Permanent Record


Saya sedang baca buku Permanent Record karya Edward Snowden. Snowden mengambil judul itu sebagai representasi bahwa hal yang pernah kita produce secara digital akan terekem semuanya, selamanya. Foto yang pernah diupload di instagram, kalimat yang dipost di twitter, komentar di video youtube, artikel di blog, jawaban di quora, file yang dibackup ke cloud, foto yang ada di handphone (dengan izin akses galeri pada instagram), dan lain sebagainya. Menghapus konten itu hanya membuatnya tersembunyi orang lain, tapi tidak ada jaminan benar-benar hilang. Konten private seperti chat whatsapp dan email pun terekam. Jangankan itu, perilaku online kita yang intangible saja disimpan. 


Frustrasi kalau memikirkan fakta bahwa kita semua direkam dan diawasi setiap saat. Ketika semua hal terkoneksi dan berbasis digital, rasanya sudah tidak mungkin mengharapkan data kita benar-benar milik kita. Yang kita bisa harapkan semoga data-data penting tidak jatuh ke tangan yang salah dan disalahgunakan sehingga menyebabkan gangguan keamanan atau kerugian finansial. Kita terlalu powerless untuk mengubah kondisi itu, tapi tidak untuk Edward Joseph Snowden, system administrator CIA dan NSA yang punya akses ke sistem top secret intelejen Amerika. Ia tergerak untuk berkorban menjadi whistleblower yang melaporkan kepada jurnalis tentang penyalahgunaan wewenang pemerintah Amerika yang melakukan mass surveillance. Itu bukan tanpa resiko, sekarang ia menjadi eksil dan tinggal dengan suaka di Moskow bersama istrinya.

Kita sudah rutin membuat jejak digital, let's say, sejak 2007. Sebagian mungkin sebelum itu terutama yang sudah punya akses internet lebih awal. Sebagian besar platform yang kita pakai adalah buatan Amerika: Facebook, Google (termasuk YouTube), WhatsApp, Instagram, Twitter, Amazon, dll. Maka kita bisa assume bahwa walaupun kita bukan siapa-siapa tapi data kita ikut dicollect sama mereka. Inilah sebabnya ada ketegangan antara Amerika dan China soal Tiktok, Huawei, produksi chip, dan semacamnya. Buat mereka ini bukan cuma perkara bisnis tapi juga national security, intelejen, dan penguasaan wilayah.

Aksi yang dilakukan Snowden ini bukan terjadi baru-baru ini. Ia come out dengan data-datanya pada 2013 saat bertemu jurnalis Glenn Greenwald, Laura Poitras, dan Ewen MacAskill. Bayangkan saat itu saja surveillance sudah sangat masif, apalagi sekarang saat kehidupan digital dan nyata sudah semakin sulit dipisahkan. Buku ini adalah memoir paling lengkap yang membahas peristiwa whistleblower Edward Snowden, tapi ada alternatif lain yaitu dua film yang bisa ditonton: Citizenfour (2014) dan Snowden (2016). Silakan ditonton untuk tahu lebih banyak tentang aksi heroik ini.

I used to work for the government, but now I work for the public - Edward Snowden
Saya coba mereka-reka, andaikan ada pihak yang mengambil data-data saya, gambaran apa yang akan mereka dapatkan soal saya. Kalau hanya dari Facebook dan Twitter sih tidak terlalu risau. Paling yang bisa didapat dari sana adalah apa hobi saya, siapa teman-teman saya, di mana saya sekolah dan tinggal (kota), apa pendapat saya soal beberapa isu, klub olahraga favorit saya, dan paling sama seberapa memalukan tipografi saya di jaman-jaman awal sosial media. I can live with that, toh konten yang saya post disana saya keluarkan secara sadar dan saya tahu akan dilihat orang.

Tapi yang 'bahaya' adalah email. Email adalah sebenar-benarnya saksi bisu perjalanan hidup. Saya punya 2 email utama yang saya pakai sejak SMA dan kuliah. Email tahu kegiatan saya saat sekolah, cerita mendaftar kuliah (di tulisan soal UKT saya ambil evidence dari email), profil sosmed yang pernah saya buat, invoice barang yang pernah saya beli dan tiket yang pernah saya pesan, event yang pernah saya hadiri, pekerjaan yang pernah saya apply (termasuk attachment dokumen), kerjaan freelance dan part time yang pernah saya garap, slip gaji, tagihan telepon, sertifikat seminar & tes bahasa, file tugas akhir, rangkuman perjalanan ojek online, sampai urusan asmara pun ada disana hahaha. Email itu private, jadi jelas isinya jauh lebih personal. Ibaratnya twitter itu ruang tamu sementara email adalah kamar tidur. 

Tapi ya beginilah era teknologi. Teknologi yang interconnected membuat kita berada di bawah massive surveillance, sulit untuk lepas dari itu. Batasan dunia nyata dan maya sudah semakin kabur, jauh lebih kabur daripada jaman handphone masih nokia candybar dulu. Bahkan mungkin sekarang sudah tidak ada maya dan nyata, sudah ngeblend jadi satu. Begini deh, kamu lebih khawatir mana, membiarkan orang asing berada di rumahmu sendirian selama satu jam atau membiarkan dia mengakses handphonemu unlocked selama satu jam? Apa yang ada di smartphone bisa lebih penting daripada yang ada di dalam rumah. 


Thanks,
Chandra

Rem Getar dan Bunyi? Ini Solusinya!


Sistem pengereman adalah bagian yang krusial dalam sebuah kendaraan. Rem yang sehat menghadirkan rasa nyaman dan aman bagi pengendara. Ciri-ciri rem dalam keadaan baik diantaranya respon yang konsisten, tidak ada bunyi ketika digunakan, tidak menghasilkan panas berlebihan, dan tidak bergetar ketika melakukan pengereman dalam kecepatan tinggi.

Seiring berjalannya waktu, kinerja rem bisa turun dan mulai muncul keluhan. Gejala awal yang muncul biasanya timbul noise ketika direm. Ini memang tidak serta merta membuat rem kehilangan fungsi, tapi adanya bunyi-bunyian ini akan sangat annoying bagi driver jika terus terjadi. Konsentrasi jadi sedikit terganggu dan kepercayaan diri dalam menggunakan rem turun. Kecenderungan lain yang muncul adalah tanpa sadar mengoperasikan rem secara tidak normal untuk menghindari bunyi, misal setiap injak rem langsung mentok dalam. Bunyi ini bisa macam macam: srek-srek, ctak-ctak, tek-tek, dll. Semua dengan sumber bunyi yang berbeda-beda.

Salah satu akar masalah yang sering muncul terkait rem adalah cakram atau brake disk yang tidak rata. Penyebabnya bisa karena kampas rem yang telat diganti atau overheat kemudian disiram air. Hindari menyiram piringan rem atau cakram dalam kondisi panas, karena ini akan membuat pendinginan yang mendadak di satu titik dan membuat cakram bergelombang. Lebih baik berhenti dan biarkan dingin secara alami. Berlaku untuk semua jenis kendaraan yang menggunakan rem cakram.

Cakram yang terlanjur bergelombang menyebabkan rem bergetar saat melakukan deselerasi pada kecepatan tinggi, kisaran 80 km/jam ke atas. Selain itu akan muncul bunyi srek srek saat rem ditekan setengah. Bunyi itu muncul karena kontak yang tidak konsisten antara kampas rem dengan piringan. Selanjutnya karena kontaknya tidak stabil, dudukan kampas rem bisa kalah sehingga brake pad yang seharusnya kencang jadi longgar. Brake pad yang longgar bisa menimbulkan suata ctak ctak seperti besi yang berbenturan.

Nah solusi untuk cakram yang bergelombang ini ada dua setidaknya. Pertama adalah ganti cakram baru, tapi ini agak mahal. Solusi yang lebih ekonomis adalah bubut cakram. Banyak bengkel yang menawarkan jasa ini, bahkan sekarang piringan tidak perlu diturunkan dari mobil, cukup kalipernya saja yang dilepas. Bubut cakram bisa membuat permukaan yang tadinya bergelombang menjadi mulus lagi seperti baru. 

Ini adalah perbandingan sebelum dan sesudah cakram dibubut. Terlihat sekali bedanya, apalagi kalau diraba permukaannya. Setelah dibubut cakram sedikit lebih licin, jadi perlu adaptasi beberapa saat.

Proses pengerjaan bubut cakram kira-kira 15-20 menit untuk satu buah. Sehingga untuk sepasang, plus bongkar pasang roda dan kaliper, memakan waktu hampir satu jam. Untuk biayanya ada dua kategori, 550 ribu untuk mobil reguler dan 650 ribu untuk luxury. Harga itu untuk sepasang kanan dan kiri.

Jadi kesimpulannya kalau rem bergetar ketika diinjak dan muncul bunyi-bunyian, bisa jadi penyebabnya adalah piringan rem atau cakram yang tidak rata. Salah satu solusinya adalah bubut cakram, namun jika sudah berkali-kali dibubut dan cakram sudah semakin tipis, lebih disarankan untuk ganti cakram baru saja.


Salam,
Chandra

Fails Successfully


Salah satu 'fitur' pada ilmu teknik adalah adanya kegagalan atau failures. Engineer tahu bahwa alat atau sistem yang mereka buat pasti tidak luput dari potensi gagal. Jadi yang mereka lakukan adalah memastikan kegagalan tidak terjadi adalah calculated fail, bukan foolish fail. Diksi kegagalan atau failure lebih banyak dipakai di teknik karena lebih luas maknanya daripada patah, putus, stuck, atau error. Kadang-kadang sampai kebawa nyebut 'gagal' saat dalam mode non-engineer.

Kursi lipat Quechua ini punya kapasitas tertulis max 110 kg. Apakah artinya kursi itu akan patah atau gagal jika dibebani lebih dari itu? Tidak. Pembuatnya pasti memperhitungkan faktor keamanan sehingga kapasitas sebenarnya lebih besar daripada yang dituliskan. Asumsikan kursi itu akan patah jika ditumpangi beban 330 kg, maka kursi tersebut punya safety factor 3. Safety factor dipilih sesuai kebutuannya, kalau mau bisa saja kursi ini dibuat punya safety factor tinggi, tapi dengan begitu material yang dipilih harus lebih tebal dan berat. Ini tidak sesuai karena kursi lipat diharapkan praktis dan ringan. Kalau mau kuat pakai kursi kayu jati tua, dijamin safety factor tinggi.

Sayap pesawat terbang punya load factor hanya 1,5. Artinya jika sayap tersebut dalam operasinya didesain menahan beban maksimal 50 ton (saat turbulensi terparah), materialnya harus kuat menahan beban itu, namun di sisi lain dia juga harus patah jika dikenai beban 75 ton. Hal ini benar-benar ada tesnya ya, sayap sengaja dikenai beban sampai patah untuk mengetahui dimana limit kekuatan strukturnya. Silakan simak video tes Boeing 777 berikut ini.

Boeing 777 Wing Test

Safety factor tidak dibuat tinggi karena struktur pesawat terbang harus ringan. Kalau harusnya patah di 75 ton tapi ternyata baru patah di 150 ton, artinya struktur masih terlalu rigid atau material terlalu tebal. Alterasi akan dilakukan untuk mendapatkan hasil optimal. Rule of thumbnya kira-kira gini, setiap pengurangan berat 100 kg, berarti bisa menambah 1 orang penumpang, penumpang tambah = revenue naik.

Pembuat aplikasi smartphone akan melihat data transaksi yang mungkin terjadi pada aplikasinya, berapa angka puncaknya, dan kapan terjadinya. Dari data itu dia akan melakukan tes untuk memastikan performa aplikasinya aman ketika dilewati beban kerja normal, ini biasa disebut load test. Dalam software development juga ada proses stress test dimana aplikasi secara sengaja ditembak dengan request dalam jumlah sangat besar untuk mengetahui limit dan breaking point-nya.

Kursi lipat, sayap pesawat, dan aplikasi smartphone tadi punya alur berpikir yang sama dalam pengembangannya. Ini yang memudahkan banyak orang pindah dari satu bidang teknik ke bidang teknik yang lain.

Lalu ada istilah over-engineering, yaitu mendesain produk melebihi kebutuhan pengguna misal dengan menghadirkan fitur yang tidak perlu atau material yang terlalu berat, ini bisa mengorbankan efisiensi. Karena produk engineering bagaimanapun merupakan produk komersil, cost adalah bagian penting. Kalau cukup menggunakan alumunium tidak perlu pakai titanium. Kalau server sudah cukup dengan RAM 8GB tidak perlu ditambah jadi 16GB. Penambahan yang tidak perlu hanya akan menaikkan harga jual dan menurunkan daya saing produk. Jadi optimasi is a key.

Jadi engineering bukan hanya soal bagaimana suatu alat bisa bekerja, tapi juga bagaimana alat itu gagal. Kegagalan bukan sesuatu yang tabu untuk dibicarakan, justru analisis mengenai ini selalu dilakukan mendalam. Kita sebagai pengguna juga lebih tenang jika membeli barang yang jelas batasan gagalnya. Pabrikan handphone memberikan info tentang apakah produk handphone-nya water-proof atau hanya splash-proof. Kita tidak akan membawa hp yang hanya tahan cipratan saat berenang.

Narator pada video wing test Boeing 777 di atas: One fifty four, BRAKKK! Whichever way you look at it, the test was a success. See, sayap patah adalah sebuah 'success' dalam tes ini, it fails successfully.

Thanks,
Chandra

ITB dan UKT-nya



Sabuga, Juni 2013

Proses daftar ulang calon mahasiswa baru ITB angkatan 2013 jalur SNMPTN telah selesai. Tapi bagi camaba yang sebelumnya mengajukan permohonan UKT Subsidi perlu tetap tinggal untuk melengkapi berkas-berkas yang diperlukan. Saya adalah salah satunya.

Sebelumnya telah keluar di profil PMB saya bahwa saya mendapat UKT tertinggi, 10 juta. Tapi saat pengumuman itu juga ITB menginformasikan bahwa ada kesempatan untuk mengajukan UKT Subsidi yang dengan itu mahasiswa bisa mendapat ketetapan UKT lebih ringan, bahkan bisa sampai nol (dimasukkan ke dalam kuota bidik misi yang masih tersedia). Kabar baiknya dokumen yang disyaratkan tidaklah rumit, masyarakat kelas menengah biasa yang sering kesulitan mengakses beasiswa punya kesempatan yang terbuka untuk ini.


Hasil pengajuan ini kemudian keluar di website PMB, UKT saya menjadi 8 juta.


Agustus - Oktober 2013

Agustus 2013 adalah bulan yang padat karena tanggal 8-9 Agustus adalah Hari Raya Idul Fitri, sementara saya harus sudah ada di Bandung pada tanggal 12-nya. Awal bulan itu saya bersama orang tua ke bank untuk membayar UKT karena khawatir bank tutup atau sibuk jika terlalu mendekati lebaran. Waktu itu metode bayar UKT paling reliable masih lewat Teller. 

Sebenarnya ada mekanisme untuk minta penangguhan pembayaran UKT, terutama untuk mahasiswa yang masih mau appeal besaran UKT-nya, istilahnya Peninjauan Ulang UKT Subsidi. Saya juga termasuk yang mau appeal, tapi karena beberapa pertimbangan UKT semester 1 dibayar dulu sesuai yang sebelumnya ditetapkan, 8 juta. Prioritasnya saat itu adalah jangan sampai ada masalah dengan proses FRS dan akademik semester 1.Toh jika nanti turun lagi setidaknya akan take effect di semester-semester berikutnya. Tapi kalau tetap di 8 yawis udah sesuai bayarnya.




Bedanya dengan pengajuan sebelumnya, pada PU UKT Subsidi ini ada sesi wawancara, 1 on 1. Saya sudah lupa detail yang ditanyakan karena sudah lebih dari 10 tahun yang lalu. Tapi alhamdulillah pengajuan saya diterima dan keputusan UKT saya turun lagi jadi 4 juta. For context, sebelum daftar ITB kami sempat dapat gosip agak seram bahwa biaya kuliah di ITB 20 juta per semester. Tidak sepenuhnya salah karena UKT untuk SBM ITB memang segitu, tapi tentu melegakan ketika akhirnya dapat keputusan UKT 4 juta.

Selanjutnya saya mendapat info bahwa kelebihan bayar UKT bisa dikembalikan. Saya coba ke Annex untuk cari tahu prosedurnya. Ternyata memang ada form untuk ini, syaratnya juga tidak sulit. Tidak banyak berharap karena terus terang saya tidak yakin uang yang sudah dibayarkan bisa ditarik kembali. Selang beberapa waktu, sebulan kalau tidak salah, ternyata kelebihan bayarnya ditransfer balik dengan hanya dipotong biaya admin sedikit. Saya bilang orang tua dan ijin uangnya saya pakai untuk beli tablet hehe.

Selanjutnya sampai lulus saya membayar 4 juta tiap semester (8 semester = 32 juta). Tidak ada biaya tambahan apapun lagi. Beberapa kali saya malah dapat beasiswa secara sporadis di semester tertentu walau tidak besar. Biaya UKT ini terasa fair dan acceptable, bahkan murah kalau dibandingkan dengan apa yang saya dapat dari ITB. UKT itu saya dapat dengan background begini deh kira-kira: warga Bantul DIY, motor saya waktu SMA Vixion.

Saya sangat berterimakasih pada Lembaga Kemahasiswaan ITB yang sangat baik dalam memfasilitasi kebutuhan mahasiswa. Semua proses pengajuan di atas dilakukan dengan cepat, fleksibel, profesional, dan tanpa syarat yang mengada-ada. Kalau saya masuk kampus lain yang strict masalah UKT, bisa jadi saya dipatok lebih tinggi dari ini dan belum tentu bisa turun. Terimakasih juga untuk Kesma KM ITB yang sangat suportif untuk mengadvokasi kebutuhan mahasiswa. 

For context, total mahasiswa yang melakukan wawancara PU UKT Subsidi ada 373 orang (> 10% mahasiswa baru), tentu yang mengajukan subsidi pertama di awal lebih banyak dari ini, sebagiannya sudah merasa puas dengan keputusan subsidi pertama, tidak mau/sempat mengurus peninjauan ulang, atau sudah langsung masuk bidikmisi. Jadi proses ini bukanlah proses yang langka dan niche, partisipannya banyak.



Awal 2024, ribut-ribut UKT

Kini saya justru merasa jangan-jangan dulu saya membayar terlalu murah. Karena setelah saya lulus, ITB membuka program-program yang bertujuan untuk raise fund. ITB membuka kelas internasional dan jalur Seleksi Mandiri yang lebih mudah masuknya tapi lebih mahal bayarnya. Ada compromise soal intake quality untuk memenuhi kebutuhan pendanaan. Kampus juga tidak denial soal ini, mengakui adanya kebijakan subsidi silang. 

Saya pernah hampir 1 tahun 'bekerja' di FTMD ITB dan dari sana saya tahu bahwa untuk running sebuah perguruan tinggi butuh biaya yang tidak kecil. Ini yang jarang disebut di diskusi-diskusi di media sosial.

UKT 'Reguler' sudah naik dari 10 ke 12,5 juta. Saya pikir ini wajar karena setiap tahun terjadi inflasi. Yang saya penasaran apakah prosedur appeal UKT masih semudah dulu. Semoga masih, karena itu sangat membantu anak-anak daerah seperti saya. Standar penghasilan di Bantul, Tegal, Ngawi, Klaten, Wonsobo, dll tentu beda dengan Jakarta, Bekasi, dan Bandung. Semoga anak-anak SMA yang beneran 'bisa' tetap punya akses pada pendidikan tinggi yang baik dan berkualitas. 

Saya setuju dengan tulisan di atas bahwa ITB kurang komprehensif dalam screening calon maba jalur seleksi mandiri dan IUP. Ini jadi loophole yang dimanfaatkan sebagian orang untuk "yang penting masuk ITB dulu, bayar UKT dipikir nanti". Teman saya angkatan 2013 ada yang cerita, dia yang biasanya ugal-ugalan jadi rajin salat dhuha waktu mau ujian SBMPTN dan menunggu pengumumannya. Dulu se-intens itu untuk masuk karena jalur yang tersedia hanya SNMPTN dan SBMPTN. Tidak ada jalur mandiri, tidak ada kelas internasional, semua setara.

Masalah screening bisa diimprove supaya ke depan tidak kecolongan, tapi yang jelas salah dari ITB saat ini adalah keputusannya menggandeng lembaga pembiayaan swasta (kalau tidak mau disebut pinjol). Karena mahasiswa bukan customer, ini perguruan tinggi negeri bukan tempat kursus bootcamp. Mestinya ITB mengutamakan jalur lain seperti sponsorship dan jaringan alumni. Faktanya setelah berita tentang ITB dan UKT-nya ini viral secara nasional para ikatan alumni bergerak untuk menghimpun dana.

Saat saya masuk dulu Rektor ITB adalah Prof Akhmaloka dan Presiden KM-nya Nyoman Anjani. Saya lihat keduanya mendapat support yang cukup saat itu dan situasi kampus kondusif. Kini rektor sudah berganti dua kali, dan tampaknya karena kasus UKT ini kepercayaan terhadap rektor agak berkurang. KM ITB sudah melakukan aksi dan audiensi, tapi terakhir saya baca resolusinya belum memuaskan. Semoga masalah ini segera bisa diluruskan, supaya energi yang mestinya dipakai untuk bergerak maju tidak habis di sini.


Bagaimanapun, saya merasa berhutang budi pada ITB. Saya tidak akan menjelek-jelekkan tempat saya belajar. Bagi saya itu salah satu bentuk penghormatan terhadap 'guru'. ITB sudah memberikan lebih banyak daripada yang pernah saya bayarkan. Saya tidak setuju dengan alumni yang mengatakan almamaternya jelek, dalam konteks candaan sekalipun. Kalau kamu merasa tidak mendapat apa-apa selama kuliah, itu masalahmu. Saya mengritik kebijakan yang tidak sesuai, tapi ITB-nya sendiri tidak pernah saya benci. Adab dulu baru ilmu.

Salam,
Chandra

Bulutangkis Punya Satu Masalah


Federasi Badminton Dunia mengalami kesulitan menggaet penonton kelas atas seperti halnya yang dilakukan tenis. Ada satu hal sederhana yang membuat badminton tidak juga bisa dikemas 'semahal' tenis: bola yang memantul.

BWF terus berusaha untuk menaikkan gengsi badminton supaya sejajar dengan tenis (ATP/WTA). Nomenklatur 'Super Series' sudah diganti World Tour, muncul gagasan mengubah skoring dari 21x3 menjadi 11x5 yang akhirnya ditolak kalangan atlet, sampai digaungkannya ide penggunaan dress dan skirts untuk pemain wanita seperti tenis. Setelah semua itu badminton belum juga bisa bersaing. Kenapa? Menurut saya masalahnya ada di bagaimana olahraga itu sendiri dimainkan.

Tenis sulit dimainkan di akar rumput, di kampung-kampung. Pernah lihat bocah SD pulang sekolah main tenis? Saya sih belum. Permainan tenis hanya bisa terjadi dengan bola yang memantul. Kalau tidak ya tidak terbentuk permainannya. Akibatnya tenis tidak bisa dimainkan di sembarang lapangan dan dengan sembarang bola. Oke untuk bola masih bisa didapat tapi lapangan tidak semudah itu. Area bermain tenis harus cukup luas untuk memberi ruang pantulan bola, permukaan pun harus padat dan datar. Syarat-syarat itu membuat tenis jadi olahraga yang eksklusif. 

Sementara itu badminton punya prinsip yang lebih sederhana, memukul sesuatu sebelum jatuh menyentuh lantai. Petak tanah kecil bisa dipakai untuk main. Tali jemuran bisa dianggap sebagai net. Apapun yang bisa dipakai namplek bisa digunakan sebagai raket. Entry barrier untuk masuk ke badminton lebih rendah daripada tenis. Badminton jadi lebih masal, tapi kalah prestise.

Lihat saja apparel yang dipakai pemain tenis dunia: Nike, Adidas, Lacoste, Uniqlo, EA7, Babolat, dll. Sementara di badminton masih mentok di Yonex, Li Ning, dan Viktor. Turnamen tenis juga disponsori brand luxury seperti Rolex, sementara Indonesia Open 2023 sebagai contoh, 'hanya' menggaet Kapal Api Group. Padahal IO adalah salah satu turnamen level tertinggi BWF (Super 1000). 


Lee Chong Wei, Axelsen, Lin Dan, Tai Tzu Ying, dan Taufik Hidayat mungkin hanya terkenal di negara masing-masing dan di kalangan penikmat badminton. Tapi Roger Federer, Rafael Nadal, Maria Sharapova, dan Serena Williams ngetop di seluruh dunia. Atlet tenis dunia masuk dalan jajaran atlet dengan sponsorship/endorse terbesar bersama Ronaldo, Messi, dan bintang-bintang NBA. Tiger Woods pegolf legendaris juga masuk, another 'expensive' sport. Atlet badminton masih belum.

Kalau lihat antrian penonton badminton di Istora Senayan setiap ada gelaran Indonesia Open atau Indonesia Master, selalu didominasi anak muda yang ingin have fun teriak-teriak melepas penat. Sementara kalau nonton turnamen tenis di TV, penontonnya banyak bapak-bapak paruh baya dengan setelan bos atau pengusaha sedang plesiran. Merebaknya hobi tenis di kota besar seperti Jakarta doesn't help, malah semakin menegaskan eksklusivitas tenis. 

Gejala yang sama ada di sepakbola vs basket. Piala dunia memang jadi gelaran olahraga paling banyak ditonton di seluruh dunia. Tapi ini juga menunjukkan bahwa sepakbola itu olahraga massal. Sepakbola bisa dimainkan oleh semua anak-anak. Tapi saat saya kecil dulu yang bisa main basket hanya anak yang punya akses ke lapangan (rare) dan yang di halaman rumahnya luas dan dikonblok, punya ring, dan punya bola. Di SMA status sosial anak basket lebih tinggi daripada anak futsal. That says a lot.

Coba bandingkan bagaimana mereka mengemas Premier League dan NBA. Dua-duanya kompetisi elit dengan perputaran dana yang besar. Tapi Premier League masih didominasi sisi sport dan achievement, sementara NBA sangat terasa nuansa party dan entertainment-nya. Itulah kenapa PL tidak punya kiss cam dan cheerleader menari-nari, sementara NBA (dan US major sport lainnya) tidak ada sistem promosi degradasi. Olahraga nampaknya punya peran berbeda di dalam society Amerika dan Eropa. Olahraga Eropa adalah precision & finesse. Olahraga Amerika adalah authority & muscular.

Dari dunia balap FIA kini tengah berusaha meng-Amerika-kan Formula 1. Tapi ini justru dibenci existing fans. Formula 1 adalah balapan gaya Eropa, sementara Amerika sudah punya Nascar. F1 adalah olahraga super presisi dimana kontak antar pembalap sama sekali bukan opsi, sementara di Nascar senggolan antar mobil adalah biasa, bahkan sebelum dilarang dulu pernah ada strategi wall ride dimana pembalap secara sengaja menyerempetkan mobilnya ke dinding.

Kita bisa mencari contoh dari olahraga lain lagi. Tapi intinya organizer tidak perlu risau kalau olahraganya tidak bisa menjangkau semua kalangan. Bisa jadi itu bukan masalah kurangnya marketing, tapi semata-mata dari bagaimana cara olahraga itu dimainkan. 

Salam Olahraga!

Thanks,
Chandra


gambar:
unsplash
uniqlo
watchpro
autosport