Tanpa Pelatih



Baru saja berakhir gelaran BCA Indonesia Open Super Series Premier. Alhamdulillah satu wakil Indonesia berhasil menyabet gelar juara lewat nomor ganda campuran. Wakil Indonesia Tontowi Ahmad dan Liliyana Natsir berhasil merebut juara setelah mengalahkan Zheng Siwei - Chen Qingchen asal Tiongkok. Di satu sisi ini patut disyukuri karena dalam 3 tahun terakhir (2014, 2015, 2016)  pemain Indonesia gagal juara di Indonesia Open. Namun di sisi lain patut disayangkan lagi-lagi yang menjadi tumpuan meraih gelar adalah pemain senior, Owi (26) dan Liliyana (31). Bandingkan dengan duo finalis Tiongkok, Zheng 20 tahun dan Chen 19 tahun. Hmmm...


Entah kenapa akhir-akhir ini saya jadi makin tertarik dengan badminton. Hobi main dan mengikuti berita-beritanya. Jadi tahu apa itu turnamen Super Series Premier, Super Series, Gran Prix Gold, dll. Jadi ikut kepo IG pemain-pemain badminton. Jadi paham bahwa di balik semrawutnya pukulan badminton itu ada strategi yang rapi dan konsisten. Juga jadi tahu betapa vitalnya peran pelatih dalam sebuah pertandingan.

Kebanyakan pelatih adalah mantan pemain profesional. Mereka duduk di sisi belakang lapangan menyaksikan apa yang terjadi dalam pertandingan. Sesekali mereka memberi instruksi pada pemain saat break. Pelatih-pelatih itu jika bertanding melawan pemain yang masih aktif sudah pasti kalah. Tapi mereka bisa menyaksikan pertandingan dan seluruh sudut lapangan dengan lebih jelas. Lalu dengan pengalamannya bisa memutuskan apa yang salah jika ada. Selanjutnya mampu mengomunikasikan dengan pemain untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu dalam pertandingan. Peran seorang pelatih sangat vital.

Itu tadi adalah soal badminton, sebuah permainan. Tapi bagaimana dengan hidup ? Nah mulai nih agak berat.

Begini, saya baru terpikir bahwa salah satu masalah terbesar yang kita miliki adalah kita tidak punya 'pelatih'. Itu adalah masalah di atas masalah. Pasti pernah dengar yang begini : lebih banyak masalah timbul bukan karena apa yang terjadi, tapi karena kita salah bereaksi. Atau, yang penting bukan masalahnya, tapi bagaimana kita menanggapinya.

Unfortunately, kesalahan bereaksi banyak terjadi karena kita tidak punya pelatih dalam menjalani setiap detik dan tikungan-tikungan kehidupan. Sudut pandang kita atas apa yang kita jalani sangat terbatas. Bahkan kita banyak yang tidak tahu seperti apa sebenarnya punggung kita sendiri. Ini seperti mengapa lebih mudah menikmati pemandangan air terjun dari kejauhan daripada dengan berdiri di bawah air terjun. Memandang dari jauh sebagai pengamat luar menyederhanakan permasalahan sehingga kita bisa menilai dengan lebih jernih. Konsep pengamat luar ini juga jawaban mengapa bermain game GTA terasa jauh lebih gampang daripada menjalani kehidupan yang sebenarnya.

Stephen Covey berkata kita harus proaktif, jangan reaktif.  Ini benar karena being reactive lebih sering berakhir salah. Masalah bisa datang bertubi-tubi, seperti lebih dari kapasitas kita untuk menanganinya. Diperparah kita tidak punya second voice dalam menangani masalah itu. Itulah kenapa saya sebut masalah di atas masalah.

Tidak ada manusia yang identik. Begitu pula dalam mengambil keputusan, jangan terlalu bergantung pada orang lain. Tidak perlu juga kita mencontek hidup orang lain. Mungkin hanya Nabi yang pantas kita ambil sebagai template. Jangan menjadi orang yang tidak-enakan. Enak-nya di orang lain, tidak-nya di kita.

Masalah bisa datang kapan saja dengan rate yang kadang rapid kadang selow. Dosisnya juga bisa tinggi bisa rendah. Kita harus melatih diri untuk menangani sebanyak mungkin pertentangan dan konflik. Baik di dalam diri sendiri maupun dengan manusia lainnya. Itulah kenapa ada nasehat untuk jangan menghindari konflik.

Menurut saya salah satu konflik terbesar adalah konflik batin. Ketika bermasalah dengan orang lain kita bisa saja menghindar untuk sementara waktu. Tapi bagaimana kalau dengan diri sendiri ? Belum lagi ada campur tangan logika, perasaan, dan nafsu. Benar jika dikatakan musuh terbesar adalah diri sendiri.

Andaikata kita punya lampu ajaib yang bisa mengeluarkan jin yang sekonyong-konyong mampu melibas segala masalah. Atau mungkin robot peliharaan macam Doraemon yang siap mensupport segala keperluan majikannya. Atau gadget super bijak yang bisa memberikan nasehat jitu hanya dengan menceritakan urusan yang sedang dihadapi. Mungkin dengan itu semua hidup akan terasa lebih mudah. Tapi di sisi lain akan menjadi terasa hambar. Life is Never Flat.

Perbendaharaan ilmu, pengalaman, dan orang dekat bisa membantu kita dalam hal ini. Tapi in the end of the day, kita lah yang harus berani mengambil keputusan. Aset-aset itu tidaklah seperti pelatih badminton yang selalu siaga di tepi lapangan. Tapi bagaimanapun semakin ke sini saya semakin sadar betapa itu semua penting untuk menghadapi -- di waktu yang bersamaan -- kompleks dan simpelnya hidup. Karena hidup ada interval simpelnya juga, jangan spaneng terus, tenangno pikirmu, keep smile!

Tapi lepas dari itu semua, pernah nggak sih tiba-tiba di pikiran terlintas sesuatu, mak plecit. Tahu-tahu ternyata itu jadi seperti 'petunjuk yang benar'. Saya nggak tahu itu apa..

Fyi, badminton sekarang bukan lagi tentang China, Korea, atau Indonesia. Banyak tim lain mulai merangsek ke papan atas perbulutangkisan dunia. Sebut saja India dan Thailand. Tapi, yang menarik adalah pelatih-pelatih mereka banyak yang berasal dari Indonesia. Contohnya, Srikanth Kidambi (India) yang masuk 3 final turnamen Superseries dan 2 kali juara pelatihnya adalah Mulyo Handoyo, mantan pelatih Taufik Hidayat.

Lalu Indonesia ? Ayolaah PBSI..




Chandra
270617

0 comments :

Post a Comment