Peristiwa kebakaran gedung Terra Drone Indonesia di Jakarta beberapa hari yang lalu lumayan jadi perbincangan di grup-grup kuliah saya. Pasalnya ada beberapa teman yang jadi karyawan di sana namun mereka bekerja di cabang Bandung. Postingan terkait perusahaan ini sering lalu lalang di timeline LinkedIn saya menampilkan aktivitas dan programnya di berbagai tempat. Secara umum nama Terra Drone sudah cukup dikenal sebagai perusahaan aerial mapping yang punya citra baik dan berskala global. Duka mendalam untuk semua korban dan keluarga yang ditiggalkan.
Nama FTMD ikut disebut-sebut karena CEO Terra Drone Indonesia yang jadi tersangka adalah alumni angkatan 2001. Ini harsh, tapi dengan dugaan kelalaian yang ada dan fakta bahwa korban meninggalnya sampai 22, pimpinan tertinggi sudah sewajarnya diminta pertanggungjawaban. In my mind, pihak lain seperti pengelola gedung, yang memberi ijin, dan yang ngurus inspeksi gedung juga perlu diperiksa karena ada dugaan gadung Terra Drone tidak sesuai standar. Pentersangkaan ini jadi rame karena baru beberapa bulan yang lalu ada kasus bangunan roboh yang memakan lebih banyak korban jiwa tapi tidak ada yang jadi tersangka, bahkan bangunannya mau dibangun lagi dengan APBN. You know why.
Terakhir saya baca penyebab kebakarannya diduga karena baterai lithium yang meledak. Ini mungkin saja benar karena baterai drone memang butuh handling yang lebih hati-hati karena sifatnya yang highly flammable. Baterai drone perlu kapasitas dan daya tinggi tapi casingnya tidak bisa terlalu berat, itu kesulitannya. Untuk skala perusahaan sebesar ini tentu ada banyak baterai terlibat di sana dan sudah seharusnya sistem penyimpanannya aman dan tahan api. Sebagai catatan, Terra Drone itu bukan perusahaan kemarin sore, korporasinya berpusat di Jepang dan punya kantor di Indonesia, Malaysia, Arab Saudi, Belgia, dan Belanda. Kita tunggu saja lanjutan penyelidikannya apakah benar ini sebabnya dan apakah ada human error.
Ada artikel yang mengaitkan kebakaran ini dengan proyek Terra Drone memetakan perkebunan sawit. Bisa jadi mereka memang mengerjakan itu karena itu salah satu bidangnya. Tapi mereka juga memetakan obyek-obyek lain seperti jalan, rel kereta, sungai, pipa, dan lain sebagainya. Saya kok ragu ini sabotase terkait proyek yang mereka kerjakan. Mereka kan bukan intelejen yang pakai drone stealth lalu mengambil gambar properti orang tanpa ijin. Perusahaan pengguna jasa memang meminta mereka untuk merekam jadi kalau mereka punya data-data ya wajar.
Fakta bahwa di 2025 ada kebakaran yang menewaskan 22 orang di Jakarta sangat mengagetkan. Kalau benar defect-defect di bawah ditemukan di gedung itu sih keterlaluan. Ini mestinya jadi wake up call untuk semua pengelola gedung di kota-kota besar terutama Jakarta untuk melakukan audit keamanan dan sosialisasi keadaan darurat. Dalam kondisi normal emergency drill mungkin terlihat seperti membuang-buang waktu. Tapi kalau ada kondisi begini baru terasa perlu.
Sekali lagi turut berduka untuk seluruh karyawan Terra Drone Indonesia yang menjadi korban beserta keluarga yang ditinggalkan. Semoga diterima seluruh amal kebaikannya dan diampuni segala dosanya. Ngilu membaca nama-nama korban yang ditulis di papan informasi damkar. Sebagian besar di antara mereka masih muda dan seumuran dengan saya, lebih ngilu lagi ada yang sedang hamil. Tidak kalah ngeri melihat video sekelompok karyawan yang terjebak di atas lalu dievakuasi turun dengan tangga. Pagi itu mereka berangkat kerja seperti karyawan lainnya, tapi hari berubah tiba-tiba.
Innalillahi wainnailaihi rajiun.
0 comments:
Post a Comment