahnya menjadi barcode yang katanya kalau dilihat sekilas dalam kecepatan tinggi akan mereplikasi logo Marlboro. 

Sekarang logo barcode berubah lagi menjadi Mission Winnow yang ternyata adalah bagian dari gerakan CSR-nya Phillip Morris International, pemilik merk Marlboro. Hal serupa dilakukan McLaren dengan A Better Tomorrow-nya yang ternyata milik British American Tobacco.


Negara seperti Australia lebih ketat lagi sampai sampai Ferrari dan McLaren harus menghapus logo yang nyrempet-nyrempet rokok itu. Kalau kata kementerian kesehatan Australia :

The laws aim to limit messaging that may persuade people to start or continue using tobacco.

Salut sih dengan keberanian pemerintah Australia melawan kapitalisme rokok. Padahal Phillip Morris sudah membayar Ferrari lebih dari 150 juta dollar untuk memasang logo Misson Winnow. Kebijakan yang nggak bisa 'dibeli', Ferrari tetap muncul di balapan polosan.

Kembali ke pertanyaan awalnya, kalau iklan produk tembakau dilarang kenapa produk alkohol enggak ya? Alfa Romeo masih menyematkan logo Singha, sebuah produk beer. Bahkan Heineken masih bisa menjadi title sponsor untuk Zandvoort Grand Prix 2020 meskipun batal karena pandemi.

Kalau dari sisi kesehatan bukannya tembakau dan alkohol sama sama punya efek negatif ya? Soal terlarang bagi anak-anak juga sama kan. Alasan yang valid mungkin karena efek alkohol dirasakan sendiri sedangkan rokok karena mengeluarkan asap membuat orang di sekitar ikut terdampak. 

Saya ada pikiran yang agak sinis, entah benar atau tidak, bahwa secara kasta sosial rokok itu ada di bawah alkohol. Faktanya rokok kan memang makanannya negara berkembang macam Indonesia. Mungkin mereka menganggap rokok adalah komoditi rakyat jelata jadi dianggap bukan domain mereka dan nggak masalah mengeluarkan kebijakan yang kontra.

Formula 1 masuk kategori olahraga mahal walaupun masih di bawah golf dan tenis. Sindrom orang kaya ogah memakai barangnya orang biasa mungkin ada di seluruh dunia, dan mungkin salah satu barangnya adalah rokok.

Saran saya ke FIA mbok sudah biarin tim-tim F1 bekerja sama dengan sposor rokok. Ikuti saja cara negara kami: yang penting nggak muncul gambar produk rokoknya. Perusahaan rokok adalah satu dari sedikit perusahaan yang mampu menggelontorkan dana ratusan juta dollar untuk aktivitas olahraga. Cocok untuk membantu tim-tim yang kesulitan pendanaan seperti sekarang ini.

Saya bukan perokok tapi mendukung sponsor rokok kembali menempelkan namanya di body mobil F1 karena keren. Formula 1 tidak perlu terlalu kejam pada brand rokok kalau Sugarbook saja masih bisa jadi sponsor.





Kenapa Orang Indonesia Mengemudi di Kiri?


Sejarah kenapa kita orang Indonesia mengemudi di kiri dan mengendarai mobil setir kanan berawal dari jaman kekaisaran Romawi. Saat itu Romawi menguasai nyaris seluruh Eropa termasuk sebagian Britania. Mereka membangun jaringan jalan di daratan Eropa dan berkendara di sisi kiri. 

Berkendara di sini tentu bukan mengendarai kendaraan bermotor. Saat itu transportasi utama manusia adalah kuda. Karena sebagian besar orang tidak kidal alias lebih banyak menggunakan tangan kanan, untuk naik ke atas punggung kuda akan lebih mudah dilakukan dari sisi kiri kuda, kebayang maksudnya? Cek gambar di bawah.

Tapi normalnya orang tidak akan naik kuda di tengah jalan seperti itu. Untuk alasan keamanan mereka akan naik dari tepian jalan seperti gambar di bawah. Kebiasaan ini berulang dan memunculkan kebiasaan baru yaitu untuk berkendara di sisi kiri jalan.


Ketika rezim berganti dan Napoleon menguasai Eropa, dia mengubah kebijakan sisi berkendara menjadi di sebelah kanan, alasannya supaya beda aja. Jadilah seluruh Eropa daratan berubah menjadi berkendara di kanan. Negara yang tidak mau tunduk adalah Inggris, mereka tetap di kiri, yakali tunduk sama orang Perancis.

Perancis dan Inggris membawa kebiasaan berkendara ini ke negara-negara jajahannya. Itulah sebabnya negara jajahan Inggris banyak berkendara di kiri dan jajahan Perancis di kanan. Pengecualian yang paling kentara adalah Amerika Serikat. AS adalah jajahan Inggris namun sampai sekarang berkendara di kanan a la Perancis. Kenapa?

Amerika adalah negara dengan daratan yang sangat luas. Seekor kuda tidak cukup untuk ditumpangi atau menarik kereta kuda melintasi negara. Dibutuhkan dua, empat, atau enam ekor untuk menempuh jarak yang akan dilalui. Masalahnya ketika ada lebih dari 1 kuda, sang kusir duduk dimana?


Kecenderungannya dia akan duduk di sisi kiri belakang karena harus mengontrol (memecut) kudanya dengan tangan kanan - which is lebih mudah kalau tidak kidal. Karena ada di kiri, akan lebih aman kalau mereka berkendara di sisi kanan jalan. Ini dilakukan untuk mencegah adu banteng dengan orang yang berpapasan.

Di jaman kuda urusan berkendara di kanan atau kiri ini hanyalah kebiasaan. Tapi lama kelamaan seiring lalu lintas yang semakin padat dan diciptakannya mobil, banyak negara meresmikan dasar hukumnya, Industri mengikuti dengan membuat dua versi kendaraan, setir kiri dan setir kanan, tergantung ke negara mana kendaraan itu akan dijual.

Indonesia sendiri berkendara di sisi kiri karena mengikuti Belanda. Meskipun saat ini Belanda memilih sisi kanan, tapi ketika datang ke Nusantara mereka masih berkendara di kiri. Napoleon hadir dan mengubah sistem di sana baru tahun 1800an, sedangkan Belanda sudah datang jauh sebelum itu. 

Fakta menarik tentang ini misalnya Jepang yang tidak dijajah oleh Inggris maupun Perancis. Mereka berkendara di kiri sebagai warisan nenek moyang seperti jaman Romawi. Kebiasaan ini diubah jadi kebijakan resmi ketika mereka berkawan dengan Inggris (yang juga di kiri) dalam pembangunan sistem rel dan kereta Jepang.

Kedua, negara-negara kecil di sekitar Australia ikut berkendara di kiri walaupun tidak dijajah oleh Inggris. Alasannya karena mereka banyak mengimpor mobil setir kanan dari AUS dan NZ. Ingat rumusnya: setir kanan - jalan di kiri seperti di negara kita, dan sebaliknya. 

Sekian