Ramadhan Writing : The Salah's Effect




Some people now think there are six salahs : Fajr, Dhuhr, Ashr, Maghrib, Isya, and Mohamed (Salah) - Mufti Menk
Saya agak kaget ketika beberapa teman yang selama ini nggak ngikutin kabar sepakbola dunia tahu-tahu bicara soal Liverpool. Usut punya usut ternyata mereka membaca soal Mohamed Salah

Ketika sepakbola dunia 10 tahun terakhir adalah soal Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo, tiba-tiba muncul pemain bola asal Mesir, bermain di Liverpool, yang menjadi pemain terbaik dan top scorer Liga Inggris plus memecahkan rekor gol terbanyak dalam satu musim, membawa Mesir ke Piala Dunia 2018, dan mengantar Liverpool ke Final Liga Champions.

Kalau Salah berasal dari Jerman atau Spanyol, atau bermain di klub kelas satu dunia (Barcelona, Real Madrid, Bayern Munchen) mungkin efeknya tidak sebesar ini. Tapi Salah berasal dari Mesir, negara yang tidak tiap empat tahun masuk World Cup. Lalu dia bermain di Liverpool, tim yang walaupun terakhir juara liga sudah 26 tahun yang lalu tapi saya tetep suka.



Salah memulai karir di Eropa bersama FC Basel di Swiss, lalu pindah ke Liga Inggris setelah dibeli Chelsea. Sayangnya dia gagal bersinar di Chelsea. Jarang dimainkan dan hanya mencetak sedikit gol, 2 kalau gak salah. Dua musim gagal di Chelsea dia dipinjamkan ke Fiorentina (Italia) lalu hijrah ke AS Roma. Di Roma Salah mulai bersinar, di musim terakhirnya Salah bermain 31 kali dan mencetak 15 gol. Jurgen Klopp (manajer Liverpool) merekrutnya. and BOOM!!

Salah langsung jadi bintang di musim pertamanya di Liverpool. Total 44 gol dalam semusim menyamai rekor Ian Rush dan mengalahkan Roger Hunt, Robbie Fowler, dan Fernando Torres. Di liga saja, catatan 32 gol adalah yang terbaik dalam sejarah liga 38 pertandingan. Rekor sebelumnya dipegang Alan Shearer, Cristiano Ronaldo, dan Luis Suarez dengan 31 gol. Edan.

Fans Liverpool sampai membuat chants untuk mengapresiasi Mohamed Salah


Tadi malam saya nggak tidur sampai Subuh. Nunggu pertandingan final Liga Champions 2018 antara Liverpool melawan Real Madrid. David vs Goliath. Madrid juara 3 kali dalam 4 tahun terakhir. Sementara Liverpool tidak punya satu pemain pun yang pernah bermain di final Liga Champions hingga tadi malam.

Sayang malang tak dapat ditolak. MoSalah sebagai silver bullet-nya Liverpool menangis terduduk di menit 30 akibat cedera bahu setelah insiden dengan Sergio Ramos. Salah keluar dan rencana yang sudah disusun kacau. Ditambah dua blunder dari kiper Karius (plis musim depan beli kiper yang proper), pertandingan selesai dan Liverpool kalah 3-1. Heartbreaking. Ini pengalaman nonton bola paling menguras emosi seumur-umur.

Walau gagal menutup musim dengan trofi Liga Champions, tapi Salah telah melakukan hal yang luar biasa musim ini. Tidak banyak yang bisa melakukan apa yang sudah dia lakukan. Demam Salah menjalar ke seluruh dunia.

Lebih dari sejuta pemilih Mesir 'nyontreng' Salah, lebih dari salah satu calon...

Bicara soal Salah sebagai seorang muslim, komunitas dan tokoh-tokoh muslim menjadikannya kebanggaan. Seorang muslim yang taat bermain di Eropa, di tempat yang selama ini cukup dekat dengan Islamophobia. Dia menjadi pusat perhatian. Media-media memberitakan karena itulah berita yang laku dijual. Nama 'Mohamed' menyebar ke seluruh dunia.

Kehidupan Salah juga mulai disorot. Istrinya yang berhijab jauh dari rata-rata WAGs (wife and girlfriends) pemain bola yang biasanya adalah artis atau model seksi. Selebrasi andalannya dengan sujud mulai menjadi trend. Salah benar-benar tampak berbeda dari figur-figur yang ada saat ini.

Di Indonesia, beberapa ustadz memasukkan nama Mohamed Salah sebagai salah satu teladan bahwa di era modern dakwah harus dilakukan dengan cara yang disukai orang banyak dan menjadi magnet bagi media untuk menyiarkan. Untuk saat ini Salah adalah sosok paling fenomenal dan sesuai untuk penggambaran itu. Beberapa yang saya lihat videonya adalah Ustadz Adi Hidayat dan Ustadz Bachtiar Nasir, juga Mufti Menk dengan quote di atas.

What if Sujud celebration becomes trend in Europe ? in frame : Salah and Mane (Senegal)

Sampai-sampai ada fans yang bilang, "kalau Salah bikin gol lagi saya akan jadi muslim", "Salah turns me into moslem".

Saya sendiri, sebagai muslim sekaligus fans Liverpool sejak pertama ngerti bola, sedang berada pada masa bangga-bangganya jadi fans. Liverpool is getting better and bigger in all aspecs. Waiting for amazing plays next season onwards.

Mo Salah Mo Salah Mo Salah
Running down the wing
Salah lah lah lah lah
Egyptian King

Don't stop running, Mo!

Chandra

Film : Minggu Pagi di Victoria Park (2010)




Judul : Minggu Pagi di Victoria Park
Tahun : 2010
Sutradara : Lola Amaria
Produser : Sabrang Mowo Damar Panuluh (Noe Letto) dan Dewi Umaya Rahman
Durasi : 97 menit


Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di luar negeri menyumbang lebih dari 6,5 milyar USD pada 2009. Tapi nyatanya kehidupan mereka tidak sehebat sebutan yang disematkan, pahlawan devisa. Hidup jauh dari Indonesia, menjadi warga negara kelas dua, dan kurangnya pengetahuan soal legal dan finansial memaksa negara untuk lebih hadir mendampingi mereka. Barangkali itu pesan yang ingin disampaikan film ini.

Sebagian orang yang mengadu nasib menjadi pekerja kasar di luar negeri berhasil. Mereka rutin mengirim uang untuk keluarganya di kampung, membelikan sawah orang tuanya, lalu setelah beberapa tahun pulang membawa tabungan untuk modal usaha. Tapi tidak begitu yang dialami oleh Sekar, seorang TKW yang 'hilang' hingga sang kakak, Mayang terpaksa berangkat ke Hong Kong untuk bekerja sambil mencari adiknya.

Film ini menyajikan drama tentang dua orang kakak beradik ini. Semua orang berusaha membantu. Tapi tidak ada yang tahu apa yang terjadi antara Mayang dan Sekar di masa lalu.

"Semua orang punya masalah, bukan cuma kamu", bentak Sari, seorang TKW lainnya, kepada Mayang. Ya, film ini bukan cuma menjual cerita kakak beradik itu. Tapi juga sebuah dokumenter kehidupan wanita-wanita Indonesia yang bekerja di Hong Kong. Film ini mempresentasikan bahwa ada sebagian dari mereka yang teraniaya, fisik maupun psikis. Ada penderitaan di balik kemajuan dan gedung-gedung megah Hong Kong.

Baca juga : Pengalaman di HK, nemu masjid dan ibu-ibu Indonesia jualan rendang dan gorengan

Hampir semua bagian film ini gambarnya diambil di Hong Kong, tidak artificial sama sekali, seperti kehidupan TKW yang sebenarnya. Selain itu para pemeran TKW menjalankan tugasnya dengan baik mulai dari cara ngomong yang medok, cara berpakaian, dan guyonannya yang Indonesia/Jawa banget. Tokoh-tokoh utamanya pasti dilatih untuk berbicara ala orang Jawa, sementara sebagian pemeran pembantu hingga cameo mungkin asli TKW.

Alasan saya baru nonton film ini adalah karena baru tahu ini produsernya Sabrang MDP, orang yang menurut saya pemikirannya menarik. Film ini sendiri, saya menduga idenya datang dari bapaknya, Cak Nun (Emha Ainun Najib) yang sering berkunjung ke Hong Kong dan beberapa negara lain untuk menemui orang-orang Indonesia di sana, terutama golongan pekerja dan mahasiswa.

Saya baru nonton dan langsung menulis ini, biar nggak kelewat momennya, Minggu pagi. Semoga tulisan ini bermanfaat, minimal menjadikan yang membaca kalau belum nonton jadi ingin nonton. Semoga semakin banyak film sejenis ini, potret realitas sekaligus drama berkelas bukan cinta-cintaan yang gampang ditebak.


Chandra.

Collatz Conjecture




Collatz conjecture adalah sebuah thought experiment matematika yang lumayan terkenal. Sederhana aja kok, sebuah deret bilangan. Aturannya kita pilih angka pertama berupa bilangan bulat positif berapapun. Lalu angka kedua, ketiga, keempat, dst dihitung dengan aturan ini :

- jika bilangan sebelumnya genap, bilangan yang baru adalah bilangan sebelumnya dibagi 2
- jika bilangan sebelumnya ganjil, bilangan yang baru adalah bilangan sebelumnya kali 3 tambah 1

Uniknya, berapapun angka yang diambil di awal, endingnya selalu angka 1. Kita lanjut ke contoh aja biar gak pusing. Misal kita ambil bilangan awal 6
6 genap, bagi 2 jadi 3
3 ganjil, kali 3 tambah 1 jadi 10
10 genap, bagi 2 jadi 5
5 ganjil, kali 3 tambah 1 jadi 16
16 genap, bagi 2 jadi 8
8 genap, bagi 2 jadi 4
4 genap, bagi 2 jadi 2
2 genap, bagi 2 jadi 1 (satu)

Jadi deret untuk 6 adalah : 6,3,10,5,16,8,4,2,1

Dengan cara yang sama, untuk 9 : 9, 28,14,7,22,11,34,17,52,26,13,40,20,10,5,16,8,4,2,1

Menggunakan simulasi komputer, pola ini sudah dites hingga orde 7 triliyun dan masih cocok, semua kembali ke 1. Sampai saat ini matematikawan masih belum menemukan penjelasan untuk fenomena ini, belum ada persamaan matematisnya. Tapi di sisi lain belum juga ditemukan titik salahnya karena untuk semua bilangan bulat positif pola ini terpenuhi. Amazing.

Collatz conjecture masih menjadi salah satu kasus matematika paling rumit di dunia saat ini.

So what ? Nothing, ambil hikmahnya aja..
Siapapun kita, dimanapun kita memulai, berproseslah terus, asalkan tidak berhenti berusaha, ujung-ujungnya adalah Allah, Yang Maha Esa. Maka selayaknyalah apapun yang kita lakukan mengandung unsur lillah.

Mungkin saja jalannya berliku, memutar, atau malah tampak menjauh dari tujuan. Tapi Collatz conjecture bahkan menakdirkan bahwa 27 harus melalui 9232 sebelum sampai ke 1. Semua akan ketemu pada waktunya.

Ramadhan Mubarak!

Chandra


pict : mathematica.stackexchange.com

Sulitnya Mengukur Kalori Untuk Orang Awam




Lima tahun yang lalu saya pindah dari Jogja ke Bandung. As you know, untuk kuliah. Waktu itu berat badan saya 55 kg dengan tinggi 174 cm. So skinny, right ?

Empat tahun kemudian, ketika lulus kuliah berat saya 70 kg dengan tinggi tetap. Dalam empat tahun berat badan naik 15 kg. Body mass index (BMI = BB/TB^2) naik dari 18.16 menjadi 23.12. Untuk ilustrasinya, lihat foto berikut

2012, waktu SMA

2017, lulus kuliah

Kenalan-kenalan di Bandung yang mengikuti perkembangan saya dari hari ke hari sih biasa saja. Tapi orang lama yang jarang saya temui sejak 5 tahun yang lalu impresi pertama yang dikatakan pasti bahwa saya tambah lemu.

Kenaikan berat badan paling drastis adalah waktu tingkat 2 dan 3. Waktu itu tugas-tugas kuliah di ITB memaksa kami sebagai mahasiswa untuk sering begadang. Saya telat tahu kalau begadang berpotensi menyebabkan kenaikan berat badan, tahu-tahu sudah nambah. Waktu yang tersita juga mengurangi kesempatan melakukan aktivitas fisik, walaupun untuk ini saya akui ada unsur malas hehe

Faktor ketiga adalah makanan. Saya yang sebelumnya tidak pernah punya masalah dengan kelebihan berat badan tidak terbiasa memerhatikan asupan makanan. Apa yang bisa dimakan, makan aja.

Tahun 2017 adalah pertama kalinya saya concern terhadap berat badan. Jangan naik lagi di atas 70 kg. Tahun 2018 untuk pertama kalinya juga saya concern terhadap makanan. Tapi ada sedikit masalah.

Ahli gizi, atau minimal mahasiswa gizi mungkin tahu kandungan zat-zat gizi dalam berbagai jenis makanan. Tahu kalau makanan A kalorinya sekian, B sekian, C sekian. Bisa ngukur kandungan gula pada makanan dan tahu berapa yang dibutuhkan seseorang. Tapi bagaimana dengan orang awam ?

Untuk orang biasa, aware sama kandungan gula pada kemasan minuman aja sudah syukur. Itupun kayaknya belum banyak yang melakukan. Informasi nilai gizi masih lebih banyak hanya sebagai hiasan. Hayo ada yang tahu sebotol teh pucuk berapa gram gulanya ?

Mungkin setidaknya kita paham lah bahwa junk food itu nggak baik, menyebabkan obesitas. Kita juga tahu bahwa dalam sehari harus ada asupan sayur/buah, protein dari ikan atau daging yang kalau bisa rendah lemak. Nasi ? kalau bisa jangan banyak-banyak.

Orang yang serius mengatur makanan (karena alasan kesehatan misalnya, atas perintah dokter) mungkin lebih dalam menghitung kalori, gula, dan zat lain yang masuk ke tubuh. Tapi untuk yang (alhamdulillah) masih normal, mengatur makanan untuk menunjang aktivitas dan biar nggak gampang ambruk kayaknya terlalu melelahkan kalau harus sampai itung-itungan angka...

Maaf ya, mungkin sayanya saja yang malah pusing kalau lihat ada orang itung-itungan gizi wkwk

Katanya pernah diteliti bahwa junk food punya efek lebih buruk pada orang yang sedang stres daripada orang happy. Artinya kondisi psikologis juga penting, bukan hanya soal apa yang dimakan. Jadi jangan sampai malah stres karena pengaturan makan. Nggak boleh makan inilah, itulah. Menurutku pengetahuan kualitatif tentang apa yang boleh dan tidak boleh dimakan cukup lah. Jangan memaksa diri. Nafsu makan itu juga nikmat, tanya sama orang tua yang anaknya susah makan.

Fokus saya saat ini adalah mempertahankan berat badan di angka 70 tanpa medication atau diet ekstrem. Gradually menambah aktivitas fisik dengan beberapa olahraga, makan tidak lebih dari 3 kali sehari, fast food dikurangi karena banyak yang lebih sehat tapi sama enak dan lebih murah tapi sekali kali boleh lah.

Sebentar lagi kita masuk Ramadhan. Tujuannya ibadah tapi kalau dijalani dengan benar semoga menyehatkan terutama dalam urusan pengaturan BB. Pengurangan makan tanpa merasa tersiksa :)

Sebagai penutup, ada sebuah cerita. Saya ada teman yang bekerja di pertambangan batu bara di Bontang. Karena termpatnya terisolir, makanan sudah diberikan 3 kali sehari tanpa perlu jajan. Sebenarnya makanannya enak, sehat juga. Selalu ada nasi, lauk (daging/ayam/ikan), sayur, buah, dan minuman. Tapi lama-lama dia bosan. Karena sudah disediakan, dia tidak punya kuasa untuk memilih mau makan apa. Tersiksa juga lho lama-lama. Kemerdekaan memilih makanan itu juga penting. Merdeka!

Kalau ada yang punya tips mengatur makanan yang lebih benar, tolong ajaris saya...