Personal Blog

Jogokariyan

December 28, 2025 Posted by Chandra Nurohman , No comments

Ketika bicara Masjid Jogokariyan, sosok yang menjadi top of mind di kepala banyak orang mungkin Ustadz Salim A Fillah. Beliau adalah public figure, da'i kondang level nasional, penulis banyak buku, sekaligus aktivis Masjid Jogokariyan. Di hari di mana beliau terjadwal untuk mengisi ceramah tarawih dan subuh di Jogokariyan, pasti masjidnya penuh malam itu. 

Tapi selain beliau ada sosok yang mungkin lebih sering di belakang layar tapi perannya sangat besar sebagai ketua takmir sekaligus sesepuh Masjid Jogokariyan yaitu Ustadz Muhammad Jazir ASP. Beliau juga seorang tokoh dan pendakwah, orang yang pernah tinggal di Jogja kemungkinan pernah menyimak ceramahnya atau minimal mendengar namanya. Ustadz Salim sendiri berulang kali bilang bahwa jasa Ustadz Jazir sangat besar dalam pengembangan Masjid Jogokariyan maupun perjalanan dakwah Islam di Indonesia pada umumnya.

Ustadz Jazir kapundut beberapa hari yang lalu, innalillahi wainnailaihi rajiun. Jogokariyan berduka, tapi duka juga dirasakan sampai tempat yang sangat jauh dari Jogja. Masjid-masjid di seluruh Indonesia mengucapkan bela sungkawa sekaligus penghargaan tinggi atas jasa-jasa Ustadz Jazir dalam peningkatan kualitas manajemen masjid. Bahkan akun resmi SGB di Utrecht Belanda pun menyampaikan ucapan turut berduka cita. Warga Jogokariyan, warga Jogja pada umumnya, orang yang pernah tinggal di Jogja, orang biasa, politisi, public figure, anak muda, orang tua, semuanya berduka.


Nama Ustadz Jazir sudah bersinonim dengan masjid. Beliau menulis sebuah buku berjudul Manifesto Masjid Nabi yang menceritakan perjalanan masjid Jogokariyan. Masjid yang dulunya sebuah langgar kecil kini menjadi masjid percontohan karena aktivitas dakwahnya. Misinya untuk 'mensolatkan orang hidup' mampu mengubah lingkungan yang tadinya abangan menjadi salah satu neighborhood paling hijau di Jogja. 

Saya pikir semua yang pernah bersentuhan dengan Masjid Jogokariyan sepakat bahwa masjid ini memang dikelola dengan sangat baik. Masjid ini tidak begitu mewah secara bangunan, tapi jamaah dan aktivitas yang terus ada di dalamnya menjadikannya 'terang'. Datang ke Jogokariyan bahkan untuk sekedar mampir salat 15 menit saja sudah cukup membuat batin serasa direfresh. Orang yang niatnya hanya singgah sebentar bisa jadi betah kalau sudah duduk di dalamnya. Datang kesana bisa membuat hati yang keras jadi lembut, kepala yang panas jadi dingin, dan badan yang lelah jadi lebih segar.

Ribuan orang datang ke Masjid Jogokariyan tiap harinya pada hari biasa dan akan lebih banyak lagi saat Ramadhan. Jamaah yang terus membesar menjadikan masjid ini juga terus tumbuh. Secara teknis fasilitasnya sangat lebih dari cukup mengingat ketersediaan lahan yang terbatas. Parkiran motor, mobil, bahkan bis ada dan luas. Toilet dan tempat wudhu ada puluhan. Tempat salat luas dan nyaman. Ada serambi yang bisa digunakan untuk berdiam lama. Kotak infaq banyak menyediakan berbagai opsi sedekah. Di sekitarnya ada fasilitas penunjang seperti minimarket, warung makan, apotek, ATM, angkringan, toko baju, sampai hotel. Lalu yang mungkin paling penting adalah masjid ini buka 24/7 selama 365 hari dalam setahun alias tidak pernah tutup. Masjid Jogokariyan itu mungkin satu-satunya tempat yang saya seumur hidup belum pernah dengar ada yang kasih 'review negatif'.

Itu belum bicara tentang program dakwah dan hal non-fisik yang ada di Masjid Jogokariyan. Masjid ini terkenal sebagai masjid dengan saldo nol rupiah, yang artinya dana yang dimiliki masjid diputar lagi untuk mendatangkan manfaat bagi jamaah. Akuntabilitas yang terjaga membuat masjid ini dipercaya jamaah untuk menitipkan zakat, infaq, dan sadaqah-nya sehingga dana yang dikelola Masjid Jogokariyan sudah sampai milyaran rupiah. Masjid Jogokariyan adalah seperti lembaga amil zakat yang jamaah bisa lihat langsung 'dapurnya' sehingga kepercayaan itu tumbuh.

Masjid punya program dakwah untuk membantu orang yang belum salat menjadi salat dan yang salat di rumah menjadi salat ke masjid. Dalam fungsi utama yaitu fungsi ibadah masjid memberikan layanan ternyaman kepada siapapun yang jadi jamaah. Di samping itu secara sosial budaya dan ekonomi masjid memberikan kontribusi yang sangat besar bagi lingkungan sekitarnya. Ada banyak usaha di lingkungan masjid yang berkembang karena ada Masjid Jogokariyan di situ. Kampung Ramadhan Jogokariyan yang diadakan tiap tahun adalah festival yang bisa menarik wisatawan untuk datang ke Jogja.


Saya tidak mengklaim bahwa saya seakrab itu dengan Masjid Jogokariyan dan tokoh-tokoh di dalamnya. Saya tidak tinggal sedekat itu dengan Jogokariyan (I'd love to), saya juga sudah belasan tahun tidak efektif menetap di Jogja. Saya cuma pejalan yang kadang mampir dan merasakan hangatnya Masjid Jogokariyan. Jika saya ingin ke pusat kota Jogja dari tempat saya tinggal, terlewatilah daerah Jogokariyan ini. Jadi hal biasa untuk mampir ke masjid ini selagi ada kesempatan. Melihat bagaimana Masjid Jogokariyan melayani jamaah wajar kalau masjid ini jadi role model manajemen masjid, dan kita tahu Ustadz Jazir sebagai nahkodanya. 

Salam,
Chandra






Flu

December 21, 2025 Posted by Chandra Nurohman No comments

Sebenarnya ketika kita bilang bule nggak bisa makan makanan indonesia, pasti sakit perut, habis makan harus minum coca cola, dan lain sebagainya itu, hal sebaliknya berlaku juga buat kita atau minimal saya. Dua kali musim dingin di sini, dua kali pula rejekinya saya kena flu berkepanjangan. Di Indonesia, flu adalah penyakit yang predictable. Awalnya muncul pegal-pegal dan tidak enak di tenggorokan, kemudian demam dan meriang agak parah selama kurang lebih 3 hari, lalu berangsur pulih dengan masih ada letih dan pilek sampai seminggu lalu sudah. Sementara di sini, per hari ini saya hitung-hitung sudah tiga minggu serak saya dari awal Desember belum juga hilang.

Dari bulan lalu saya sudah melihat dan mendengar orang batuk-batuk di tempat umum jadi saya sadar ada potensi badan saya kemasukan virus. Seiring suhu yang terus mendingin, hari yang memendek, dan minimnya cahaya matahari akhirnya imun saya menyerah juga. Sejak 1 Desember kemarin saya mulai batuk dan sedikit serak. Beda dengan di Indonesia, sakit di sini sulit diprediksi mungkin karena varian virusnya berbeda dengan yang biasa dihadapi di Indonesia. Saya nggak tahu timeline sakitnya seperti apa, kapan akan mulai radang, kapan radangnya kempes, kapan pilek, dan berapa lama berhenti. Bisa saat akan tidur baik-baik saja paginya sakit tenggorokan. Atau sebaliknya malamnya masih sulit tidur tapi paginya segar. Jadi yang bisa dilakukan ya menjalani saja sambil makan bergizi dan minum suplemen untuk meningkatkan daya tahan tubuh.

Tapi di sisi lain puncak sakitnya tidak separah flu di Indonesia. Alhamdulillah tidak ada hari di mana saya harus bedrest. Saya masih bisa beraktivitas seperti biasa hanya saja sambil batuk-batuk dan serak ketika bicara. Tapi tidak ada demam tinggi, tidak ada meriang parah, dan tidak ada radang yang sangat merah. Jadi grafiknya landai tapi memanjang. Saya sampai bosan batuk dan mengeluarkan dahak karena sudah sampai dua minggu begitu terus, sampai akhirnya batuknya berkurang tapi kemudian muncul radang tenggorokan. Radangnya segera sembuh tapi kemudian disambung pilek yang lagi-lagi tidak habis-habis. Saya sampai heran dari mana datangnya mucus sebanyak itu. Baru hari ini di hari ke 22 saya merasa bangun tidur dengan hidung dan tenggorokan yang lega.

Saya tidak ke dokter karena menurut orang-orang tidak worth it untuk ke dokter kalau sakitnya masih bisa ditangani sendiri. Dokter di sini terkenal hobi meresepkan paracetamol dan menyuruh istirahat sampai sembuh. There's no such thing like antibiotik atau obat-obat anti radang yang biasa diresepkan di Indonesia. Paracetamol bisa saya dapat off the counter dari swalayan jadi nggak perlu ke dokter dulu. Tolak Angin, jamu kesayangan masyarakat dunia, sudah diekspor ke sini dan dijual di toko-toko Asia.

Sementara obat lain-lainnya kemarin sudah diam-diam dibawa dari Indonesia seperti imboost, diatabs, methyl prednisolone, dan asam mefenamat. Yah obat-obat itu bisa dibeli dari apotek mana saja di Indonesia tanpa resep. Matter of fact kami bawa cukup banyak selain untuk persediaan juga untuk dibagi ke teman. Kami punya 'utang' mefenamat karena kemarin kehabisan saat butuh dan akhirnya minta ke tetangga sesama orang Indonesia. Obat jadi barang mewah bukan karena harganya tapi karena susah dapatnya.

Banyak teman bersaksi, termasuk yang berkeluarga dengan Dutchies, bahwa flu Belanda ini biasa buat orang lokal dan bagi mereka sakitnya hanya 3 hari sampai seminggu. Tapi bagi pendatang terutama yang dari negara hangat berjangkitnya bisa lama. Seolah-olah sistem imunnya bingung berhadapan dengan benda asing yang puluhan tahun belum pernah ditemui. Saya bahkan kadang merasa selama beberapa hari tidak ada perubahan, tidak tambah parah tapi juga tidak membaik. Seperti antara imun dan virusnya terjadi standstill, masing-masing bertahan di garis pertahanannya masing-masing tanpa ada yang bergerak.

Seasonal stress juga sesuatu yang ternyata lebih besar dari dugaan saya. Dulu saya pikir bagian terberat dari musim dingin adalah suhunya. Tapi ternyata hari yang pendek, matahari yang jarang terlihat, dan aktivitas masyarakat yang slowing down mendatangkan potensi stres yang besar. Orang yang terbiasa dan nyaman dengan keramaian mungkin akan merasa tertekan melihat jalanan dan kota yang sepi di musim dingin. Orang Eropa utara memang tidak terlalu outdoorsy di musim dingin, mereka lebih suka menghabiskan waktu di dalam ruangan berpenghangat. Orang dari negara tropis juga punya problem tersendiri dengan kurangnya cahaya matahari di musim dingin. Banyak orang kekurangan vitamin D sehingga suplemen vitamin D adalah barang wajib punya.

Stay healthy everyone dimanapun Anda berada. Kalau kata Ade Rai sehat itu tidak tampak menarik selagi kita masih punya, baru menarik ketika sedang sakit. Semoga sehat selalu, sehingga badan dan pikiran berada dalam tingkat efisiensi tertingginya. Aamiin.

Chandra

Terra Drone

December 13, 2025 Posted by Chandra Nurohman No comments
Peristiwa kebakaran gedung Terra Drone Indonesia di Jakarta beberapa hari yang lalu lumayan jadi perbincangan di grup-grup kuliah saya. Pasalnya ada beberapa teman yang jadi karyawan di sana namun mereka bekerja di cabang Bandung. Postingan terkait perusahaan ini sering lalu lalang di timeline LinkedIn saya menampilkan aktivitas dan programnya di berbagai tempat. Secara umum nama Terra Drone sudah cukup dikenal sebagai perusahaan aerial mapping yang punya citra baik dan berskala global. Duka mendalam untuk semua korban dan keluarga yang ditiggalkan.

Nama FTMD ikut disebut-sebut karena CEO Terra Drone Indonesia yang jadi tersangka adalah alumni angkatan 2001. Ini harsh, tapi dengan dugaan kelalaian yang ada dan fakta bahwa korban meninggalnya sampai 22, pimpinan tertinggi sudah sewajarnya diminta pertanggungjawaban. In my mind, pihak lain seperti pengelola gedung, yang memberi ijin, dan yang ngurus inspeksi gedung juga perlu diperiksa karena ada dugaan gadung Terra Drone tidak sesuai standar. Pentersangkaan ini jadi rame karena baru beberapa bulan yang lalu ada kasus bangunan roboh yang memakan lebih banyak korban jiwa tapi tidak ada yang jadi tersangka, bahkan bangunannya mau dibangun lagi dengan APBN. You know why.

Terakhir saya baca penyebab kebakarannya diduga karena baterai lithium yang meledak. Ini mungkin saja benar karena baterai drone memang butuh handling yang lebih hati-hati karena sifatnya yang highly flammable. Baterai drone perlu kapasitas dan daya tinggi tapi casingnya tidak bisa terlalu berat, itu kesulitannya. Untuk skala perusahaan sebesar ini tentu ada banyak baterai terlibat di sana dan sudah seharusnya sistem penyimpanannya aman dan tahan api. Sebagai catatan, Terra Drone itu bukan perusahaan kemarin sore, korporasinya berpusat di Jepang dan punya kantor di Indonesia, Malaysia, Arab Saudi, Belgia, dan Belanda. Kita tunggu saja lanjutan penyelidikannya apakah benar ini sebabnya dan apakah ada human error.

Ada artikel yang mengaitkan kebakaran ini dengan proyek Terra Drone memetakan perkebunan sawit. Bisa jadi mereka memang mengerjakan itu karena itu salah satu bidangnya. Tapi mereka juga memetakan obyek-obyek lain seperti jalan, rel kereta, sungai, pipa, dan lain sebagainya. Saya kok ragu ini sabotase terkait proyek yang mereka kerjakan. Mereka kan bukan intelejen yang pakai drone stealth lalu mengambil gambar properti orang tanpa ijin. Perusahaan pengguna jasa memang meminta mereka untuk merekam jadi kalau mereka punya data-data ya wajar. 

Fakta bahwa di 2025 ada kebakaran yang menewaskan 22 orang di Jakarta sangat mengagetkan. Kalau benar defect-defect di bawah ditemukan di gedung itu sih keterlaluan. Ini mestinya jadi wake up call untuk semua pengelola gedung di kota-kota besar terutama Jakarta untuk melakukan audit keamanan dan sosialisasi keadaan darurat. Dalam kondisi normal emergency drill mungkin terlihat seperti membuang-buang waktu. Tapi kalau ada kondisi begini baru terasa perlu. 


Sekali lagi turut berduka untuk seluruh karyawan Terra Drone Indonesia yang menjadi korban beserta keluarga yang ditinggalkan. Semoga diterima seluruh amal kebaikannya dan diampuni segala dosanya. Ngilu membaca nama-nama korban yang ditulis di papan informasi damkar. Sebagian besar di antara mereka masih muda dan seumuran dengan saya, lebih ngilu lagi ada yang sedang hamil. Tidak kalah ngeri melihat video sekelompok karyawan yang terjebak di atas lalu dievakuasi turun dengan tangga. Pagi itu mereka berangkat kerja seperti karyawan lainnya, tapi hari berubah tiba-tiba.

Innalillahi wainnailaihi rajiun.

Membandingkan NU Online dan MASA Muhammadiyah

December 06, 2025 Posted by Chandra Nurohman No comments

Dulu saya mengandalkan Muslim Pro sebagai aplikasi sapu jagat untuk ngecek jam salat, memastikan arah kiblat, dan membaca Quran. Tapi sejak iklannya jadi banyak sekali dan muncul isu soal keamanan data, saya merasa harus mencari alternatif lain. Awalnya saya belum tahu ada aplikasi NU Online dan MASA, saya cuma kepikiran di era yang serba aplikasi ini mosok dua ormas Islam terbesar di Indonesia tidak merilis sesuatu. Maka saya menuju Play Store dan sekedar menuliskan 'NU' dan 'Muhammadiyah', yang keluar adalah NU Online dan MASA ini. Saya install dua-duanya.

Kini saya mau coba membandingkan fitur yang ditawarkan dua aplikasi tersebut. Ada beberapa hal yang mau saya coba yaitu: halaman utama, jadwal salat, arah kiblat, Al-Quran, kumpulan doa, dan fitur lain. Pengujian saya lakukan di handphone Samsung dengan koneksi internet aktif serta ijin akses lokasi diberikan. Versi aplikasi yang saya gunakan adalah yang latest available untuk perangkat saya pada tanggal tulisan ini dibuat, yaitu NU Online versi 2.18.6 dan MASA versi 2.3.1. Setingan aplikasi pada kondisi standar saat pertama diinstall tanpa saya melakukan perubahan apapun.

Halaman Utama

Ada perbedaan antara dua aplikasi ini yang langsung nampak begitu aplikasi dibuka. NU Online mengedepankan menu-menu yang tersedia di aplikasinya, sementara MASA menempatkan jadwal salat sebagai centralnya. Untuk saya yang use case paling umum membuka aplikasi adalah untuk mengetahui jam salat, informasi yang diberikan MASA di halaman utama lebih berguna karena saya bisa tahu jadwal salat seharian tanpa perlu klik apa-apa lagi. MASA memungkinkan untuk ngecek maghrib hari ini jam berapa walaupun saat itu masih pagi (berguna sekali di bulan puasa saya pikir). Sementara NU Online menampilkan waktu salat berikutnya saja beserta countdown. Selain informasinya minimal ini juga kurang intuitif karena ketika sedang waktu dzuhur justru tulisan yang tertampil di layar adalah 'Ashar'.

Secara desain NU Online dominan berwarna putih-hijau sementara MASA putih-biru tua. Tapi bagusnya NU Online bisa disetting mode gelap sementara MASA tidak. Secara estetika desain menurut saya NU Online unggul karena tampak lebih modern dan dinamis dibandingkan MASA yang lebih sederhana. Kedua aplikasi sama-sama punya kolom berita di halaman utamanya tapi NU Online sedikit lebih unggul dengan klasifikasi beritanya, sementara MASA hanya simple list saja.

Jadwal Salat

Kedua aplikasi menunjukkan waktu salat yang akurat walaupun di luar wilayah Indonesia. Asalkan ijin akses lokasi diberikan, keduanya bisa otomatis mencari waktu salat setempat menurut zona waktu lokal. Informasi yang ditampilkan kurang lebih sama: waktu salat seharian, countdown ke jam salat berikutnya, lokasi, dan direct link ke pencarian arah kiblat. Keduanya juga memungkinkan untuk melihat waktu salat hari-hari ke depan dan belakang. Indikator waktu NU Online sedikit lebih lengkap dengan adanya waktu Imsak dan Dhuha, tapi selain itu kurang lebih dua aplikasi ini sama fiturnya.

Arah Kiblat

Saya tidak menilai akurasi kiblat karena itu terkait sensor di perangkatnya. Pun saya posisinya jauh dari kabah dan tidak punya golden standard untuk pembanding. Tapi keduanya sama-sama menampilkan derajat kemiringan yang benar yaitu 126 derajat. Andai saya punya military-grade compass mungkin saya bisa dapat arah kiblat yang cukup akurat kemudian dengan data itu. Saya bisa dapat informasi arah kiblat baik dari NU Online maupun MASA walaupun lagi-lagi tampilan di MASA tampak lebih sederhana. NU Online juga punya fitur tambahan yaitu menemukan kiblat dengan kamera tapi menurut saya ini tidak terlalu meaningful karena serve the same purpose dan akurasi juga bergantung kompas di handphone. 

Al-Quran

Kedua aplikasi bisa menampilkan Al-Quran dalam format ayat per ayat maupun halaman. Tampilan dalam mode ayat per ayat kurang lebih sama, tapi mode halaman yang jadi pembeda. Dalam mode halaman posisi portrait tampilan keduanya serupa, tapi ada limitasi pada aplikasi MASA di mana dia tidak bisa mengubah tampilannya ke posisi landscape. Padahal membaca halaman dalam posisi horizontal lebih nyaman (setidaknya buat saya) karena huruf-hurufnya jadi lebih besar. NU Online seamlessly mengakomodir perubahan dari portrait ke landscape dan sebaliknya. Karena NU Online juga support dark mode, tampilannya jadi lebih enak lagi untuk dibaca (lihat gambar di bawah ini). Jadi kalau mau membaca Al-Quran dari HP, saya akan cenderung pakai NU Online.


Kumpulan Doa

Jadwal salat, arah kiblat, dan Al-Quran adalah fitur-fitur yang sudah sewajarnya ada dan generik. Tidak ada perbedaan di sana karena salat ya sama-sama di jam segitu dan sama-sama menghadap kiblat. Perbedaan hanya masalah estetika dan delivery saja. Tapi untuk doa kita tahu NU dan Muhammadiyah punya sikap yang agak berbeda dan ini tercermin dari aplikasinya. NU Online memuat lebih banyak wirid dan doa termasuk asmaul husna, istighotsah, dalailul khairat, dan manaqib Syekh Abdul Qadir. Sementara MASA menampilkan library yang lebih standar: dzikir pagi-petang, dzikir setelah salat, doa harian, doa pilihan, dan doa ketika sakit. 

Fitur Lain

Bicara soal fitur-fitur lain, NU Online lebih lengkap karena dia punya fitur seperti kalkulator zakat, tutorial ibadah, tasbih, qurban, sampai kalkulator waris out of the box. Di NU Online juga ada fitur NU Filantropi yang bisa jadi pintu untuk sedekah ke berbagai pilihan tujuan via LAZIZNU. Saya coba untuk sedekah lewat sana dan ternyata sangat mudah. Saya tinggal pilih which cause yang saya inginkan, pilih nominal sedekah, lalu bayar pakai QRIS. Tidak perlu login, tidak perlu ngisi email atau nomor handphone, hanya isi nama saja yang itupun bisa disembunyikan. 

Sementara untuk MASA, saya tidak menemukan fungsi ini. Out of the box aplikasi MASA ini 'hanya' menampilkan fitur-fitur yang saya sebut di atas plus kalender Islam which is probably Muhammadiyah's advantage karena metode hisabnya. Ada button 'Lainnya' yang sepertinya mengarah ke berbagai menu lain. Tapi saya tidak bisa mengaksesnya karena harus login dulu dengan Muhammadiyah ID. Masalahnya walaupun saya biasa tarawih 11 rakaat tapi saya tidak punya KTA Muhammadiyah.

Saya pikir ini design decision di balik pembuatan aplikasinya. NU Online dibuat untuk menjangkau sebanyak mungkin pengguna dan menawarkan warna NU di sana. Sementara MASA lebih dibuat untuk melayani warga Persyarikatan Muhammadiyah sambil tetap bisa dipakai oleh masyarakat umum. Jadi buat saya ini bukan kelemahan melainkan fitur juga. 

Kesimpulannya, dua aplikasi NU Online dan MASA ini cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar untuk muslim pada umumnya. Ada sedikit perbedaan detail di mana untuk sekedar ngecek waktu salat MASA lebih cepat tapi pengalaman tadarusan pakai NU Online lebih nyaman. Selanjutnya kalau Anda warga Muhammadiyah Anda bisa memaksimalkan fungsi MASA secara keseluruhan dengan Muhammadiyah ID, tapi kalau tidak NU Online punya fitur umum yang lebih banyak.

Berhubung saya tidak ada afiliasi apapun, jadi saya tidak punya beban moril untuk menginstal atau tidak menginstal salah satunya. Toh keduanya memberikan manfaat buat saya sesuai kegunaannya masing-masing. Ini sekedar personal opinion dan strictly terbatas hanya soal aplikasi handphone, saya tidak menilai Muhammadiyah dan NU sebagai organisasi dan aliran, bukan juga sebagai respon isu-isu terkait ormas apapun akhir-akhir ini. 

Terimakasih,
Chandra.