Review Tulisan : Tips PDKT Usia 20 Tahun ke Atas by iBas



Barusan dapat broadcast ini di LINE terus jadi pengen komentar. Kebetulan udah lama nggak nyentuh blog juga (relative to my usual rate). Judulnya Tips PDKT usia 20 tahun ke atas a la iBas dari akun Baskoro Aris Sansoko. Cekidot

*****

[Tips PDKT usia 20 tahun ke atas a la iBas]

Entah ya, aku merasa usia 20 tahun ke atas itu sudah mulai mertimbangkan buat pernikahan. Ya walaupun rencana nikah umur 25 atau bahkan belum ada rencana, tetapi setidaknya mulai ada kecenderungan untuk berpikir ke arah sana.

Ditambah dengan mulai sibuknya hidup cari tambahan penghasilan, kuliah, atau apapun. Mulai berpikir gimana caranya biar enggak banyak minta sangu. Belum ketambahan sering begadang dan sebagainya. Apalagi kalau ikut kepanitiaan, organisasi, gerakan, macam-macam.

Intinya waktu jadi tambah sempit.

Dulu jaman SMP atau SMA yang masih longgar, rasanya "mengejar" sosok yang kita sukai itu perlu pelan-pelan, slow, dan penuh langkah hati-hati.

Yang entahlah untuk itu kalau hari ini ngerasa kelamaan. Terlalu sayang sama waktu. Belum ditambah dengan drama-drama yang rentan terjadi.

Got no time for that kind of shit lah intinya.

Jadi kira-kira gini tips PDKT dariku.

1. Pastikan ada targetnya. Obvious. Duh.

2. Jangan pupuk harapan dan eskpektasi berlebih. Biasa aja gitu. Dia bukan the one, satu-satunya, atau siapapun yang pasti berhasil membahagiakanmu. Tanamkan pada dirimu kalau kebahagiaanmu ya tanggung jawabmu. Orang lain itu penambah saja.

Plus kamu enggak tahu dia the one atau enggak kalau belum interaksi banyak. Jangan kemakan romantisasi cinta pandangan pertama di film, literatur, atau cerita pengalaman.

3. Langsung aja samperin atau hubungi dia dan bilang, "Halo. Aku jujur ada interest sama kamu. Well, kalau kamu enggak keberatan, bisa enggak kita buat lebih saling kenal?"

4. Respon dia positif? Bagus. Lanjutkan. Kenali dia dulu. Enggak usah buru-buru nawarin komitmen. Sayang pun enggak harus nawarin komitmen. Sans dulu. Tarik napas.

Ketemuan sekali dua kali. Ngobrol. Nonton. Makan. Apapun buat cek kalian obrolannya nyambung enggak, jalan hidup kalian compatible enggak. Kamu consider develop hubungan buat have fun aja atau emang serius. Itu harus cukup terlihat jelas dari awal.

Jadi biar enggak nawarin komitmen padahal cuma mau have fun. Biasanya banyak yang gini biar dapet fun-nya ntar kalau udah bosen dibuang.

5. Responnya negatif? Yaudah. Move. Orang lain masih banyak hadeuh. No time for lingering to that one.

6. Kalau udah beberapa kali ketemu, cocok, senang, dan ada clue-clue mau ke hubungan yang berkomitmen. Mulai dengan bicarakan deal breaker masing-masing. Apa yang tidak bisa ditoleransi dan apa yang masih bisa dibicarakan.

Sometimes ada orang yang butuh bisa have sex di luar relationship yang ada. Nah itu perlu dibicarakan di awal, bukan waktu sedang dalam hubungan.

Biar nanti masuk hubungan itu enggak ribet "kok kamu begini?" ya salah kalian berdua karena enggak dibicarakan di awal.

7. Kalau ternyata kalian berdua bisa deal with it, ngerasa enggak keberatan dengan kondisi satu sama lain. Ya mulai saja hubungannya. Jaga keterbukaan. Dan berusahalah untuk menjadi lebih pengertian pada pasangan. Make sure bukan cuma kamu yang berusaha menjalankan hubungan yang baik; itu bukan relationship tapi relationself.

Yasudah. Gitu aja. Enggak kebanyakan ruwet. Enggak pake waktu banyak. Enggak pake drama ribet follow prestigeholic nangis-nangis ke temenmu.

Life is already hard.

Ditambah relationship atau pre-relationship kebanyakan drama, passive aggresive, gatel-gatel tembel*k kucing, dan semacamnya itu kayak ngapain banget.

Usaha setia? Ujian cinta? Ogah.

Ada cinta yang woles dan happy. Ngapain pilih yang kebanyakan cing cong.

#hubungansehat

*****

#hubungansehat

Bagus sih saya bilang. I mean, belum bicara kontennya, tulisan ini menjadi legitimasi bagi pemuda pemudi yang sedang mencari bahwa kamu nggak sendirian berpikir ke arah pernikahan di umur 20an ke atas. Galau itu normal. Jatuh cinta itu wajar. Yang dipesankan oleh Mas Ibas itu adalah untuk menjaga dinamika masa-masa itu tetap sehat. 

Legitimasi itu, setidaknya bagi saya, menambah kepercayaan diri karena yakin bahwa bukan hanya saya yang mencari. Sesungguhnya kita saling mencari. Ada yang cepat ada yang lambat. Ada yang lancar ada yang terjal. Lebih dari itu ada pertanyaan-pertanyaan yang muncul. Nyarinya dimana ? Nyari yang seperti apa ? Tapi buat saya yang paling membingungkan adalah Bagaimana memulainya ?

Dari tulisan di atas, nomor 1 sampai 3 adalah penegasan bahwa "normal kok melakukan bidding untuk urusan mengenal orang lain (lawan jenis)", dengan nomor 2 adalah rambu-rambu untuk tidak terlalu jauh melangkah dalam proses itu. Memang datangnya jodoh nggak bisa dikira-kira. Ada yang awalnya sama sekali nggak kenal tiba-tiba dipertemukan-Nya. Tapi akui saja bahwa di usia 20an ini kecenderungan tarik menarik itu pasti ada. 

Tentang bagaimana biddingnya, nah itu banyak caranya. Anak muda harus banyak akal. Melihat kondisi, latar belakang, kesamaan, dan informasi awal harus dipilih cara yang paling mungkin berhasil. Buat apa bidding kalau tujuannya bukan untuk berhasil ?

Dalam kondisi apapun yang namanya bidding belum tentu berhasil. Malah kadang kemungkinan gagal lebih besar karena bisa jadi banyak 'saingan' yang menginginkan hal yang sama. Makanya nomor 4 dan 5 kondisional, kalau respon positif lanjutkan, kalau negatif ya sabar wkwk, move on, move up. Lanjutkan-nya tetap pada batasan nomor 2 tadi, jangan over, tapi percayalah bahwa nambah kenalan itu baik. Kalaupun gagal, teman yang baik itu investasi.

Nomor 6, sejujurnya saya baru dengar istilah deal breaker. Tapi bener juga, nggak usah dipaksakan kalau memang ada yang tidak bisa disatukan. Sama-sama salah langkah mendingan diketahui lebih awal biar ada lebih banyak waktu untuk memperbaiki keadaan. Plus tentu saja sebelum kesalahan itu merusak nama baik. Katanya nama naik itu lebih berharga daripada uang.

Terakhir pendapat saya soal nomor 7, prosesnya lebih cepat lebih baik dan harus jadi lah kalau sudah sampai tahap ini...

Layaknya minum obat, kita tidak tahu bagaimana prosesnya obat itu bekerja tapi tetap meminumnya. Kita percaya bahwa obat itu bisa membuat kondisi kita membaik. Mungkin mekanisme jodoh juga begitu. Harus percaya bahwa sudah disiapkan-Nya orang yang tepat, di tempat yang tepat, dan pada waktu yang tepat. Mungkin jauh atau bisa juga dekat. Mungkin bukan hari-hari ini tapi semoga nggak lama-lama hahahaha. Modal iman, manusia lebih banyak nggak tahunya daripada tahunya.

Tentu setiap orang punya preferensinya masing-masing soal ini. Seperti broadcast-broadcast pada umumnya, tulisan ini pun menuai pro kontra, terlihat dari kolom komentarnya. Tapi saya salut pada mas Baskoro Aris yang menuliskan hal ini. Good Job!



Chandra



2 comments :

  1. Halo Mas Chandra,
    Wah terima kasih banyak atas komentarnya! :D
    Senang bisa melihat feedback hehehe.

    ReplyDelete