Axelsen and His Mental Coach



Mungkin nama Viktor Axelsen belum begitu familiar di telinga masyarakat Indonesia. Maklum, selepas era Taufik Hidayat Indonesia belum terlibat lagi dalam drama persaingan papan atas di nomor tunggal putra badminton dunia. Beberapa nama muncul namun masih belum bisa bersaing di jajaran, let's say, 5 besar dunia. Pemain MS (Men's Singles) Indonesia yang paling tinggi rankingnya saat ini adalah Jonathan Cristie (14). Di sisi lain, Axelsen-nya Denmark sukses meneruskan kebrilianan seniornya Peter Gade dan entah bagaimana Lin Dan masih menjadi pemain terbaik China dan saat ini ada di peringkat 3 dunia, bahkan ketika teman seangkatannya, Lee Chong Wei (Malaysia, rank 7) mulai keteteran. LCW (797) dan Lin Dan (701) adalah pemain dengan jumlah pertandingan terbanyak di 20 besar dunia, maklum mereka seangkatan Gade dan Taufik.

Berbicara soal Viktor Axelsen, ada yang menarik dalam pertandingan-pertandingannya tahun ini. Dalam pertandingan bulutangkis profesional, selalu disediakan kursi untuk pelatih di sisi belakang lapangan pemain. Biasanya, namun tidak selalu, pemain tunggal putra ditemani oleh satu orang pelatih. Kalau pun ada dua, biasanya yang satu lagi adalah asisten pelatih. Tapi tidak begitu dengan Axelsen. Selain pelatih, dia juga ditemani seorang mental coach.

Axelsen termasuk pemain yang sering marah-marah. Coba cari di google atau youtube, banyak dokumentasi "Viktor Axelsen angry moments". Di usia yang masih muda tentu emosi yang meledak-ledak dan naik turun itu wajar. Tapi sebagai pemain andalan Denmark dia harus lebih dewasa kalau tidak ingin menjadi bulan-bulanan pemain senior dunia macam LCW atau Lin Dan. Untuk itulah dia sampai menyewa mental coach pribadi, Carsten Oldengaard.



Tugas mental coach-nya adalah menjadi tempat konsultasi dan memberi advice soal urusan psikis. Yah mungkin seperti psikolog, atau psikiater, atau apapun sebutannya. Patut diapresiasi bagaimana seorang pemain level atas dunia mau mengakui kekurangannya dan melakukan perbaikan dengan cara apapun.

Pemain badminton profesional berlatih ribuan pukulan dengan variasi yang luar biasa banyak. Itu dilakukan untuk menguasai teknik-teknik permainan. Tapi itu jadi sia-sia ketika emosi sudah tidak terkontrol dan tidak bisa bermain dengan kepala dingin. Mengingat badminton adalah olahraga dengan rate gerakan sangat cepat maka emosi ini sangat berpengaruh. Tapi bukan hanya dalam badminton, ini berlaku pula dalam olahraga lain, bahkan bukan hanya olahraga tapi juga segala aktivitas harian.



Axelsen dan tim Denmark menyewa mental coach profesional. Tapi sebenarnya dalam diri masing-masing kita ada sosok 'mental coach' itu, begitu kalau kata motivator. Katanya, ketika kita ingin marah, munculkan duplikasi dari diri kita, dia yang akan menjadi penasehat dan berkata "katanya mau jadi orang besar, kok gitu aja marah". Atau si duplikat itu juga yang akan mencari alternatif kemungkinan yang menjadikan pemicu marah itu menjadi logis. Misalnya lagi di jalan terus disalip orang dengan ngawur, dia akan berkata "mungkin lagi kebelet pipis".

Di sela-sela kesibukan dan lalu-lalang masalah sempatkan untuk ngleremke ati lan pikir. Itu seperti detoks, menghapus cache-cache tidak penting yang memenuhi memori dan jadi beban pikiran. Sebagai muslim kita beruntung punya salat sebagai 'meditasi' dan masjid sebagai tempatnya. Bahkan waktunya sudah dibagi, ketika akan memulai hari, pada tengah hari ketika fisik mulai butuh penyegaran. Selanjutnya dua kali salat dengan jeda +- 3 jam karena badan dan pikiran lelah butuh refreshment lebih frequent. Lalu terakhir untuk menutup hari dan membuka interval istirahat. Silakan ditambah yang sunnah karena pasti punya manfaat jasmani rohani.

Kemampuannya me-manage emosi mengantarkan Viktor Axelsen menuju kemenangan demi kemenangan. Yang terakhir adalah menjadi juara dalam 2017 World Championships di Glasgow setelah di final mengalahkan Lin Dan 22-20 dan 21-16. Sekarang Axelsen berada di peringkat 2 dunia, di usia 23 tahun, and he's not an Asian.



Chandra

0 comments :

Post a Comment