Prioritas


Never underestimate orang yang terbiasa meninggalkan kesibukannya untuk menjalankan ibadah. Setidaknya dalam pandangan saya, kalau menyaksikan ada orang yang begini biasanya hidupnya baik, entah sudah atau nanti. Saya pakai 'baik' supaya spektrumnya luas karena pengalaman orang beda-beda. Ya walaupun wang-sinawang, tapi orang yang begini kelihatan banyak beruntungnya. 

Bisa dirasionalisasi juga sih, orang yang bisa meninggalkan kesibukannya untuk salat tepat waktu berarti dia punya kuasa atas apa yang dia kerjakan. Karena kalau masih tergopoh-gopoh dalam urusannya akan cenderung waswas meninggalkan pekerjaan dan mencari pembenaran 'daripada nanti pas salat nggak fokus'. Tentu ini dengan acknowledge bahwa beberapa pekerjaan memang tidak bisa ditinggalkan, misal sopir bis yang mendengar adzan di tengah kemacetan.

Disiplin melakukan itu juga menjadi tanda seseorang punya otot mental yang kuat dalam menentukan prioritas. Kemampuan ini sadar nggak sadar akan terpakai di waktu waktu yang lain. Sehingga keputusan-keputusan yang diambil banyak yang akurat. Dalam sekian waktu, keputusan yang baik membukit menjadi nasib yang baik. Ketiga, orang yang konsisten ibadah tepat waktu bisa jadi juga konsisten bangun lebih pagi dari yang lain. Jadi simply punya waktu 'hidup' dan berkarya lebih banyak. Dia juga terbiasa 'make time' untuk sesuatu yang positif, membuat virtually waktunya lebih banyak lagi. Melipat waktu kalau kata dr. Hasto, 24 jam-nya sama tapi isinya lebih padat.

Waktu kerja di Lembang dulu, kalau mau ke masjid harus naik bukit karena lokasi kantor turun kalau dari jalan raya. Lumayan tinggi dan curam, sampai kantor menyediakan parkiran di atas pinggir jalan bagi yang nggak berani bawa kendaraan turun (ah susah dijelaskan, lebih gampang kalau saya ajak tur kesana). Naik turun jalan kaki capek, tapi ada 4-5 orang yang konsisten setiap salat dzuhur dan ashar selalu jalan naik. Salut sekali sama mereka, sementara saya dan banyak lainnya hanya mendaki seminggu sekali saat salat jumat. Setelah pindah kerja jadi jarang ketemu mereka. Tapi selama kerja bareng ya mereka rekan yang menyenangkan, positif, ulate padhang.

Ada juga teman saat kuliah yang tinggal di pondok. Dia sering ada kegiatan pondok setiap ba'da subuh serta dari setelah maghrib sampai malam. Kalau pakai kalkulasi dunia saja, ini disadvantage. Karena waktu untuk aktivitas yang berhubungan dengan kuliah berkurang cukup banyak. Beberapa kali memang tugas tidak terhandle sebaik mahasiswa lain. Tapi in the end kuliahnya lancar, lulus dengan mulus, dan punya 'nasib' yang baik. Jadi bukannya ada mukjizat kalau hari ini ibadah baik otomatis besok pagi nilai jadi tinggi, tapi ada prosesnya.

Ada beberapa contoh lain orang yang saya temui seperti ini. Walaupun kerjaan sedang banyak dan project lagi kenceng tapi 10 menit sebelum adzan sudah meninggalkan mejanya. Bisa jadi ada chat yang diabaikan atau tiket kerjaan yang tertunda, tapi pada akhirnya yang dikerjakan selesai juga. Dunno ya, kepercayaan vertikal ini urusan masing-masing pribadi. Tapi kalau buat saya hikmahnya adalah bahwa kalkulasi untung rugi tidak sesederhana itu.


Thanks,
Chandra

0 comments :

Post a Comment