Pertemuan Pertama


Foto ini saya ambil tadi pagi saat kesasar sampai Kidzania PP, padahal niatnya ke Ritz-Carlton untuk sebuah seminar. Samar-samar saya masih ingat lift dan lorong menuju Kidzania ini walaupun sudah lama sekali.
Saat SMP dulu saya sempat 'sekolah' sebentar di salah satu sekolah swasta di Jakarta Selatan. Tidak benar-benar sekolah karena setengah agendanya jalan-jalan, salah satunya ya ke Kidzania ini. Tapi masih cukup mengalami karena ikut pelajaran, masuk jam 7 pagi bersama murid lainnya, bawa bekal dari rumah, dan karena host saya tinggal di Bekasi, merasakan berangkat sekolah sehabis subuh dan pulang saat malam. Luar biasa.

Hari pertama saya terlalu lambat siap-siap, padahal itu masih jam 5.15. Akibatnya kami harus naik taksi agar tidak telat sampai sekolah. Normalnya partner saya berangkat paling lambat jam 5.00 lalu naik bus. Hari berikutnya saya sudah tidak telat dan bisa naik bus. Ini bukan bus sekolah ya, melainkan bus umum yang dinaiki bersama para pekerja. Itu pertama kalinya saya merasakan commute di Jakarta. Malam harinya badan dan kaki luar biasa lelah karena setelah turun bus kami masih harus jalan kaki. Sebelum dewasa saya sudah menyimpulkan commute di Jakarta butuh fisik yang kuat. Yah kecuali kamu punya cukup privilege untuk tinggal di Residence 8.

Ada banyak yang memorable dari masa-masa pertukaran pelajar saat itu. Suatu hari saat pulang dari sekolah partner saya masuk ke minimarket untuk beli nori. Ternyata dia berniat membuat sushi roll. Karena itu kali pertama saya berhadapan dengan sushi, saya buka rollnya lalu makan seperti makan nasi biasa wkwk serius bingung saat itu. Host (orang tua partner) saya ini kerja di Hewlett-Packard, beliau memberi saya flashdisk HP custom yang sangat bagus kalau dibandingkan dengan Kingston 2 giga saya.

Banyak hal untuk pertama kalinya saya alami. Pertama kali naik TransJakarta, saat itu warnanya masih oren. Pertama kali nonton bioskop, 15 tahun kemudian baru saya tahu yang saya kunjungi dulu itu Djakarta Theater. Pertama kali naik pesawat, pertama kali ke Dufan, pertama kali minum 7up, dan lain sebagainya. Sebelum perpisahan ada agenda dinner beach view di Ancol, ternyata disponsori salah satu host yang pejabat. 

That's my first serious encounter dengan Jakarta. You can expect banyak hal yang kami rasakan sebagai murid smp dari Bantul yang dikumpulkan bersama anak-anak Alpust.

Thanks,
Chandra

Danau Abah Suradita


Saya mau mereview sebuah restoran taman yang weekend kemarin saya kunjungi. Sebenarnya tempat ini sudah cukup banyak direview di instagram, tapi karena tidak pandai membuat reels, saya akan buat dalam bentuk tulisan.

Ini dia Danau Abah Suradita, lokasinya di Cisauk, Kab Tangerang. Meski begitu, marketing online sering dengan gagah berani menyebutnya 'di BSD'. Yang menarik dari resto ini adalah selain tempat makan dia juga menyuguhkan ruang terbuka hijau dan danau, sehingga dianggap oase bagi masyarakat kota.

Awalnya saya menemukan tempat ini saat sedang mencari tempat makan yang cocok untuk keluarga. Pasalnya, bapak ibuk saya akan datang ke Jakarta dan mereka jauh lebih suka nuansa tradisional dan alam daripada mall dan restoran tengah kota. Review google untuk Danau Abah Suradita tidaklah cemerlang, hanya 3.8, tapi karena ada teman yang sudah kesana dan menurutnya masuk kriteria, saya memutuskan bolehlah dicoba. Langsung saja, berikut review-nya.

Scenery: 8
Danau Abah Suradita sebenarnya 50 persen leisure park dan 50 persen restoran. Jadi seberapa bagus pemandangannya juga jadi poin penting untuk dilihat. Terus terang tempatnya di atas ekspektasi saya. Saya tidak menyangka ada taman dan danau serapi ini di Cisauk. Kalau dibandingkan dengan destinasi wisata alam di Jogja atau Bali jelas kalah, tapi untuk di sekitar Jakarta ini pretty good. Kekurangannya adalah beberapa oknum pengunjung yang buang sampah di pinggir danau dan tidak dibersihkan, sangat merusak keindahan. Cisauk juga daerah dengan kualitas udara yang buruk saat ini, dan untuk sebuah destinasi outdoor ini mengganggu.

Makanan: 9
Surprisingly untuk standar 'makan di luar' sajian di Danau Abah enak. Menu andalannya ikan bakar dalam bambu yang berupa ikan patin dibungkus daun pisang bersama bumbu-bumbu lalu dimasukkan selongsong bambu dan dibakar. Di samping itu pilihan lauk lainnya banyak dengan berbagai sambal dan lalapan yang meriah. Cara pesannya dengan ambil lauk yang diinginkan kemudian akan digoreng atau dibakar oleh tim masaknya sesuai permintaan. Ada free sayur asem juga yang cukup segar. Kenyang dan no complaint.


Service: 8
Pelayanan adalah salah satu hal yang direview negatif oleh pengunjung sebelumnya. Banyak yang menulis bahwa pelayanannya lama. Saya menduga konsumen yang mengkritik ini datang di jam-jam ramai sehingga makanan lama disajikan. Tempatnya memang luas sehingga makan waktu untuk berjalan mengantar pesanan. Belum lagi sistem mencatat pesanannya dengan nama sehingga pelayannya harus manggil-manggil, dan di lokasi outdoor seluas itu cara ini bukanlah yang terbaik. Tapi untuk saya kemarin, karena datang di saat lengang, pelayanan OK dan nggak lama.

Akses & Parkir: 7.5
Untuk parkir tidak ada masalah, tempatnya luas dan gampang keluar masuk. Tapi akses jalan lain cerita. Walaupun bisa keluar tol BSD, tapi jalan dari pintu tol sampai komplek (danaunya ada di dalam komplek btw) semrawut dan macet karena sedang dibangun fly over stasiun Cisauk. Lalu setelah masuk komplek ada 2 pilihan jalan, yang satu via jalan utama komplek yang gronjal-gronjal, lalu ada jalan kedua yang meskipun lebih mulus tapi sempit.

Fasilitas: 8
Sore-sore lesehan di pinggir danau pakai beanbag sepertinya enak. Sayang beanbag-nya sudah kotor yang membuat mau duduk pun males. Jadi kami kemarin lebih pilih duduk di gazebo yang lebih terawat dan bersih. Untuk toilet dan mushola sangat layak, bahkan dari mushola bisa langsung lihat danau. Balik lagi karena tidak sedang ramai jadi fasilitas umum bisa lebih dinikmati.


Kesimpulannya, makan di Danau Abah Suradita menghadirkan pengalaman yang menyenangkan. Kalau mencari alternatif dolan non-mall di sekitar Jakarta ini bisa jadi salah satu pilihan terbaik. Tempatnya luas, cocok untuk keluarga atau kalau mau bikin acara.


Thanks,
Chandra

Salam Panah Hijau


Meskipun pergerakan Liverpool di bursa transfer musim ini seperti siput, tapi saya tetap bersemangat menyambut musim baru liga Inggris yang akan dimulai malam nanti, thanks to FPL. Saya tahu FPL sejak SMA dan sudah main sejak kuliah, itu membuat saya lebih serius mengikuti pertandingan dan info terkait liga Inggris. Kalau bukan karena FPL, untuk alasan apa lagi saya nonton pertandingan Brighton vs Crystal Palace.

Hampir sama seperti Wordle, FPL ini game yang egaliter. Semua orang punya start yang sama, tidak ada pay to win, semua orang bisa membuat liga sendiri untuk berkompetisi dalam komunitasnya, semua informasi sifatnya publik, dan tidak ada batasan ini itu. Walaupun untuk saya sendiri saya punya prinsip untuk tidak memakai pemain emyu dan everton. Ini latest draft saya, 18 jam menjelang deadline gameweek pertama musim 2023/2024


Salah, Haaland, dan Saka wajib ada. Untuk defend saya trust issue dengan bek Liverpool karena kebobolan mulu, tapi saya masukkan Szobo sebagai pembeda. Saya lumayan percaya sama Villa-nya Emery jadi saya mau Watkins dan Emi ada di tim saya. Estu dan Mitoma tahun lalu sangat produktif, harganya juga murah. Stones pilihan standar karena defend City yang you know lah, sementara untuk Eze saya hanya coba ikut-ikutan kata orang-orang twitter.

Seminggu terakhir saya membombardir beberapa grup untuk mengumumkan liga FPL dan meminta teman-teman untuk join. Sudah beberapa tahun berjalan saya ngadmin liga FPL grup angkatan kuliah, angkatan SMA, dan grup kosan di Bandung. Memang di FPL kalau kita tidak ganti akun, liga yang pernah kita buat bisa auto renew. Yang baru, tahun ini saya join liga FPL IAITB, thanks to mas Jati yang ngasih tahu bahwa liga ini ada. Beberapa account yang saya ikuti di twitter juga biasanya create liga FPL. Saya sudah join punya panditfootball dan Jiroluger, tapi entah kenapa hrdbacot dan infomieayamyk kok belum kelihatan hilalnya.

Selain memilih pemain yang akan diturunkan, penentuan nama tim juga jadi sesuatu yang layak dipikirkan. Namanya kalau bisa unik, tapi tidak norak atau terlalu nerd. Tim saya musim ini awalnya mau saya namai Fire Chicken, terpikir dari menu favorit saya di Richeese Factory, tapi saya sudah lama nggak makan. Sempat saya ubah Administrator, tapi kok kaya sok berkuasa. Lalu saya ganti Belanesia, tapi agak kurang. Akhirnya sekarang saya namai A Pit Stop, entah kenapa saya terpikir ini, mungkin karena saya suka F1 atau habis baca entah dimana.


Chandra