Pemilih Anies


Menurut saya ada dua kelompok besar pemilih Anies Baswedan dalam Pilpres 2024. Pertama adalah pemilih rasional, dan kedua adalah pemilih ideologis. 

Pemilih rasional adalah orang-orang yang melihat Anies dari sisi pengalaman memimpin, kompetensi, dan portfolionya. Kelompok ini ada banyak di Jakarta karena mereka pernah merasakan dipimpin Anies sebagai gubernur dan merasakan dampak positif, in one way or another. Ini alasannya polling spontan di medsos banyak dimenangkan oleh Anies karena demografi penggunanya banyak berlokasi di sekitar Jakarta. Diantara program DKI jaman Anies yang banyak diapresiasi adalah Jaklingko, Jaki, dan branding +Jakarta. Tentu ada pemilih rasional lain dengan alasan yang berbeda karena Pak Anies juga pernah menjabat posisi lain, tapi secara jumlah pasti tidak sebanyak pengaruh Gubernur DKI.


Sedikit mengelaborasi, Jaklingko adalah program integrasi transportasi umum di Jakarta yang mencakup Transjakarta, Commuter Line, MRT, dan LRT. Banyak halte dan stasiun yang secara fisik dihubungkan sehingga pengguna dapat berganti sarana dengan mudah. Saya merasakan manfaat langsung dari Jaklingko ini karena sehari-hari berangkat kerja dengan transportasi umum. Integrasi Transjakarta koridor 13 dengan MRT di CSW/Asean mengubah cara commute saya jadi lebih nyaman, murah, dan cepat. Sistem Jaklingko juga memungkinkan satu kartu dipakai untuk pembayaran di semua moda.

Kedua, Jaki (Jakarta Kini) adalah suatu platfrom yang menyediakan akses untuk berbagai keperluan di Jakarta. Saat Covid saya pakai aplikasi ini untuk keperluan mencari informasi vaksin. Saya juga pakai ini untuk cek pajak kendaraan. Fungsi lain yang banyak digunakan masyarakat adalah pelaporan masalah yang ada di lingkungan seperti pohon tumbang, jalan rusak, sumbatan air, dll. Katanya lapor di Jaki proses dan respon dari dinas terkaitnya cepat. Kalau dulu di Jabar RK memberikan nomor kontak dan akun twitternya untuk dihubungi masyarakat, Jaki adalah versi lebih canggih, sistematis, dan elegannya.

On top of that, branding +Jakarta - Kota Kolaborasi pernah membuat Jakarta terasa seperti negara maju. Di sudut-sudut kota tergambar mural +Jakarta ini, warga tampak bangga, dan karena sampai level kecamatan ada templatenya semua jadi merasa diapresiasi.

gambar: +Jakarta

Sayangnya oleh gubernur PLT malah diganti begini, are we living in the 90s or what?

gambar: Presisi.co

Masuk ke kelompok kedua yakni pemilih ideologis. Ini adalah kelompok yang akan memilih Anies karena merasa punya kesamaan ideologi, paham, atau aliran baik dengan Anies, Cak Imin, maupun partai pendukungnya. Di dalamnya termasuk orang-orang yang pernah satu organisasi, satu gerakan, satu almamater, pernah tinggal berdekatan, atau kesamaan-kesamaan lainnya. 

Suara kelompok ideologis ini saya pikir relatif sudah dalam genggaman. Tapi apakah mengandalkan ini saja sudah cukup? Tidak, AMIN masih butuh memastikan pemilih rasional tetap ada di pihak 01, sekaligus memenangkan suara dari swing voters dan orang-orang yang sejauh ini tidak jawab/tidak tahu. Dan sekalipun saya dukung Anies, saya tahu bahwa sebagian pemilih rasional dan swing voters punya deal breaker yang bisa membuatnya beralih dari AMIN ke paslon lain atau malah memilih golput. Rangkaian twit ini bagus untuk mengantarkan ke penjelasan itu

Saya nggak punya deal breaker itu, saya fine dengan siapa yang ada di belakang Anies sekarang maupun dulu jaman nyalon jadi gubernur DKI. Tapi saya mau bilang pada loyalis Anies bahwa ada lho orang yang mau ikut pilih Anies tapi tidak cocok dengan PKS, FPI, 212, Islam Progresif, dan semacamnya karena apa yang terjadi di 2018-2019. Saya memahami dan bisa setuju dengan beberapa hal yang disuarakan saat itu karena kebetulan kenal beberapa orang yang berafiliasi kesana dan saya tahu orangnya baik, tapi tidak semua orang memahami itu.

Saya mengumpamakan ini seperti di sebuah SMA ada Rohis yang tidak disukai karena terlalu agresif sampai menyindir dan mengagitasi siswa non-Rohis yang berpacaran atau membolos misalnya. Setuju pacaran dan bolos itu negatif, tapi tidak semua cara pas di hati semua orang. Dan luka dakwah kalau tidak diobati dengan benar akan sulit lupa. 

Pasti oknum ya, tapi saat itu ada saja yang merasa lebih suci dari yang lain. Ada saja yang menganggap cara beragamanya lebih benar dan paling benar diantara yang lain sampai mengharamkan ini itu. Alhamdulillah sekarang situasi jauh lebih kondusif, dan saya sangat bersyukur pilpres kali ini calonnya ada tiga sehingga tidak ada polarisasi yang sangat melelahkan seperti waktu itu.

Dengan 'Rohis' ini saya tidak bermaksud menunjuk Rohis sekolah saya atau sekolah manapun, hanya istilah untuk golongan yang saat itu merasa eksklusif saja. Maaf agak sulit menjelaskannya, tapi bisa dirasakan maksudnya lah ya. Intinya jika di sebuah SMA ada pemilihan ketua OSIS, meskipun ada calon yang anak Rohis, dia tidak akan menang jika hanya dipilih oleh anggota Rohis. Dia dan timnya juga harus menarik simpati dari anak-anak futsal, teater, paduan suara, siswa yang hobi nongkrong di warung samping sekolah, dan siswa yang sengaja titip tas di fotokopian depan biar bisa bolos tanpa ketahuan.

So please be kind, jangan sampai terlalu banyak orang punya deal breaker ini. Saya juga pemilih Anies, tapi saya belum yakin 01 akan menang  apalagi ada calon yang dibackup incumbent. Di sistem pemilu kita semua orang punya jatah sama satu suara, tidak peduli sifat dan kesehariannya seperti apa. Mau baik mau badung tetap nyoblosnya satu kali. Orang dengan tingkat pendidikan lebih tinggi atau amalan harian lebih baik tidak lantas punya vote lebih kuat. Swing voter masih banyak karena capres lain juga punya red flag-nya masing-masing, maka banyak suara yang masih harus dan bisa diperebutkan. 

Stop menghakimi, mulai menginspirasi.


Salam,
Chandra


Salam,
Chandra

Wake Up Pain


Saya kasih judul Wake Up Pain karena apa yang saya tulis disini berhubungan dengan ketiduran. Saya kemarin mengalami suatu insiden dimana saat nyetir saya ilang 2-3 detik karena ngantuk dan nyundul orang di gerbang keluar tol. Alhamdulillah posisi sudah pelan jadi tidak ada luka atau apapun, kerusakan kendaraan pun nggak parah. Setelah insiden kami minggir dan saya langsung turun untuk minta maaf lalu mengatakan siap ganti rugi, karena memang murni kesalahan di saya. Kami bertukar nomor WA dan besok akan dikabari berapa estimasi biaya perbaikannya. Di sisi saya sendiri ada perbaikan kecil, kemarin saya ke bengkel body di daerah Ciputat dan kurang dari sejam sudah beres lagi.


Pelajarannya jangan memaksakan diri nyetir dalam kondisi mengantuk. Nggak perlu ngejar target harus sampai tujuan dalam sekian jam, kalau capek ya istirahat saja. Yang saya alami ini adalah least possible incident, Allah selamatkan saya dari insiden yang lebih besar. Saya nggak kebayang kalau kejadiannya saat di tengah jalan tol dalam kecepatan tinggi. Harus diakui selama ini saya beberapa kali mengemudi dalam kondisi sedikit mengantuk, tapi Allah masih menghindarkan saya dari musibah. Kali ini mungkin saya lagi disuruh merasakan akibat dari kesombongan saya ini. Tapi haluuus banget caranya, dipilihkan-Nya skenario paling mending. Kalau saya dibiarkan get away with it, di belakang nanti kejadiannya bisa lebih buruk. 

Pernah lihat kartun ilustrasi dimana sebenarnya ada banyak masalah mengarah ke kita, tapi ada tameng berupa doa orang tua yang menghalau masalah-masalah itu. Sampai kita nggak ngerasa atau sadar bahwa kita selamat bukan karena sudah baik, tapi karena doa dan ijin-Nya. Kejadian ini membuat saya mikir begitu. It really could have been worse. Ini dibiarkan ada satu panah kecil masalah yang tembus biar jadi bahan introspeksi diri saya. 

Sekali lagi jangan mengoperasikan kendaraan atau mesin dalam kondisi mengantuk. Hindari begadang jika besoknya mau mengemudi. Utamakan keselamatan bukan kecepatan. Rest area, masjid, pom bensin, dan warung makan ada dimana-mana untuk istirahat. Kendaraan juga butuh istirahat untuk mendinginkan mesin dan rem, apalagi jika medannya naik turun dan belok. Belajar naik motor atau mobil itu cepet, yang lama adalah proses mendewasakan diri untuk jadi pengemudi yang budiman. Satu lagi, sikap mental ketika berkendara harian dalam kota dengan berkendara jarak jauh untuk leisure mesti dibedakan. 

Semoga kita selalu dalam lindungan-Nya. Semoga selamat sampai tujuan. Hati-hati di jalan.


Cheers,
Chandra



Somebody Named Mohamed


Liverpool fanbase sedang kenceng-kencengnya memuji Salah setelah ia berhasil mencetak goal ke-200-nya untuk Liverpool. Pada list yang mengandung nama Ian Rush, Steven Gerrard, Michael Owen, dan lain sebagainya terselip seorang African bernama Mohamed. No tattoo, no alcohol, no criminal charge, no haters, just pure quality footballer.
Mo Salah bukan lagi di level Luis Suarez, Torres, Morientes, atau Djibril Cisse. Kini namanya disebut satu nafas dengan Kenny Dalglish dan Robbie Fowler. Bayangkan kalau Salah ini bukan orang Mesir tapi bocah asli Merseyside yang sejak kecil sudah join SSB Liverpool lalu bisa tampil sampai lebih dari 600 pertandingan, bukan tidak mungkin Mo Salah jadi all time top scorer.

Glad to have such players like Alisson Becker, Van Dijk, Sadio Mane, Firmino, Henderson, Trent, etc (the whole 2018-2020 squad basically), but Mo Salah is in different level now. Kalau di Nankatsu, Salah ini Tsubasa-nya. Mo Salah is the face of English Premier League, bukan cuma Liverpool.



Utang Rasa


Saya banyak yang kurang setuju dengan Mbah Sujiwo Tejo kalau mendengar atau membaca tulisannya, apalagi kalau menangkap yang disampaikannya secara literal. Tapi ada satu konsep yang menurut saya sangat baik dan perlu dilakoni oleh semua orang, yaitu yang sering beliau sebut Utang Rasa.

Beliau mencontohkan ini dengan menceritakan anaknya yang suatu hari pulang naik taksi dan setelah sampai rumah langsung masuk. Mbah Tejo marah karenanya, kenapa kok langsung masuk, karena sudah bayar kata si anak. Lalu beliau bilang, bahwa yang kamu bayar itu cuma waktu dan tenaga si bapak supir taksi, tapi rasa-nya tidak kamu bayar.

Seberapa sering kita tidak ramah atau asal perintah pada pelayan warung makan? Seberapa sering kita setelah beli dari pedagang keliling, langsung masuk padahal si penjual masih ribet merapikan stationnya sebelum jalan lagi? Seberapa sering kita menyepelekan security, cleaning service, dan office boy di tempat kerja? Seharusnya sudah keluar uang bukan berarti kita bisa berhenti memanusiakan manusia.

Bukan berarti kita harus selalu nice dan tidak pernah protes. Kalau hak kita sebagai konsumen tidak terpenuhi kita boleh komplain, apalagi kalau penyedia jasanya company besar. Tapi ingat bahwa mas atau mbak penerima telepon customer service itu juga hanya karyawan, jadi jangan protes berlebihan apalagi sampai memaki. Secara teknis pun mereka bukan yang berkewajiban membereskan keluhan kita, pasti ada timnya sendiri untuk ini.
Nabi Musa bertanya kepada Tuhan, apa ibadah yang paling khusus untukmu, yang paling mulia? Tuhan menjawab, masukkan rasa bahagia ke hati orang lain dengan sedekah. Itu ibadah termulia di sisi Tuhan - Habib Husein Ja'far
Seharusnya tidak susah untuk memulai ini, saya justru menikmati obrolan-obrolan kecil dengan banyak orang. Kadang di sana ada berita menarik atau informasi yang ternyata kita butuhkan. Saya pernah sampai kena tegur istri karena asyik ngobrol sama pedagang bakso malang keliling, katanya bahaya karena posisi istri sering di rumah sendiri, masuk akal sih. So next time naik ojol pastikan tidak membuatnya terlalu lama menunggu dan ucapkan terimakasih saat sampai. Gopay-mu cuma bayar bensin dan jasanya, tapi belum rasa-nya. 

Salam,
Chandra

Generasi Peminum Kopi


Ada perbedaan pada cara saya, dan mungkin kita, dalam memakai Instagram antara dulu saat pertama kali buat akun (2014-an) dan sekarang. Dulu jejaring yang terbentuk didominasi orang yang memang sudah kenal. Mungkin 70% dari following adalah kenalan langsung, sisanya baru akun publik (OG will remember infobdg), public figure (ridwankamil, radityadika, dll), dan tim olahraga favorit. Sementara kini kita dengan mudahnya terpapar konten dari orang yang sama sekali tidak kenal, lewat fitur reels misalnya. Dulu enggak karena cuma bisa upload gambar di profile.

Fitur reels ini yang kini mencekoki saya dengan konten tentang kopi. Entah kenapa, padahal saya minum kopi aja enggak. Baunya pun saya nggak tahan, termasuk bau kopiko permen. Sejauh saya ingat, saya baru minum kopi dua kali seumur hidup, pertama karena dipaksa waktu acara 'pelantikan' malam-malam pas SMA, kedua saat suatu hari bertamu disuguh kopi susu. Booming budaya kopi sejak beberapa tahun terakhir tidak membuat saya ingin ikut ngopi, kalaupun ke kedai kopi ya saya beli es teh. Kalau ke warkop pesennya nutrisari. 

Tapi banyaknya video kopi lama-lama membuat saya kepo juga soal biji satu ini. Bukan sebagai minuman tapi sebagai semacam hobi dan pemuasan curiousity. Karena saya mulai browsing soal kopi dan follow beberapa account, makin banyak lah tu konten kopi. Ada yang sering upload video ASMR saat bikin kopi, demonstrasi alat-alat rumit nan overkill di kofisyop, itung-itungan bisnis kopi, dan pendekar yang menyuarakan pendapatnya soal kopi.



Insight yang menarik menurut saya adalah adanya beberapa wave dalam budaya peminum kopi. Saya nggak nemu di komoditas lain ada yang begini. Setiap generasi peminum kopi ini ada ciri khasnya. Kalau sepaham saya, simpelnya generasi pertama adalah yang minum kopi kemasan dan orientasinya untuk memenuhi kebutuhan, mendapatkan asupan kafein misalnya. Generasi kedua adalah yang minum kopi di jaringan kedai kopi seperti St*rb*cks, Kopi Kenangan, Fore, Famima, dll sebagai lifestyle. Generasi ketiga adalah yang ngopi di kedai kopi artisan dimana minuman kopi diperlakukan sebagai seni atau kerajinan. Lalu generasi keempat adalah yang care dengan bagaimana biji kopi itu ditanam, dipanen, diroasting, dan diproses sebelum akhirnya jadi minuman.


Seorang teman dulu ada yang datang langsung ke perkebunan kopi dan menuliskan pengalamannya jadi generasi keempat peminum kopi ini, sayang sekarang saya cari tulisannya sudah nggak ada. Seru padahal, andai saya bisa minum kopi, saya akan melakukan hal yang sama dengan senang hati.

Salam,
Chandra


gambar 1: dokumentasi pribadi
gambar 2: icocoffee.org

Salah Siapa Jadi Karyawan Swasta


Karena laman resmi sudah publish, berarti saya juga sudah boleh nulis. Jadi tempat kerja saya, PT Bank Commonwealth (PTBC) sedang dalam proses penjualan dari pemilik sebelumnya yaitu Commonwealth Bank of Australia (CBA) kepada OCBC Indonesia. Kesepakatan tercapai tanggal 16 November kemarin, dan sejak hari itu sampai sekarang banyak yang terjadi di dalam, namun tentu saja tidak semua bisa saya tuliskan disini :)


Apa yang akan terjadi nanti saya juga belum tahu. Kalau lihat dari akuisisi-akuisisi yang terjadi di tempat lain ya kemungkinannya ikut ganti seragam, ambil golden handshake (yang buat saya mungkin tidak spektakuler karena masa kerja belum lama), atau pindah duluan. Selama ini cuma dengar-dengar, ternyata kalau mengalami sendiri tidak sesederhana itu ehehe

Ini hal baru lagi buat saya. Baru 6 tahun tapi jalannya sudah kelok-kelok
2017: lulus kuliah lalu masuk kerja pertama di sebuah perusahaan keluarga jalur orang dalam
2018: perusahaan itu tutup dan semua pegawai dirumahkan, seleksi 2 beasiswa gagal dua-duanya, diajak bantu-bantu riset di kampus
2019: pindah ke jakarta karena dapat kerja, akhirnya kerja di korporat walaupun masih pegawai kontrak
2020: jadi kartap, nikah dan pindah dari kosan di kuningan ke pinggiran, merasakan jadi commuter
2021: resign dan pindah ke company lain, mulai merangkak naik secara karir dan paham apa yang dikerjakan (IT), tapi perusahaannya di bidang leasing jadi agak kurang sit well dengan beberapa kerabat
2022: resign dan pindah ke PTBC, proper workplace, manajemen rapi, ilmu banyak, impact dapat
2023: kerja makin ngegrip, lagi RPM tinggi eh malah company-nya diakuisisi

Memang pilihan sendiri sih dulu memulai karir tanpa mengutamakan stabilitas wkwk Semoga saja landingnya mulus. Aamiin aamiin

Berhenti Berlangganan


Hari ini saya meng-cancel subscription Disney+ Hotstar setelah terang bahwa perusahaan ini mendukung zionis. Saya pikir hiburan yang mereka sajikan di platformnya tidak sebanding dengan penderitaan anak-anak di Palestina. Bye Neal Caffrey, Oliver Putnam, Rick Castle, Mike Scofield, etc.


Disney+ sebelumnya adalah tempat saya nonton series crime-drama-comedy seperti Prison Break, White Collar, dan OMITB. Sekarang saya sedang jalan season 2 Castle, tapi saya berhenti hari ini dan tidak memperpanjang subscription saya karena alasan yang sudah jelas. Saat muncul question alasan untuk berhenti berlangganan, saya tulis 'bdnaash campaign'. 

Terus terang lebih gampang ganti merk air mineral daripada berhenti berlangganan streaming digital. Saya terlanjur menemukan genre yang cocok, sesuatu yang selama ini saya nggak tahu sampai akhirnya ketemu Prison Break di Disney+. Let's see apakah saya bisa temukan Castle di platform lain yang tidak termasuk daftar merah.

Di luar dari faktor boikot, ada yang tidak biasa dari Disney+ Indonesia. Entah kenapa biaya langganan jika perpanjang bulan ini naik dari 39 ribu menjadi 107 ribu. Ketika merk kena boikot lain banting harga, mereka malah naik signifikan. Apakah ini last ditch effort sebelum cabut dari Indonesia? (saya sepertinya pernah nemu di twitter soal disney+ berhenti di sini, tapi coba cari lagi gak ketemu, jadi nggak terlalu yakin)

Kenapa nggak pakai bajakan aja? Nggak sreg rasanya pakai barang orang tanpa bayar, kecuali memang dibagi gratis. Sementara saya settle dengan Vidio untuk nonton bola saja.

Blow off Steam


Kalau buka Task Manager di laptop, kita bisa lihat berapa persen memori (RAM) dan prosesor yang terpakai. Semakin banyak aplikasi yang berjalan, semakin tinggi angkanya. Masing-masing aplikasi akan minta alokasi memori dan prosesor yang berbeda. Paint cuma kecil, tapi Photoshop gede. Game solitaire ringan, sedangkan game FIFA terbaru pasti berat. Browser seperti Chrome besarannya tergantung banyaknya tab yang dibuka. 

Dalam kondisi tidak ada aplikasi yang dijalankan pun sebenarnya angkanya sudah ada, karena untuk komputer bisa nyala saja sudah ada service yang berjalan di background. Kalau dalam kondisi idle begini, memori dan prosesor sehatnya dalam kisaran 10-15%.

Dalam kondisi dipakai kerja, baiknya memori berada di kisaran 50-60%, sesekali spike sampai 80% nggak masalah. Tapi kalau terus menerus diatas 80% takutnya kalau buka aplikasi baru atau ada job berat yang dijalankan seperti render atau build, aplikasi bisa crash atau bahkan komputer kena blue screen. Perih kalau kerjaan belum disave.

Nah gini, menurut saya ada kesamaan antara komputer dan manusia. Kalau komputer punya persentase RAM, manusia punya bandwidth. Beban yang dipikul seseorang, baik kelihatan atau tidak, berkontribusi pada naiknya pemakaian bandwidth. Orang yang stress-free, pemakaian bandwidth-nya mungkin di bawah 5%. Sebaliknya orang yang bandwidth-nya tinggi berarti sedang menyandang beban berat. Bisa dari manapun, pekerjaan, keluarga, pergaulan, dll. 

Sama seperti komputer yang idle tadi, manusia untuk sekedar menjalani hidup, tanpa ambisi dan target sekalipun, pasti sudah ada bandwidth yang terpakai. Banyak faktornya, dan dalam hal ini saya merasakan hidup di Jakarta ini paling banyak memakan bandwidth daripada kota lain yang pernah saya diami. Makanya di sini banyak orang gampang emosi. Jakarta ini secara fisik panas dan gerah, polusi udara salah satu yang terparah di dunia (untuk nafas saja susah), lalu lintas macet dan semrawut, tata kota di pinggirannya tidak tertata dengan baik (urban sprawl), dan tekanan sosial/kompetisi yang tinggi.

Bandung juga macet, tapi disana iklimnya enak apalagi di musim hujan. Penduduknya juga ramah dan hangat. For the record, untuk komputer pun suhu yang dingin akan membantu performanya, makanya ruang server selalu dijaga dingin dan kering. Sementara Bantul daerah pedesaan nyaris bebas dari masalah-masalah diatas kecuali dalam hal panas, karena dekat pantai. Kalau saya rasa-rasa, di Jakarta ini mungkin 40an persen bandwidth sudah terpakai untuk nggak ngapa-ngapain. Intinya susah untuk hidup enjoy di ibukota yang begini ini. (take with a grain of salt karena nggak bisa secara akurat diangkakan, beban yang dipikul atau dipendam orang beda-beda dan tak ada yang tahu)

Dengan bandwidth yang sudah terpakai banyak, wajar kalau orang Jakarta sering burn out. Ketika beban tambahan cukup besar, bandwidth bisa habis. Kalau sudah begitu mood jadi jelek, pikiran nggak jernih, not functioning properly lah. Ini cukup jamak sampai bisa diamati dari kebiasaan orang-orangnya dalam hal mengatasi penuhnya pikiran ini.

Di Jakarta, menjadi hal yang normal untuk tidak langsung pulang setelah selesai kerja. Ada yang ke parkiran dulu untuk ngrokok sambil ngobrol, ada yang duduk-duduk diam sambil nonton drama di HP, ada yang masuk warmindo untuk ngopi.Ada yang beli batagor atau tahu gejrot, duduk makan santai tanpa ngobrol tanpa apa-apa. Di masjid-masjid yang ada di jalur orang pulang kerja, setelah maghrib banyak yang leyeh-leyeh dulu nggak langsung lanjut jalan. Selain capek fisik karena commute jauh, juga untuk mendinginkan pikiran. 

Semua itu untuk blow off steam. Setelah seharian beraktivitas bandwidth selalu dalam kondisi tinggi. Laptop saja kalau dipaksa kerja keras akan panas dan berisik. Butuh pendinginan supaya nanti sampai di rumah mood sudah lebih baik dan pikiran sudah lebih enteng. Mending sampai rumah 15 menit lebih lambat tapi sudah enak daripada cepat sampai tapi buka pintu sambil cemberut. Kalau ngekos sendiri sih nggak masalah, cooling down bisa dilakukan di kosan. Tapi kalau ada keluarga di rumah, ya itu tadi yang biasa dilakukan.

Jakartans nggak ramah, Jakartans cuek-cuek. Yaa mungkin disitu ada andil tingginya kadar stres orang-orang. Saat pandemi kemarin dipaksa untuk berubah, rutinitas terdisrupsi, akhirnya banyak juga orang yang memikirkan ulang apakah rutinitas seperti ini sehat. Beberapa orang yang saya kenal mencoba mencari arragement baru yang memungkinkan untuk menurunkan pemakaian bandwidth sambil tetap produktif, termasuk dengan meninggalkan Jakarta bahkan.

Big respect untuk semua pejuang keluarga.

Cheers,
Chandra



Maiden Flight


Waktu masih menekuni pesawat terbang dulu, kalau kita mau membuat sebuah UAV (Unmanned Aerial Vehicle) atau drone, selalu dimulai dengan proses simulasi. Ada software yang namanya Catia, disana kita bisa buat model 3 dimensi dari UAV yang sedang dirancang. Bentang sayapnya berapa, airfoilnya jenis apa, sudut-sudutnya bagaimana, dan lain sebagainya. Sayap, body, ekor, dan bagian lainnya bisa dimodelkan. Kita jadi bisa tahu perkiraan performa aerodinamika dan stability-nya


Kita juga bisa modelkan sampai level materialnya sehingga diperoleh perkiraan berat pesawat. Komponen elektronik juga bisa diatur peletakannya sehingga kita bisa tahu pusat massa ada dimana. Hasil 'ramalan' aerodinamika dan kestabilan ini kemudian dibandingkan dengan referensi, jika ada yang belum sesuai bisa dilakukan iterasi di komputer. Bayangkan kalau barangnya harus dibuat dulu baru dites dan direvisi, akan memakan waktu dan biaya yang buanyak.

Tidak sampai disitu, supaya lebih yakin lagi dengan performanya, model yang telah dibuat tadi diuji dengan CFD (Computational Fluid Dynamics). Dengan CFD kita bisa dapat visualisasi aliran di sekitar pesawat tersebut beserta interaksinya. Kita bisa peroleh data yang cukup akurat tentang perkiraan gaya angkat, gaya hambat, dan gaya/momen lainnya. Dari sana kita bisa turunkan data cruise speed, max speed, endurance, range, maximum take off weight (MTOW), take off speed, dll. Angka-angka ini kemudian dibandingkan dengan referensi dan spesifikasi yang diinginkan. 

Jika hasil simulasi belum sesuai, iterasi diulang dengan mengubah desain. Perlu educated guess disini agar hasil revisinya mengarah ke arah yang benar. Salah satu bantuannya adalah kita bisa mencari pesawat pembanding yang mirip dengan yang mau kita buat, itu bisa dijadikan referensi desain walaupun tentu tidak ditiru 100%. Ketika sudah sesuai, model yang diuji tadi dibuat technical drawingnya untuk kemudian mulai dilakukan manufaktur prototype. Prototype ini tidak langsung diterbangkan, ada pengujian berikutnya dengan wind tunnel.

Wind tunnel atau terowongan angin digunakan untuk menguji aliran udara dan efeknya terhadap prototype yang dibuat. Kalau CFD tadi adalah simulasi komputer, wind tunnel menggunakan benda fisik. Benda uji diletakkan di dalam terowongan angin kemudian dikenai aliran udara dengan kecepatan tertentu. Ada alat ukur yang menunjukkan besaran dan arah gaya yang muncul pada benda saat dialiri udara. Amazed sih waktu dulu pertama kali lihat cara kerjanya. Udara, karena tidak terlihat, sering dianggap powerless, tapi ternyata ketika ada interaksi dengan permukaan benda bisa muncul gaya yang besar. Benda uji tidak disentuh, tapi bisa bergerak. Untuk keperluan visualisasi kadang di wind tunnel dibuat smoke sehingga kita bisa lihat lebih jelas aliran udaranya. Selain wahana terbang, mobil dan motor balap juga lazim menggunakan wind tunnel saat pengembangannya.

Ketika sudah selesai simulasi komputer dan wind tunnel, serta angka yang dihasilkan konsisten, UAV tersebut siap untuk diproduksi versi terbangnya. Setelah jadi, dilakukan penerbangan perdana atau yang biasa disebut maiden flight. Proses yang panjang tadi dilakukan untuk memastikan wahana yang dibuat siap terbang, punya performa yang diinginkan, bisa dikendalikan, dan tidak mudah jatuh.

Itu tadi gambaran proses pengembangan UAV dimana ada privilege untuk melakukan simulasi dan iterasi berulang-ulang. Beda dengan kehidupan ini yang tanpa persiapan tahu-tahu ujian. Setiap keputusan adalah maiden flight. Dalam maiden flight, UAV yang sudah dikaji saja biasa crash, apalagi kita. Jadi kalau keputusan yang  diambil ternyata kurang tepat, wajar. Kalau crash, ambil patahan sayap pesawat kita, simpan dan museumkan, sebagai pengingat bahwa kita pernah di sana. UAV bisa dibangun lagi.


Chandra

Transplantasi Lapangan Tengah


Musim ini Liverpool jadi menyenangkan lagi untuk ditonton. Midfield benar-benar baru, Henderson Milner Fabinho Keita Ox semuanya hengkang, diganti Szoboslai MacAllister Gravenberch Endo yang datang. Keempatnya nggak ada yang flop dan dapat kepercayaan penuh dari Klopp. Transplantasi midfield yang sukses.


Yang paling membedakan Liverpool musim ini dan kemarin adalah predictability. Tahun lalu lapangan tengah selalu diisi Hendo dan Fabinho, plus satu lagi pemain siapapun yang lagi nggak cedera. Masalahnya ini di 2022 bukan 2018-2019 dimana dua pemain itu sedang bagus. Sekarang Klopp punya jauh lebih banyak pilihan. Selain Szobo Mac Graven dan Endo tadi, ada Jones dan Elliot yang makin matang, serta Thiago dan Bajcetic juga sebentar lagi sembuh dari cedera. Total 8 first team players siap ngisi 3 posisi.

Di depan pun sama, dari 3 posisi yang ada hanya 1 yang permanently booked yaitu Mo Salah di kanan. Sementara 2 pos lain bisa diisi oleh Gakpo, Jota, Nunez, dan Diaz, masing-masing dengan tipe yang berbeda. Gakpo juga bisa agak turun menjadi CAM, sementara Elliot, Graven, dan Szobo bisa naik jadi false 9 atau winger. Versatility ini yang membuat Liverpool jadi menyenangkan ditonton karena ada unsur kejutan, ditambah sekarang lebih sering menang.


Di lini belakang sih nggak perlu banyak kejutan karena yang diinginkan stabilitas. Mungkin musim depan saatnya regenerasi saja, Virgil semakin tua, Matip dan Gomez sudah lewat masanya, plus cari suksesor Robertson. Dari beberapa youngster yang dicoba, baru Quansah yang kelihatan punya first team material. Tugas lain tentu saja mencari penerus Mohamed Salah, ini yang berat.

Klopp's Liverpool 2.0 is in motion!


Cheers,
Chandra

Reclaiming Life from Work




Dulu saya pikir cara untuk tetap waras menghadapi tekanan pekerjaan adalah dengan memiliki aktivitas lain di luar itu seperti main game, baca buku, olahraga, atau liburan dalam jumlah yang cukup. Tentu itu bisa membantu, tapi dari buku ini saya menemukan bahwa ada satu hal yang sering terlupa yaitu memiliki hubungan baik dengan pekerjaan itu sendiri. Bukan hanya dengan orang-orangnya, tapi juga dengan waktunya, aktivitasnya, tuntutannya, dan dinamikanya.

Game, olahraga, dan liburan adalah sesuatu yang berada di luar lingkaran pekerjaan. Menenggelamkan diri padanya bisa sejenak menghilangkan stres dengan cara mengambil alih fokus kita menjauh dari pekerjaan. Tapi ketika sudah kembali bekerja, ya bisa buneg lagi. Kita butuh sesuatu in-house yang bisa jadi penolong. Salah satunya adalah memastikan pekerjaan masih dalam kontrol kita, bukan pekerjaan yang mengontrol kita. Sebelumnya saya sempat menulis tentang orang-orang yang konsisten salat tepat waktu di tengah kesibukan. Salah satu faktornya adalah mereka menguasai apa yang mereka lakukan. 

Baca juga: Prioritas

Banyak hal menarik yang bisa diambil dari buku The Good Enough Job. Saya merasa tidak cukup kalau hanya dituangkan dalam dua halaman review di story instagram. Di sampul buku ini tertulis jelas 'Reclaiming Life from Work'. Terdengar seperti ajakan untuk mengurangi bekerja ya. Faktanya kita sudah terlalu banyak menghabiskan energi dan waktu untuk satu hal saja, yaitu pekerjaan. Sampai lupa bahwa kita punya fungsi lain yaitu sebagai anggota keluarga, saudara, tetangga, anggota komunitas, umat beragama, dll. Jadi sedikit menarik diri dari pekerjaan dan membagi fokus dengan lebih berimbang akan menjadikan kita better human, lalu pada gilirannya better employee.

Ditambah lagi, menggantungkan diri pada satu hal saja bukanlah hal yang bijak. Terlalu fokus pada pekerjaan menjadikan kita adalah pekerjaan tersebut. Takutnya kalau terjadi sesuatu pada satu hal itu kita kehilangan pegangan dan jatuh. Itulah kenapa di beberapa tempat orang yang akan pensiun diberikan pelatihan keterampilan. Harapannya supaya mereka tidak kosong ketika pensiun nanti. Bukan cuma masalah duit atau waktunya, tapi sampai di level kepercayaan diri dan anggapan terhadap identitas dirinya.

'Bekerja' di buku ini bisa diartikan secara luas ya, bukan hanya karyawan/buruh. Presiden juga bekerja. Petani dan pedagang juga bekerja walaupun mereka sendiri juga bosnya jika yang digarap sawah dan toko sendiri. Founder start-up, either dibiayai SoftBank, BlackRock, atau ayah sendiri, juga bekerja. Profesi yang diwawancara oleh penulis ranging dari pemuka agama, jurnalis yang menapaki karir dari majalah kampus hingga media internasional, investmen banker yang menjadi salah satu managing director termuda, juru masak yang kemudian mendirikan perusahaan sendiri dan menjadi CEO, software engineer google yang tidur makan mandi di kantor, sampai anak agency. Penulis sendiri, Simone Stolzoff adalah ex-design lead di IDEO. 


Seperti yang saya tulis di instagram, para ambis itu pada satu titik kehilangan kenikmatan dari apa yang dikerjakan. Sebagian dari mereka memutuskan resign dan mencari 'kehidupan' yang lain. Ini tidak semudah kelihatannya, karena selama bertahun-tahun mereka telah menempelkan identitasnya pada pekerjaan yang dilakoninya. Yang tadinya koki, setelah resign tidak tahu lagi siapa dirinya. Sebagian lagi membuat batasan baru antara dirinya dan pekerjaannya. Si software engineer tidak mau lagi menyebut dirinya Googler, menggantinya dengan 'orang yang kerja di Google'. Dia juga memutuskan sewa apartemen.

Setiap bab dalam buku ini mempunyai satu sosok sentral yang diceritakan dan menjawab satu mitos dalam hubungan manusia dan pekerjaannya.

Bab 1: For What It's Worth - on the myth that we are what we do
Bab 2: The Religion of Workism - on the myth that your job can be your God
Bab 3: The Love of Labor - on the myth of dream jobs
Bab 4: Lose Yourself - on the myth that your work is your worth
Bab 5: Working Relationship - on the myth that workplace can be family
Bab 6: Off the Clock - on the myth that working more hours always leads to better work
Bab 7: Work Hard, Go Home - on the myth of cushy office perks
Bab 8: The Status Game - on the myth that status equals success
Bab 9: A World with Less Work - on the myth of personal boundaries

Menarik bukan? Selesai baca buku ini rasanya pengen fafifuwasweswos di reply twit hrdbacot wkwk.

Banyak hal baru yang saya tahu dari buku ini, misalnya istilah Integrator dan Segmentor dalam mengkategorikan pekerja. Integrator adalah yang mencampur waktu bekerja dengan kegiatan pribadinya. Pagi buka laptop dulu, lalu ditinggal antar anak sekolah, balik kerja lagi, siangnya benerin kipas angin, sorenya standby sambil nyiramin halaman, malam hari waktu anak istri sudah tidur kalau masih ada kerjaan buka laptop lagi. Sementara segmentor tegas soal batas, bekerja dari jam 9 sampai setenah 6 sore tanpa aktivitas sambilan, tapi di luar itu tidak menyentuh kerjaan lagi. Dua tipe ini perlu cara handling yang berbeda, kamu yang mana?

Banyak insight yang saya dapat dari buku ini yang saya rasa akan berguna dalam pekerjaan saya (atau untuk wawancara kerja berikutnya hehe). Seperti resep kenyamanan dalam bekerja ternyata adalah terlindunginya waktu luang pekerja. Ini bisa diwujudkan dengan andil dari government (regulasi), perusahaan (budaya), dan diri sendiri (keputusan personal). Jika ingin lompat ke pekerjaan baru, ukur apakah waktu luangmu lebih terlindungi atau tidak. Termasuk jika ingin ubah haluan untuk mencoba entrepreneur atau freelancing.

Definitely kandidat buku terbaik tahun ini. Buat yang saat ini sedang lelah lahir batin setiap selesai bekerja, tratapan kalau dengan notif Teams, Slack, atau WA, atau terjebak dalam hustle culture berlebihan cocok untuk baca ini. Buku ini juga meng-acknowledge bahwa lebih cocok untuk dibaca sebagian orang daripada sebagian yang lain. Penulis menjelaskan bahwa latar yang diambil adalah korporat Amerika dengan keyakinan bahwa kondisi yang sama banyak terjadi terutama di kota-kota besar. Jadi untuk budak korporat Jkt, Sby, Smg, Bdg, Jog, dll sih termasuk must read.

Terakhir, buku ini mudah untuk dibaca. Halaman pertama dibuka dengan kisah obrolan nelayan dan businessman yang sudah diceritakan ulang dimana-mana. Baca cerita itu membuat langsung tahu apa sih yang mau disampaikan buku ini, dengan caranya yang ringan.



Thanks,
Chandra









Manusia Manusiawi


Manusia Manusiawi adalah salah satu nomor yang dibawakan oleh Kotak pada acara SATFFest yang diselenggarakan Kemenag untuk memeringati Maulid Nabi Muhammad SAW tahun ini. Saya pakai istilah nomor karena ini yang biasa dipakai Cak Nun untuk menyebut lagu atau tembang yang dibawakan Kiai Kanjeng di antara diskusi dan talkshow-nya. 

Kenapa saya samakan SATFFest dengan KK, kalau saya lihat Habib Husein dan timnya mengonsep acara ini berkiblat pada Cak Nun dan komunitas Maiyah. Habib, Bhante Dhira, Yusril, dan Kotak ada di atas panggung secara bersamaan, layaknya panggung maiyah yang selalu penuh. Mereka berganti-gantian tampil antara ceramah, jokes, dan musik. Semua saling berkesinambungan dari awal sampai akhir, tidak seperti bintang tamu yang diundang secara terpisah dan punya slot pentas sendiri-sendiri.

Saya akan kembali ke sana, tapi sebelumnya saya mau mengapresiasi penyelenggaraan acara satu ini. Saya jarang terlibat dalam acara-acara plat merah. Jadi saya tidak tahu seperti apa kebiasaannya sekarang. Tapi menurut saya acara ini dikemas dengan cerdas dengan menggabungkan acara resmi perayaan maulid nabi dan SATFFest (Sidiq Amanah Tabligh Fatanah Festival) yang ceria nan segar. Kalau acara maulid nabi hanya berisi sambutan pejabat dan ceramah saja, jangankan manyarakat umum, tamu yang diundang pun pasti ada yang enggan datang, apalagi di hari libur long weekend. Tapi ini sudah acaranya di Balai Sarbini, menghadirkan public figure yang sedang naik daun, dipromosikan secara proper pula. Kalau saya lihat 70% yang hadir masyarakat umum seperti saya.

Acara resminya tetap khidmat. Setelah menyanyikan Indonesia Raya ada pertunjukan bedug oleh siswa siswi MAN 1 Pandeglang. Disusul pembacaan ayat Al-Quran dari seorang mantan juara MTQ Internasional. Selanjutnya hikmah maulid disampaikan oleh KH Zawawi Imron, yang juga seorang budayawan dan penulis sehingga ceramah yang disampaikan disusun dengan kata-kata yang indah. Beliau menutup dengan sebuah puisi pendek judulnya Telur

Dubur ayam yang mengeluarkan telur
Lebih mulia daripada mulut yang hanya menjanjikan telur.


Terakhir sambutan dari Bapak Menteri Agama. For the record beliau hadir tepat waktu dan ikut sampai acara selesai lebih dari jam 22.00, sebelumnya saya pikir beliau beserta jajaran hanya ikut acara inti saja sampai pukul 20.00.

Setelah selesai sambutan dari Pak Menteri, MC seremoni menutup acara dan undur diri, lalu memberikan panggung pada Yusril yang langsung mengubah acara resmi jadi hahahihi. 


Yusril ini lebih ke opener daripada sekedar pembawa acara. Dia muncul langsung dengan punchline orang Muhamadiyah tidak biasa merayakan maulid. Sejak diambil alih Yusril acara tidak lagi dibroadcast oleh TVRI. Dia juga mengeluarkan himbauan ala pertunjukan komedi tunggal seperti tidak boleh merekam dll, kalau foto masih boleh. Sudah seperti nonton standup, bedanya ini gratis karena dibiayai negara ehehe.

Habib Husein dan Bhante Dhira naik panggung disambut tepuk tangan meriah penonton. Karena off air, tektokan Habib + Bhante + Yusril bisa sampai ke pinggir jurang. Banyak jokes yang tidak akan bisa ditemukan di podcast manapun. Tapi di sisi lain ketika bicara tentang ilmu ya tetap mendalam dan serius. 

Ketika menjawab tentang kenapa Habib mengkonsep acara seperti ini, beliau menjelaskan bahwa ini untuk memberikan pengalaman maulid yang berbeda bagi teman-teman yang biasa bermaulid, sekaligus untuk teman-teman non muslim bisa tahu apa itu maulid. Sangat berbeda memang dengan maulid-maulid biasanya (walaupun saya selama ini cenderung ke golongan Yusril yang jarang merayakan maulid). Berapa banyak sih orang yang bisa kepikiran mendatangkan seorang bhikku untuk peringatan maulid nabi? 

Kotak yang notabene sebuah band pun sampai ikut talkshow, dan bukan hanya Tantri saja tapi seluruh personelnya. Kotak naik dengan membawakan lagu Tuhan dan Tombo Ati, sejak itu Tantri, Cella, dan Chua tidak turun dari panggung. Lagu berikutnya Manusia Manusiawi menandai jeda sebelum QnA. Seketika audience terhenyak ketika terdengar suara Emha Ainun Najib di atas interlude gitar akustik. Fotonya terpampang di depan bersama beberapa baris puisinya. Kotak menyanyikan satu lagu lagi, kemudian di penghujung acara mengiringi salawat yang dikumandangkan semua yang ada di Balai Sarbini.

bisakah kita renungkan sebentar kata-kata 
Cak Nun, setelah segala perjalanan yang kita lalui, apakah kita masih setia menjadi manusia?

Acara selesai lebih dari jam 10 malam, standing applause untuk para pengisi acara. Saya yang belum makan dari siang sampai lupa lapar. Saya keluar Balai Sarbini dengan perasaan yang bercampur antara euforia setelah nonton hiburan dan sejuk setelah selesai pengajian. Pada umumnya datang ke acara agama itu tidak ringan, apalagi untuk anak muda. Tapi kalau acaranya seberkualitas ini, suruh bayar pun orang tetap akan mau. 


Acara seperti ini menyegarkan, tapi ya tidak untuk diadakan tiap pekan. Seperti es jeruk enak tapi kalau kebanyakan bisa kena gula. Ngaji konvensional di masjid-masjid dan majelis-majelis tetap perlu. Event seperti SATFFest ini tidak untuk menggantikan yang begitu. Tapi saya punya keyakinan dunia akan jadi sedikit lebih baik jika semakin banyak orang datang di acara seperti ini.

Manusia manusiawi
Jatuh dan bangkit lagi
Maafkanlah maafkan diri
Kau tak serendah ini


Terimakasih sudah membaca,
Chandra

Champion


Nonton bola jam 3 pagi walaupun nanti paginya sekolah/kerja. Sunyi, gelap, dan minim distraksi pada dini hari.

Match-up yang nggak biasa mempertemukan tim dari dua liga yang berbeda, menghasilkan permainan dan hasil yang kadang random nggak terduga.

Fase knock-out yang menghadirkan tensi serupa Euro dan Piala Dunia. Final yang legendary tentu salah satunya Istanbul 2005.

Tayang di TV lokal tanpa perlu buka aplikasi digital dan memusingkan kualitas sinyal serta kuota. Menghadirkan pengalaman menonton yang nggak berubah sejak masih SD.

Visual yang tidak banyak berubah sejak dulu, simpel dan berkelas.Shot close-up di menit 80+ menunjukkan ekspresi jumawa dari yang unggul dan putus asa dari yang kalah.

Anthem yang ikonik. Die Meister, Die Besten, Les grandes equipes, The Champions.

Champion, satu dari sedikit hal yang tidak berubah sejak dulu hingga sekarang.

Thanks,
Chandra
*ditulis sambil nonton emyu kena humbling dan pemain bayern throwing shots at Onana seperti Bale ke Karius dulu, kiper dianggap nggak ada wkwk

Prioritas


Never underestimate orang yang terbiasa meninggalkan kesibukannya untuk menjalankan ibadah. Setidaknya dalam pandangan saya, kalau menyaksikan ada orang yang begini biasanya hidupnya baik, entah sudah atau nanti. Saya pakai 'baik' supaya spektrumnya luas karena pengalaman orang beda-beda. Ya walaupun wang-sinawang, tapi orang yang begini kelihatan banyak beruntungnya. 

Bisa dirasionalisasi juga sih, orang yang bisa meninggalkan kesibukannya untuk salat tepat waktu berarti dia punya kuasa atas apa yang dia kerjakan. Karena kalau masih tergopoh-gopoh dalam urusannya akan cenderung waswas meninggalkan pekerjaan dan mencari pembenaran 'daripada nanti pas salat nggak fokus'. Tentu ini dengan acknowledge bahwa beberapa pekerjaan memang tidak bisa ditinggalkan, misal sopir bis yang mendengar adzan di tengah kemacetan.

Disiplin melakukan itu juga menjadi tanda seseorang punya otot mental yang kuat dalam menentukan prioritas. Kemampuan ini sadar nggak sadar akan terpakai di waktu waktu yang lain. Sehingga keputusan-keputusan yang diambil banyak yang akurat. Dalam sekian waktu, keputusan yang baik membukit menjadi nasib yang baik. Ketiga, orang yang konsisten ibadah tepat waktu bisa jadi juga konsisten bangun lebih pagi dari yang lain. Jadi simply punya waktu 'hidup' dan berkarya lebih banyak. Dia juga terbiasa 'make time' untuk sesuatu yang positif, membuat virtually waktunya lebih banyak lagi. Melipat waktu kalau kata dr. Hasto, 24 jam-nya sama tapi isinya lebih padat.

Waktu kerja di Lembang dulu, kalau mau ke masjid harus naik bukit karena lokasi kantor turun kalau dari jalan raya. Lumayan tinggi dan curam, sampai kantor menyediakan parkiran di atas pinggir jalan bagi yang nggak berani bawa kendaraan turun (ah susah dijelaskan, lebih gampang kalau saya ajak tur kesana). Naik turun jalan kaki capek, tapi ada 4-5 orang yang konsisten setiap salat dzuhur dan ashar selalu jalan naik. Salut sekali sama mereka, sementara saya dan banyak lainnya hanya mendaki seminggu sekali saat salat jumat. Setelah pindah kerja jadi jarang ketemu mereka. Tapi selama kerja bareng ya mereka rekan yang menyenangkan, positif, ulate padhang.

Ada juga teman saat kuliah yang tinggal di pondok. Dia sering ada kegiatan pondok setiap ba'da subuh serta dari setelah maghrib sampai malam. Kalau pakai kalkulasi dunia saja, ini disadvantage. Karena waktu untuk aktivitas yang berhubungan dengan kuliah berkurang cukup banyak. Beberapa kali memang tugas tidak terhandle sebaik mahasiswa lain. Tapi in the end kuliahnya lancar, lulus dengan mulus, dan punya 'nasib' yang baik. Jadi bukannya ada mukjizat kalau hari ini ibadah baik otomatis besok pagi nilai jadi tinggi, tapi ada prosesnya.

Ada beberapa contoh lain orang yang saya temui seperti ini. Walaupun kerjaan sedang banyak dan project lagi kenceng tapi 10 menit sebelum adzan sudah meninggalkan mejanya. Bisa jadi ada chat yang diabaikan atau tiket kerjaan yang tertunda, tapi pada akhirnya yang dikerjakan selesai juga. Dunno ya, kepercayaan vertikal ini urusan masing-masing pribadi. Tapi kalau buat saya hikmahnya adalah bahwa kalkulasi untung rugi tidak sesederhana itu.


Thanks,
Chandra

Membedakan Oli Asli vs Palsu


Oli buat mesin kendaraan itu seperti darah buat manusia. Dia bersirkulasi untuk memungkinkan proses yang terjadi dalam mesin berlangsung mulus. Ada beberapa hal yang wajib diperhatikan agar oli dapat menjalankan fungsinya dengan baik, yaitu:

1. Menggunakan oli yang sesuai dengan spesifikasi kendaraan, terutama terkait standar keenceran dan API
2. Mengganti oli secara rutin, untuk motor disarankan tiap 3000 km, dan untuk mobil 5000 km, atau sesuai saran pabrikan
3. Menggunakan oli asli

Untuk yang ke-3 ini krusial. Karena kalau kena oli palsu mesin bisa amsyong. Ada beberapa tips untuk menghindari ini, seperti beli di official store atau ganti oli di bengkel resmi/besar. Tapi sebenarnya pabrikan oli sudah membuat fitur pengaman dari pemalsuan pada produk olinya itu sendiri. Fitur yang saya agak tahu adalah dari Shell. Saya coba sedikit jelaskan, tapi karena susah kalau via tulisan, saya buat dalam bentuk video dan saya taruh di youtube.

Check this out: ke YouTube

Waktu



Saya dapat insight menarik dari buku yang kemarin saya baca. Begini, mudah bagi kita untuk menangkap bahwa sebuah benda akan mewujud jika punya panjang, lebar, dan tinggi, atau dengan kata lain tiga dimensi. Lemari, gedung, galon air mineral, handphone, itu semuanya punya panjang, lebar, tinggi. Papan tulis dan kertas itu juga ada karena punya tebal, walaupun kecil jika dibandingkan panjang dan lebarnya. Unsur satu dimensi (garis) dan dua dimensi (bangun datar) itu imajiner, tidak ada bendanya di dunia nyata.

Tapi apakah panjang, lebar, tinggi (atau tebal) ini benar cukup untuk membuat sesuatu itu ada? Bagaimana dengan benda yang instantaneous, yaitu benda yang hanya sekejap banget adanya. Sangat sekejap hingga t (waktu) mendekati nol. Ya nggak jadi juga itu benda. Jadi untuk sesuatu benar-benar ada dia tidak hanya butuh panjang, lebar, dan tinggi, dia juga harus punya durasi. Durasi adalah bentuk terbatas dari keabadian, punya awal dan akhir.

Itulah mengapa waktu sering disebut sebagai dimensi ke-4. Dengan menganggap waktu adalah salah satu dimensi seperti halnya panjang, maka mengatakan ada kemacetan dari kilometer 68 sampai 70 sama saja dengan bilang adik sekolah dari jam 7 sampai jam 10. Bergerak 1 meter ke depan satu nafas dengan menua 1 jam. Bedanya waktu tidak bisa mundur, posisi bisa. Semua akan indah pada waktunya setara dengan udaranya pasti sejuk kalau kita sudah sampai di gunung sana. Datang di waktu yang tepat terdengar puitis, tapi sebenarnya sama saja dengan tiba di tempat yang dituju.

Hdyt?


Chandra

Sate Semoga Berkah


Ada satu warung sate yang stands-out di Jakarta. Yaa oke lokasi sebenarnya di Ciputat, tepatnya ada di depan RS Hermina. Menurut saya ini sate paling enak yang pernah saya makan, pun dibandingkan dengan yang di Jogja dan Bandung. Namanya Sate Bang Acong, asli Madura.

Saya tahu tempat ini dari salah satu video YouTube-nya Habib Husein Ja'far. Infonya beliau langganan warung Bang Acong sejak jaman kuliah, lokasinya memang dekat dengan UIN Jakarta. Warungnya tidak terlalu besar, hanya ada beberapa meja kursi di dalamnya. Di dinding terpampang beberapa foto Kyai, sepertinya Bang Acong ini sangat menjunjung tinggi para ulama dan habib. Gerobaknya penuh dan bakarannya tidak pernah nganggur, ketahuan banyak pelanggannya.


Meskipun rame dan enak, harganya masih standar. Satu porsi sate ayam plus satu porsi sate kambing dihargai 60 ribu sudah termasuk lontongnya. Itu juga masih bonus kuah sop yang hangat. Saya baru saja beli dan tidak bisa tidak sangat ingin menulis ini sebagai penghargaan. Kalau google review bisa kasih bintang lebih dari 5 akan saya kasih lebih. Sate Bang Acong masuk tier teratas kuliner saya bersama Mieayam Om Karman dan fire chicken Richeese Factory.

Pastikan nonton ini:

Thanks,
Chandra

Pertemuan Pertama


Foto ini saya ambil tadi pagi saat kesasar sampai Kidzania PP, padahal niatnya ke Ritz-Carlton untuk sebuah seminar. Samar-samar saya masih ingat lift dan lorong menuju Kidzania ini walaupun sudah lama sekali.
Saat SMP dulu saya sempat 'sekolah' sebentar di salah satu sekolah swasta di Jakarta Selatan. Tidak benar-benar sekolah karena setengah agendanya jalan-jalan, salah satunya ya ke Kidzania ini. Tapi masih cukup mengalami karena ikut pelajaran, masuk jam 7 pagi bersama murid lainnya, bawa bekal dari rumah, dan karena host saya tinggal di Bekasi, merasakan berangkat sekolah sehabis subuh dan pulang saat malam. Luar biasa.

Hari pertama saya terlalu lambat siap-siap, padahal itu masih jam 5.15. Akibatnya kami harus naik taksi agar tidak telat sampai sekolah. Normalnya partner saya berangkat paling lambat jam 5.00 lalu naik bus. Hari berikutnya saya sudah tidak telat dan bisa naik bus. Ini bukan bus sekolah ya, melainkan bus umum yang dinaiki bersama para pekerja. Itu pertama kalinya saya merasakan commute di Jakarta. Malam harinya badan dan kaki luar biasa lelah karena setelah turun bus kami masih harus jalan kaki. Sebelum dewasa saya sudah menyimpulkan commute di Jakarta butuh fisik yang kuat. Yah kecuali kamu punya cukup privilege untuk tinggal di Residence 8.

Ada banyak yang memorable dari masa-masa pertukaran pelajar saat itu. Suatu hari saat pulang dari sekolah partner saya masuk ke minimarket untuk beli nori. Ternyata dia berniat membuat sushi roll. Karena itu kali pertama saya berhadapan dengan sushi, saya buka rollnya lalu makan seperti makan nasi biasa wkwk serius bingung saat itu. Host (orang tua partner) saya ini kerja di Hewlett-Packard, beliau memberi saya flashdisk HP custom yang sangat bagus kalau dibandingkan dengan Kingston 2 giga saya.

Banyak hal untuk pertama kalinya saya alami. Pertama kali naik TransJakarta, saat itu warnanya masih oren. Pertama kali nonton bioskop, 15 tahun kemudian baru saya tahu yang saya kunjungi dulu itu Djakarta Theater. Pertama kali naik pesawat, pertama kali ke Dufan, pertama kali minum 7up, dan lain sebagainya. Sebelum perpisahan ada agenda dinner beach view di Ancol, ternyata disponsori salah satu host yang pejabat. 

That's my first serious encounter dengan Jakarta. You can expect banyak hal yang kami rasakan sebagai murid smp dari Bantul yang dikumpulkan bersama anak-anak Alpust.

Thanks,
Chandra

Danau Abah Suradita


Saya mau mereview sebuah restoran taman yang weekend kemarin saya kunjungi. Sebenarnya tempat ini sudah cukup banyak direview di instagram, tapi karena tidak pandai membuat reels, saya akan buat dalam bentuk tulisan.

Ini dia Danau Abah Suradita, lokasinya di Cisauk, Kab Tangerang. Meski begitu, marketing online sering dengan gagah berani menyebutnya 'di BSD'. Yang menarik dari resto ini adalah selain tempat makan dia juga menyuguhkan ruang terbuka hijau dan danau, sehingga dianggap oase bagi masyarakat kota.

Awalnya saya menemukan tempat ini saat sedang mencari tempat makan yang cocok untuk keluarga. Pasalnya, bapak ibuk saya akan datang ke Jakarta dan mereka jauh lebih suka nuansa tradisional dan alam daripada mall dan restoran tengah kota. Review google untuk Danau Abah Suradita tidaklah cemerlang, hanya 3.8, tapi karena ada teman yang sudah kesana dan menurutnya masuk kriteria, saya memutuskan bolehlah dicoba. Langsung saja, berikut review-nya.

Scenery: 8
Danau Abah Suradita sebenarnya 50 persen leisure park dan 50 persen restoran. Jadi seberapa bagus pemandangannya juga jadi poin penting untuk dilihat. Terus terang tempatnya di atas ekspektasi saya. Saya tidak menyangka ada taman dan danau serapi ini di Cisauk. Kalau dibandingkan dengan destinasi wisata alam di Jogja atau Bali jelas kalah, tapi untuk di sekitar Jakarta ini pretty good. Kekurangannya adalah beberapa oknum pengunjung yang buang sampah di pinggir danau dan tidak dibersihkan, sangat merusak keindahan. Cisauk juga daerah dengan kualitas udara yang buruk saat ini, dan untuk sebuah destinasi outdoor ini mengganggu.

Makanan: 9
Surprisingly untuk standar 'makan di luar' sajian di Danau Abah enak. Menu andalannya ikan bakar dalam bambu yang berupa ikan patin dibungkus daun pisang bersama bumbu-bumbu lalu dimasukkan selongsong bambu dan dibakar. Di samping itu pilihan lauk lainnya banyak dengan berbagai sambal dan lalapan yang meriah. Cara pesannya dengan ambil lauk yang diinginkan kemudian akan digoreng atau dibakar oleh tim masaknya sesuai permintaan. Ada free sayur asem juga yang cukup segar. Kenyang dan no complaint.


Service: 8
Pelayanan adalah salah satu hal yang direview negatif oleh pengunjung sebelumnya. Banyak yang menulis bahwa pelayanannya lama. Saya menduga konsumen yang mengkritik ini datang di jam-jam ramai sehingga makanan lama disajikan. Tempatnya memang luas sehingga makan waktu untuk berjalan mengantar pesanan. Belum lagi sistem mencatat pesanannya dengan nama sehingga pelayannya harus manggil-manggil, dan di lokasi outdoor seluas itu cara ini bukanlah yang terbaik. Tapi untuk saya kemarin, karena datang di saat lengang, pelayanan OK dan nggak lama.

Akses & Parkir: 7.5
Untuk parkir tidak ada masalah, tempatnya luas dan gampang keluar masuk. Tapi akses jalan lain cerita. Walaupun bisa keluar tol BSD, tapi jalan dari pintu tol sampai komplek (danaunya ada di dalam komplek btw) semrawut dan macet karena sedang dibangun fly over stasiun Cisauk. Lalu setelah masuk komplek ada 2 pilihan jalan, yang satu via jalan utama komplek yang gronjal-gronjal, lalu ada jalan kedua yang meskipun lebih mulus tapi sempit.

Fasilitas: 8
Sore-sore lesehan di pinggir danau pakai beanbag sepertinya enak. Sayang beanbag-nya sudah kotor yang membuat mau duduk pun males. Jadi kami kemarin lebih pilih duduk di gazebo yang lebih terawat dan bersih. Untuk toilet dan mushola sangat layak, bahkan dari mushola bisa langsung lihat danau. Balik lagi karena tidak sedang ramai jadi fasilitas umum bisa lebih dinikmati.


Kesimpulannya, makan di Danau Abah Suradita menghadirkan pengalaman yang menyenangkan. Kalau mencari alternatif dolan non-mall di sekitar Jakarta ini bisa jadi salah satu pilihan terbaik. Tempatnya luas, cocok untuk keluarga atau kalau mau bikin acara.


Thanks,
Chandra

Salam Panah Hijau


Meskipun pergerakan Liverpool di bursa transfer musim ini seperti siput, tapi saya tetap bersemangat menyambut musim baru liga Inggris yang akan dimulai malam nanti, thanks to FPL. Saya tahu FPL sejak SMA dan sudah main sejak kuliah, itu membuat saya lebih serius mengikuti pertandingan dan info terkait liga Inggris. Kalau bukan karena FPL, untuk alasan apa lagi saya nonton pertandingan Brighton vs Crystal Palace.

Hampir sama seperti Wordle, FPL ini game yang egaliter. Semua orang punya start yang sama, tidak ada pay to win, semua orang bisa membuat liga sendiri untuk berkompetisi dalam komunitasnya, semua informasi sifatnya publik, dan tidak ada batasan ini itu. Walaupun untuk saya sendiri saya punya prinsip untuk tidak memakai pemain emyu dan everton. Ini latest draft saya, 18 jam menjelang deadline gameweek pertama musim 2023/2024


Salah, Haaland, dan Saka wajib ada. Untuk defend saya trust issue dengan bek Liverpool karena kebobolan mulu, tapi saya masukkan Szobo sebagai pembeda. Saya lumayan percaya sama Villa-nya Emery jadi saya mau Watkins dan Emi ada di tim saya. Estu dan Mitoma tahun lalu sangat produktif, harganya juga murah. Stones pilihan standar karena defend City yang you know lah, sementara untuk Eze saya hanya coba ikut-ikutan kata orang-orang twitter.

Seminggu terakhir saya membombardir beberapa grup untuk mengumumkan liga FPL dan meminta teman-teman untuk join. Sudah beberapa tahun berjalan saya ngadmin liga FPL grup angkatan kuliah, angkatan SMA, dan grup kosan di Bandung. Memang di FPL kalau kita tidak ganti akun, liga yang pernah kita buat bisa auto renew. Yang baru, tahun ini saya join liga FPL IAITB, thanks to mas Jati yang ngasih tahu bahwa liga ini ada. Beberapa account yang saya ikuti di twitter juga biasanya create liga FPL. Saya sudah join punya panditfootball dan Jiroluger, tapi entah kenapa hrdbacot dan infomieayamyk kok belum kelihatan hilalnya.

Selain memilih pemain yang akan diturunkan, penentuan nama tim juga jadi sesuatu yang layak dipikirkan. Namanya kalau bisa unik, tapi tidak norak atau terlalu nerd. Tim saya musim ini awalnya mau saya namai Fire Chicken, terpikir dari menu favorit saya di Richeese Factory, tapi saya sudah lama nggak makan. Sempat saya ubah Administrator, tapi kok kaya sok berkuasa. Lalu saya ganti Belanesia, tapi agak kurang. Akhirnya sekarang saya namai A Pit Stop, entah kenapa saya terpikir ini, mungkin karena saya suka F1 atau habis baca entah dimana.


Chandra

TVRI Sport



Saya akhirnya menyerah dan memutuskan beli Set Top Box agar TV analog saya bisa dipakai lagi. Sebelumnya saya menolak untuk pasang STB karena merasa pemerintah membuat kebijakan yang tidak perlu dengan mematikan jaringan TV analog dan beralih digital only. Lagipula sebelumnya saya jarang nonton TV, tidak banyak tayangan yang saya konsumsi. Jadi ya saya pikir, buat apa STB?

Tapi sekarang saya tarik kata-kata saya. Ternyata setelah pasang STB saya jadi sering menyalakan TV. Selain gambarnya bersih dan HD, dengan masuk ke jaringan digital saya jadi punya dua channel favorit yang dengan senang hati saya tonton yaitu TVRI Sport dan MOJI TV HD. Dua kanal ini tidak ada di jaringan analog, atau setidaknya tidak tertangkap di area saya. Sebagai penggemar tayangan olahraga, saya juggling antara dua kanal ini. Mostly tayangan olahraganya internasional, cabang olahraganya beragam, dan kualitas brodcastingnya bagus.

TVRI Sport punya sajian yang berbeda-beda tiap minggunya tergantung event apa yang sedang berjalan. Kemarin mereka menyiarkan LIVE World Cup of Pool dimana Filipina keluar sebagai juara. Kemudian ada seri golf JLPGA, US Border Patrol Bull Riding, liga sepak takraw Malaysia (STL), IFSC Climbing World Cup, Extreme E, World Surfing League, Mobile Legend Professional, bahkan NBA Play-offs. Tadi malam TVRI Sport menayangkan Fistball, untuk pertama kalinya saya nonton olahraga gabungan dari tenis, voli, dan sepakbola ini. Kalau pagi sampai sore sekarang sedang ada World Aquatics 2023 di Fukuoka dengan bermacam cabor airnya.

MOJI TV satu grup dengan Vidio, sehingga tayangan olahraga yang tayang di Vidio bisa jadi juga ada di MOJI. Mereka beli hak tayang SEA V League, turnamen voli Asia Tenggara yang tadi malam dimenangkan oleh Indonesia untuk cabang Putra. Turnamen pra musim Premier League Series yang diselenggarakan di Amerika juga mereka tayangkan. Agak beda ya jam 6 pagi nonton tim Inggris main. Kemarin Brighton vs Chelsea, sekarang saat tulisan ini dibuat saya sambil nonton Newcastle vs Aston Villa, lumayan untuk scouting pemain FPL.

Dari dua itu saya prefer TVRI Sport karena olahraganya lebih banyak, jarang bisa ditonton di platform lain, dan tanpa iklan. Kalau di satu waktu tayangan MOJI selevel lebih baik baru saya switch. Selagi dua stasiun TV ini masih menyuplai tayangan olahraga berkualitas, rasanya TV berbayar belum perlu-perlu amat. Semoga ini bukan honeymoon period yang nanti kalau sudah berakhir mereka berhenti membeli lisensi tayangan-tayangan ini. 

Thanks,
Chandra

Waspada Penipuan Segitiga



Beberapa kali di timeline saya muncul berita atau obrolan tentang modus penipuan jual beli mobil yang satu ini. Modus ini jadi perhatian karena untuk bisa pull off penipuan model ini pelakunya harus cukup lihai. Penipu jalanan kelas teri saya rasa belum tentu bisa. Untuk bisa menjalankannya perlu kemampuan komunikasi dan timing yang pas. Semoga kita tidak jadi korban, dan dengan memahami cara kerja mereka semoga bisa sedikit membantu. Berikut saya tuliskan step by step modus penipuan jual beli mobil yang sedang marak ini.

Step 1: Pelaku, sebut saja Barong, mencari iklan mobil bekas di internet. Selanjutnya dia akan mencuri iklan itu dengan cara menyalin detail produknya, mengambil fotonya, lalu diupload ulang olehnya. Untuk menarik calon korban, dia akan pasang harga yang jauh lebih murah. Ambil contoh misalnya mobil Avanza yang oleh pemilik asli bernama Bara diiklankan 180 juta, dia repost dengan harga 120 juta. Mungkin juga Barong sudah minta foto STNK dan BPKB untuk membuat tawarannya tampak lebih legit.

Step 2: Calon korban, sebut saja Badu, melihat iklan itu dan tertarik karena harganya murah. Badu menghubungi Barong untuk janjian survey, jadilah mereka janjian hari Minggu jam 10 pagi. Untuk tempatnya, Barong memberikan alamat Bara karena memang mobilnya ada di Bara, bukan di Barong. Barong juga bilang semacam "nanti lihat mobilnya dibantu adik saya ya, tapi jangan ngomongin harga sama dia soalnya dia nggak tahu, kalau sudah cocok dananya ditransfer saja ke rek 01234xxxx a.n. Barong, kalau sudah nanti silakan mobilnya dibawa".

Step 3: Barong akan ngomong ke Bara bahwa ada orang saya mau survey mobilnya pada hari Minggu jam 10 pagi. Kepada Bara, Barong bilang semacam "nanti orang saya akan survey ya, tapi dia ngecek kondisi mobilnya aja, masalah harga dan dana nanti transfernya dari saya".

Step 4 (*hari Minggu jam 10 pagi*): Badu datang ke rumah Bara untuk cek mobil. Bara mengira yang datang adalah orang suruhan yang hanya akan cek kondisi, Badu mengira yang menemuinya adalah adik penjual. Kedua sisi berpikir bahwa yang penting cek kondisi, masalah harga nggak perlu dibahas, sesuai skenario Barong.

Step 5 (*hari Minggu jam 10.45 pagi*): Badu selesai memeriksa mobilnya, semua sesuai, dan dia makin bersemangat karena setahu dia harganya jauh di bawah pasaran, logika makin lepas. Badu transfer ke rekening yang diberikan Barong, mengira itu rekening yang benar milik penjual. 

Step 6 (*hari Minggu jam 10.50 pagi): Kepada Bara, Badu menunjukkan bukti transfer dan minta untuk diberikan surat-surat dan kunci mobil terkait. Tapi tentu di rekening Bara tidak ada uang masuk, karena transfernya ke rekening Barong. Barong pergi dengan transferan yang dia dapat dan segera mem-block kontak Badu dan Bara. Badu kehilangan uang dan Bara tidak mau menyerahkan mobilnya. 

Upaya penipuan ini sebenarnya akan gagal kalau dari awal Bara dan Badu saling mengkonfirmasi identitas sehingga impostornya ketahuan, atau Bara casually menyebut harga asli penawarannya yang berbeda dengan yang dilihat Badu. Saat akan transfer, andai Badu mengonfirmasi rekeningnya lebih dulu ke Bara, penipuan ini juga akan gagal. Sebenarnya contoh-contoh yang lewat di timeline saya kebanyakan juga survivor yang berhasil selamat dari upaya tipu-tipu ini, dalam banyak kasus antara penjual atau pembeli ada yang sadar duluan bahwa ada yang salah.

Success ratenya mungkin tidak banyak, tapi karena angka uangnya besar jadi modus ini tidak boleh diremehkan. Semoga kita terhindar dari orang-orang jahat seperti ini. Ada beberapa hal yang jika dilakukan akan memperbesar peluang kita selamat dari modus serupa:

- Saat mendapat kontak orang yang akan bertransaksi, lakukan background check dulu secara menyeluruh. Lanjutkan transaksi jika dan hanya jika nomor kontaknya valid dan sudah dipakai lama (see app GetContact), lalu nama orangnya jelas dan bisa dicari sosmednya, ketahuan kuliah/kerja dimana (researchgate, linkedin, blogs, etc), syukur-syukur kalau ada fotonya di google. Profiling lah pada intinya, makin lengkap makin baik karena jadi tahu siapa yang akan ditemui. Untuk transaksi besar ya terutama, kalau COD jual lepas barang-barang kecil ya disesuaikan aja.

- Saat akan transfer, pastikan barangnya ada dan lengkap beserta surat-surat, orangnya ada di tempat, dan nama yang tertera di rekening sama dengan orang yang ada di sana. 

- Sebagai pembeli, jangan tergiur harga super murah

- Sebagai penjual, kalau ada orang mau beli barang besar tapi nggak nego itu malah aneh, pastikan konfirmasi atau malah batalkan sekalian. 

Sekian, semoga bermanfaat, dan semoga kita terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan.



Terimakasih