Adu Bersih: KliknClean vs Sejasa



Beberapa jasa pasarnya muncul karena ada pekerjaan yang tidak semua orang bisa melakukannya. Misalnya tidak semua orang bisa membangun rumah, maka muncullah jasa arsitek dan kontraktor bangunan. Tidak semua orang bisa memperbaiki instalasi listrik atau plumbing, maka lahir profesi teknisi elektrik dan tukang ledeng. Orang mau membayar profesional untuk memenuhi kebutuhannya karena memang sulit dilakukan sendiri. 

Pada tingkat selanjutnya, ada pekerjaan yang sebenarnya bisa dilakukan sendiri namun seringkali di-vendor-kan karena pertimbangan value for money. Kurir pengantar barang adalah salah satu contohnya. Kita bisa saja berangkat sendiri, tapi daripada keluar biaya bensin dan parkir, belum lagi kena macet, polusi, dan panas, mending minta tolong kurir saja untuk mengantarkan.  

Lalu yang terakhir ada pekerjaan yang sebenarnya bisa dilakukan semua orang namun tetap dibisniskan. Jasa seperti ini bisa laku karena walaupun doable tapi kadang orang memilih membayar profesional daripada melakukannya karena dianggap repot. Bedanya dengan poin dua di atas, disini user tahu bahwa biaya melakukan sendiri jauh lebih murah daripada kalau meminta orang lain, tapi tetap pesan anyway. Jadi motivasinya lebih ke malas atau tidak ada waktu, bukan ekonomi atau efisiensi. Contohnya jasa kebersihan yang sekarang marak di kota-kota besar.

Beberapa waktu yang lalu saya membuka question box di IG story menanyakan jasa kebersihan yang ada sekarang. Sebelumnya saya hanya tahu go-clean yang sekarang sudah tidak ada. Ekspektasi saya ada beberapa opsi jasa kebersihan berbasis app/online lain yang bisa digunakan. Saya buat pertanyaan itu karena ada kebutuhan bersih-bersih di dua tempat berbeda. Ada beberapa jawaban yang muncul: Cleansheet_id, Sejasa, King-clong, dan KliknClean.

Saya berniat memilih dua diantaranya supaya sekalian bisa membandingkan. Keempatnya adalah penyedia jasa yang legit. Sadly saya tidak bisa pilih King-clong karena mekanisme pemesanannya masih via WA dengan melihat informasi dari website. Sementara ini saya prefer yang app-based dulu. Tiga yang lain punya app untuk diunduh jadi saya bandingkan first impression dari aplikasi mereka. Sayang sekali saya kurang nyaman dengan Cleansheet_id. Saya tidak tahu kualitas layanannya ya karena belum pesan. Tapi interface aplikasinya agak 2017 untuk sekarang yang 2022, berikut sampelnya:


Sejasa dan KliknClean adalah dua yang tersisa dan akan saya bandingkan. Beberapa aspek yang saya ulas antara lain variasi layanan, kualitas aplikasi, mekanisme pemesanan, harga, dan helper. Sebagai catatan disini saya membersihkan dua tempat yang ada di satu kawasan, dengan effort kerja yang kira-kira sama, dan durasi pembersihan 2 jam. 


Variasi layanan (winner: Sejasa)

Sejasa menyediakan variasi layanan yang lebih luas. Selain jasa kebersihan, mereka juga bisa membantu memperbaiki mobil, renovasi rumah, reparasi barang elektronik, styling (rambut, kuku, dll), serta massage & reflexology. Untuk jasa kebersihan sendiri ada pilihan daily cleaning, pembersihan sofa, dan sedot tungau.

Sementara itu KliknClean lebih berfokus pada cleaning saja. Layanan pembersihannya memang lebih komplit karena bisa sampai fogging, cuci sofa/kasur, setrika, pest control, hingga poles lantai/marmer. Namun jasa renovasi dan reparasi belum ada. Oleh karenanya dari sisi variasi layanan saya lebih condong ke Sejasa.


Kualitas aplikasi (winner: both)

Saya tidak ingin terlalu teknis menilai UI/UX aplikasi Sejasa dan KliknClean karena saya tidak ahli di bidang itu. Tapi menurut pendapat saya sebagai casual user, kedua aplikasi ini acceptable. Selama pakai saya tidak menemukan bug yang mengganggu, respon aplikasi juga cepat, dan yang paling penting nyaman digunakan. Keduanya punya aplikasi yang ngejar lah untuk tahun 2022.


Mekanisme pemesanan (winner: KliknClean)

Berdasarkan pengalaman saya, dari segi mekanisme pemesanan KliknClean adalah clear winner disini. Pemesanan di KliknClean terasa seamless dari awal pesan sampai akhir pembersihan selesai. Rasanya seperti pesan makanan saja segala kontak antara kita sebagai pengguna, resto, driver, dan penyedia platform terjadi di dalam aplikasi. Dari sudut pandang user prosesnya effortless dan mudah dimonitor.

Sementara di Sejasa pemesanan memang dilakukan di aplikasi, namun follow-up-nya dilakukan via WhatsApp. Setelah order masuk kita akan menerima chat pribadi dari helper yang akan datang. Helper menghubungi untuk minta konfirmasi pemesanan dan share lokasi. Selain masalah kemudahan, security bisa jadi issue juga disini menurut saya. Semoga Sejasa segera mengupdate proses pemesanannya ya karena saya tidak menemukan fitur chat di dalam aplikasinya (?)


Harga (winner: KliknClean)

Disini saya akan langsung bicara angka. Tarif pembersihan dengan durasi dua jam 120k di KliknClean dan 140k di Sejasa. Angka ini belum termasuk promo dan biaya transportasi. Namun entah kenapa untuk case saya kemarin biaya transportasinya masih nol (0). Untuk metode pembayaran, saya kemarin bayar secara cash kepada helper.


Helper (winner: both)

Saya tidak ada komplain untuk helper dari kedua platform. Keduanya sama-sama datang tepat waktu, hasil pekerjaan sama-sama memuaskan, secara sikap pun keduanya baik. Tentu masing-masing platform punya banyak helper sehingga kalau Anda pesan sangat mungkin dapat helper yang berbeda, tapi kalau standarnya sama dengan yang datang ke tempat saya kemarin saya pikir no issue.


Kesimpulan

Saya slightly lebih menyarankan menggunakan KliknClean kalau kebutuhan Anda adalah untuk bersih-bersih. Selain lebih murah, saya pribadi lebih nyaman ketika semua proses transaksi dilakukan via app (walaupun bayar cash) karena feeling saya lebih aman, better evidence kalau ada apa-apa, dan komunikasi chat bisa dimonitor penyedia platform. Tapi kalau Anda butuh layanan lain seperti renovasi rumah, perbaikan elektronik, dan perawatan diri tidak ada salahnya menggunakan Sejasa. Saya cukup yakin keduanya akan makin baik ke depannya.



Hard Mode



Sebagai anak kecil dulu rasanya sekolah SD saja sudah sangat sucks dengan keharusan bangun pagi tiap senin sampai sabtu, membuat PR, dan tekanan harus bersikap baik dan anteng agar terhindar dari hukuman guru. Setelah itu ternyata SMP lebih berat lagi karena harus commute 10 km menuju sekolah tiap hari, pelajaran lebih banyak dan susah, dan konflik dengan teman atau kakak kelas. Segala kesusahan waktu SD jadi terasa sepele.

Hal yang sama terulang waktu masuk SMA, kemudian kuliah, lalu lulus dan bekerja. Tumbuh memang ada enaknya juga seperti bisa keluar malam dan pergi ke luar kota, punya uang sendiri, bisa pacaran (eh!). Tapi di setiap tahap selalu ada masalah baru yang kita tidak tahu bagaimana menyelesaikannya. Setiap jaman ada bingung dan degdegan-nya masing-masing.

Saya menggunakan periode sekolah sebagai titik acuan karena buat saya itu yang paling cocok untuk menggambarkan kenaikan level sulitnya hidup. Orang lain mungkin berbeda, ada yang domisilinya pindah-pindah sehingga menggunakan kota/negara ia tinggal untuk mengukur periode. "Waktu kecil di Kalimantan . .", "pas pindah ke Bali . . ", dan sebagainya. Satuan yang lain lagi pasti juga ada.

Bahwa leveling saya paralel dengan masa sekolah, level terbaru yang saya jalani justri dimulai ketika keluar dari sekolah. Artinya sudah lulus lalu pindah dari yang tadinya mengikuti aturan, sistem, dan target yang ditentukan institusi pendidikan ke fakta yang ada di masyarakat dan dunia kerja. Di tahap ini kemarin sebenarnya ada pilihan, apakah level berikutnya mau tetap di sekolah dengan melanjutkan studi atau cari jalur lain seperti sekarang ini. Tapi ini satu bahasan sendiri karena penjelasannya panjang. Apakah saya mengambil keputusan yang tepat? I don't know.

Sama seperti sebelumnya, di level ini pun ada jatuhnya ada lompatnya. Saya tidak pakai istilah jatuh-bangun karena bangun seperti hanya resolusi dari jatuh itu, sedangkan saya merasa Allah kasih satu dua hal menyenangkan diantara kejatuhan-kejatuhan itu yang lebih tinggi dari sekedar bangun, jadi saya pakai sebutan lompat. Anyway kalau mau lompat juga harus bangun dulu.

Mindset bahwa selama ini sedang leveling sering membuat saya penasaran level berikutnya kapan datangnya dan seperti apa. Kapan adalah soal waktunya, karena tepat hari ini genap sudah lima tahun saya berada di level ini ditandai sidang tugas akhir saya pada 15 Agustus 2017, on this day tepat lima tahun yang lalu. Apa karena di posisi sekarang tempat berikutnya belum tentu jelas, tidak seperti waktu SMP yang bisa dibayangkan setelah tiga tahun tiba waktunya masuk SMA.

Lima tahun lalu saya memulai level ini dengan seolah tampak baik namun sebenarnya disastrous. Saya overconfidence waktu masuk ke pekerjaan pertama, merasa jadi warga negara yang utuh karena sudah selesai sekolah dan sudah bekerja, bangga betul waktu itu. Turns out saya tidak terlalu bisa dan cocok dengan jobdesc yang harus saya kerjakan, di sisi lain saya oversharing karena merasa telah mencapai sesuatu hebat. 

Hal yang tidak diingikan terjadi, perusahaan tutup dan semua karyawan termasuk saya jadi jobless (mana uang pisah sama gaji terakhir belum dibayar lagi wkwkwk hayo pak, bapak masih punya hutang lho ke para ex karyawan :) ). Endingnya tidak baik memang, tapi banyak yang bisa dipelajari dari sana. Salah satu titik tersulit di level ini adalah menjadi jobless ketika teman-teman sudah bekerja, saya tidak perlu jelaskan karena pasti sudah terbayang. 

I've just cleaned my mess in 2019, dua tahun setelah selesai level kuliah. Bisa dibilang saya mulai dari nol lagi ketika pindah dari Bandung ke Jakarta. Sampai sekarang I don't feel right untuk banyak sharing atau update soal karir sejak di Jakarta kecuali di media yang memang berhubungan dengan itu. Sedikit banyak masih trauma dengan yang terjadi di pekerjaan pertama di atas. Satu kalimat saja untuk sum up: alhamdulillah karir membaik setelah menikah.

Pekerjaan hanyalah satu fitur dari level ini. Masih banyak tanggung jawab lain sebagai orang dewasa yang harus dilakukan dengan baik. Apalagi setelah menikah ya, tanggung jawab sebagai kepala keluarga jauh lebih besar daripada sekedar anak laki-laki pertama. Banyak hal yang dulu adalah comfort zone sekarang menjadi tempat dimana kita exposed, dan itu tidak enak.

Menurut saya pengalaman berat itu tidak enak dijalani sekarang, tapi besoknya menyenangkan untuk dikenang sebagai "oh dulu pernah begini ya, kok bisa survive ya". Tentu ini selama kesusahannya tidak menyangkut asasi dan prinsip. Sepaham saya juga, dari tak terbatasnya kuasa Allah, dua diantaranya adalah kuasanya untuk menaikkan derajat (level) dan mengangkat masalah. Bisa lah yok keep going berbekal itu.

Kalau level-level sebelumnya juga ada masalah tapi akhirnya selesai juga, mestinya yang ini juga begitu. Semua level hard mode sampai kita menyelesaikannya. 





Tahu Telor di Jakarta Part 2


Dalam rangka menyelesaikan apa yang telah dimulai, saya mau melanjutkan cerita soal mencoba sajian tahu telor yang ada di Jakarta. Sebelumnya saya sudah menyambangi beberapa tempat makan tahu telor dan tahu campur, bisa dilihat di sini. Karena kemarin sudah ada 4, sekarang dimulai dari nomor 5.


5. Tahu Campur Cak Trisno (Bintaro)

Warung Tahu Campur Cak Trisno ini sangat gampang ditemukan, waktu pertama lewat langsung saya tandai. Lokasinya tepat di pinggir jalan Veteran di kawasan Bintaro. Menurut saya tempat ini cocok untuk makan bersama keluarga karena tempatnya luas, bersih, dan nyaman. Warung Cak Trisno buka dari jam 7 pagi sampai jam 10 malam, bisa lah untuk sarapan, makan siang, atau makan malam.

Saya suka sajian tahu telur di sini karena porsi tidak terlalu besar namun bumbu petisnya banyak. Secara rasa pun di atas rata-rata, review nggak bohong. Sebagai warung jawa timuran, tentu di sini juga tersedia tahu campur, soto, dan rawon dengan harga berkisar 20 ribuan. Kalau tidak bisa datang ke tempat pun bisa pesan via food delivery. Mantap pokoknya, sangat layak dicoba.


6. Tahu Campur Jalan Sabang (Sarinah)

Yes Sarinah is cool, tapi kalau jalan kesana belum afdol rasanya kalau belum makan di jalan sabang. Saya punya beberapa favorit disana: Sate Pak Heru (yang paling rame), pempek 99, dan tentu tahu telor. Saya agak lupa nama warung tahu telornya apa, tapi seingat saya hanya ada satu disana jadi mudah ditemukan. Kalau mau makan disini hanya bisa malam ya, karena kawasan ini siang hari jadi parkiran, waktu malam baru mulai rame orang kulineran. 

Terakhir saya kesana harga seporsi tahu telornya 18 ribu. Enaknya makan di jalan sabang, karena pilihannya banyak jadi serombongan bisa makan beda-beda sesuai selera. Kebetulan saya dan istri begitu, tahu telor bf, pempek kulit gf. Piring boleh dibawa ke tenda sebelah asal jangan lupa bayar dan dikembalikan.  


7. Tahu Tek Telor Kedoya (Kebon Jeruk)

Dua hari lalu saya ada keperluan di daerah Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Siangnya saya browsing tahu telor yang ada di sekitar tempat saya berada, ketemulah warung ini yang reviewnya lumayan mentereng. Niatnya makan siang, istirahat, bikin dokumentasi untuk postingan ini, sekalian berharap bisa standby buka laptop kalau perlu. Saat saya ikuti petunjuk maps ternyata saya diarahkan masuk ke suatu perumahan. Everything is fine sampai ketika tiba di tempatnya ternyata warung ini hanya melayani take away dan delivery, tidak bisa makan di tempat.

Sebagai orang yang hobi menikmati momen makan di warung, ini memberikan impresi kurang baik sih buat saya. Karena sudah lapar terpaksa saya mampir indomaret terdekat, beli minum sekalian duduk makan. Surprisingly rasanya sangat enak, iya, sangat. Saya bisa bilang ini tahu telor terenak yang pernah saya coba. Harga seporsinya 25 ribu. Silakan dicoba, tapi saran saya delivery saja.


8. Tahu Campur Citra Rasa (Bintaro)

Halaman parkir Bintaro Plaza ramai dengan tenda-tenda tenant makanan setiap sore hingga malam. Salah satu yang ada di sana adalah Tahu Campur Citra Rasa yang tentu juga menjual tahu tek telor. Ada juga rujak cingur barangkali mau, khas jawa timuran pokoknya. Citra Rasa ini cukup terkenal di kawasan Bintaro karena sudah berjualan tahun-tahunan. Bisa dipastikan langganan sudah banyak.

picture by: E.A.P @google

Silakan kalau jalan-jalan sore ke daerah Bintaro mampir ke sini. Kalau weekday ramai dengan orang-orang pulang kerja yang lapar dan butuh mampir setelah lepas dari macetnya Jakarta. Kalau weekend jadi destinasi makan malam keluarga rame-rame. 


Sekian review tahu telor, berikutnya makan apa ya?