Welcome to the Ownerless Era ?




Akhir-akhir ini mencuat istilah ownerless era di kalangan generasi milenial terutama di perkotaan. Kira-kira artinya adalah tidak terlalu penting lagi untuk memiliki semua hal, yang penting bisa merasakan manfaatnya.

Gojek, Grab, dan Uber telah menggerus urgensi untuk memiliki kendaraan sendiri. Kini dengan sangat mudah orang dapat pergi dari satu tempat ke tempat lain bermodal smartphone dan koneksi internet. Spotify dan Joox menjadikan kita tidak perlu menyimpan file MP3 di komputer seperti jaman Winamp dulu. Platform buku dan komik digital memungkinakn untuk membaca konten tanpa harus membeli dan mimiliki buku fisik.

Kemajuan teknologi (digital) membantu banyak aktivitas manusia dengan menjadikannya semakin efisien. Sharing economy membuat milenial tidak perlu memiliki beberapa jenis barang untuk bisa memanfaatkan nilai gunanya. Tapi perkembangan ini menimbulkan kekhawatiran. Kemudahan untuk menggunakan tanpa harus memiliki diduga membuat milenial malas untuk membeli properti, kendaraan, dll.

Dua puluh tahun yang lalu transportasi umum belum sebaik sekarang. Saat itu tempat tinggal kontrak/apartemen juga masih sulit dicari. Yang lebih jelas lagi, teknologi digital dan internet belum booming seperti sekarang. Akibatnya, generasi orang tua kita mau tidak mau harus mengusahakan untuk punya tempat tinggal dan kendaraan.

Tapi sekarang itu bukan lagi prioritas karena toh kita masih bisa wira-wiri naik mobil dengan taksi online yang harganya terjangkau. Untuk tempat tinggal ada banyak kos, rumah kontrakan, atau apartemen yang nyaman ditempati.

Beberapa waktu yang lalu tirto.id sempat merilis bahwa banyak milenial membelanjakan tabungannya untuk traveling demi mendapatkan experience dan foto untuk feed social media instead of investasi. Makan di restoran ala-ala dan gadget juga menjadi chanel pengeluaran. Ngeksis or die pokoknya. Akibatnya, kata tirto.id, mayoritas milenial (urban) tabungannya kurang dari 13 juta.

Kekhawatiran yang kemudian muncul adalah bagaimana jika nanti anak-anak milenial ini jadi tidak punya aset sama sekali ? Jaman sekarang perubahan sosial dan ekonomi bisa terjadi sangat tiba-tiba, bagaimana kalau kita-kita ini tidak siap ?

Beruntung ada media dan orang-orang yang mengangkat isu ownerless era ini. Kita jadi sadar dan bisa bercermin soal pengelolaan uang. Saya belum lama lulus kuliah, tapi selama ini saya sudah menyaksikan orang yang menderita dikejar-kejar tagihan kartu kredit, ada yang tidak bisa meneruskan kredit mobilnya sehingga terpaksa menawarkan over kredit di grup jual beli, atau ada orang yang hedon di tanggal muda tapi jadi pendiam di akhir bulan.

Baik buruk dan jalan apa yang dipilih terserah pada pribadi masing-masing. Saya juga tidak merasa sepenuhnya benar. Alangkah senangnya kalau ada teman yang bisa diajak sharing soal fenomena ini. Tapi untuk saat ini saya bersyukur masih bisa mempertahankan gaya hidup ala mahasiswa saat sudah bekerja hehe..

Sebagai penutup, "rejeki itu urusannya berkah-berkahan"


Chandra

gambar : money.usnews.com

0 comments :

Post a Comment