Cemilanku Lebih Mewah Daripada Makan Siangnya



Ada saatnya dimana perasaanku terlalu tumpul untuk merasakan empati. Mungkin pikiran sedang terbagi atau terlalu banyak distraksi. Tapi ada pula saatnya aku menjadi sangat peka. Mungkin ketika kita sedang merasa butuh dekat dengan-Nya.

Ketika sedang peka kadang aku melihat kanan kiri dengan lebih dalam. Bukan dalam dimensi fisik tapi dimensi rasa. Bukan melihat apa yang dikerjakan tangan tapi melihat apa yang dilukiskan wajah.

Sesederhana makan siang. Jangan dulu bicara soal gizi seimbang, rendah kolesterol, atau empat sehat lima sempurna karena cukup saja belum tentu. Mulai dari pedagang kaki lima Jalan Ganeca, adik-adik yang dipaksa jualan tisu entah oleh siapa, hingga teman sesama mahasiswa. Di satu sisi merasa kasihan, di sisi lain tidak tahu bagaimana cara membantu.

Kadang merasa bersalah dalam menetapkan standar. Nasehat sejak dulu "kalau untuk makan jangan ngirit-ngirit", saya taat. Tapi rasanya makin kesini nafsu jadi semakin mendominasi. Walaupun tahu itu tidak baik.

Sedih ketika bahkan cemilan di meja kerja lebih mewah daripada makan siang sebagian orang. Padahal yang satu hanya untuk mengganjal perut atau bahkan hanya sekedar penepis sepi. Sedangkan satu lagi untuk bertahan hidup.

Kucoba untuk masuk ke semua pergaulan. Tidak asal mengajak makan jika tidak tahu siapa mereka. Kadang lebih baik mereka yang menentukan. Menikmati makanan jalanan, ada resource jika sesekali makan ala-ala.


Chandra Nurohman





sumber gambar : pixabay

0 comments :

Post a Comment