Ke IKEA


 


IKEA adalah brand yang fenomenal menurut saya. Ketika IKEA membuka store pertamanya di Indonesia pada 2014 lalu, brand asal Swedia ini langsung menjadi standar lifestyle yang baru. Frase 'IKEA Alam Sutera' menjadi sangat catchy karena selama lima tahun mereka bertahan dengan satu cabang ini saja. Saat ini brand ini sudah punya 4 cabang lain: Sentul City (November 2019), Kota Baru Parahyangan (Maret 2021), Jakarta Garden City (September 2021), dan Bali (November 2021).

Setelah sekian lama akhirnya saya berkunjung ke IKEA untuk pertama kalinya. Selama ini saya belum tertarik karena merasa belum perlu beli furnitur disana, alasan yang setelah saya datang sendiri ternyata tidak valid karena IKEA bukan tentang furnitur saja, baca sampai habis untuk tahu maksudnya. Saya datang ke IKEA Alam Sutera tanpa eksplor lebih dulu apa yang ada disana atau tokonya seperti apa.

Ternyata tokonya lebih bagus daripada yang saya kira. Bukan hanya bagus secara fisik bangunan dan produknya ya, tapi juga konsep yang dipresentasikan. Saya menulis ini dengan harapan agar teman-teman yang baca kalau belum tahu jadi tahu, dan kalau sudah tahu jadi semakin ingin datang. Trust me, setidaknya sekali kalian harus kesana. Here we go

Datang ke IKEA seperti jalan-jalan ke museum. Rasanya customer IKEA lebih pas disebut pengunjung daripada pembeli. Begitu masuk toko pengunjung langsung disuguhi peta yang menunjukkan 28 segmen toko yang terbagi dalam 2 lantai. Setiap segmen diberi nomor 1- 28 dan untuk pengalaman yang komplit pengunjung disarankan untuk mendatangi semuanya mengikuti jalur yang disarankan. 


Maaf kawan tulisannya kecil-kecil, I'll explain on the article

Segmen 1 sampai 11 berada di lantai 1 (atas) yang disebut Showroom. Selanjutnya segmen 12 sampai 28 ada di lantai GF yang dinamai Market Hall (bawah). Tentu kalau sudah tahu lokasi barang yang dituju dan tidak ingin mengikuti jalur yang ada juga bisa, ada jalan pintas yang disiapkan. Penunjuk arah dimana-mana, ada panah penunjuk jalur di lantai, setiap segmen punya konsep yang berbeda. Keren sekali.


Pada Showroom lantai 1, setiap segmen mewakili dekorasi satu jenis ruangan seperti ruang keluarga, kamar tidur, ruang kerja, ruang makan, dapur, dll. Produk-produk IKEA ditampilkan dalam set ruangan sebagaimana produk itu akan diaplikasikan. Displaynya sangat nyata. IKEA pun tidak melarang pengunjung untuk duduk pada kursi yang didisplay atau membuka lemari yang ada disana.

Barang display ini tidak untuk diambil. Jika pengunjung ingin membeli, yang perlu dilakukan adalah mem-foto tag produk karena disana ada direktori dimana produk tersebut bisa ditemukan di bagian Market Hall. Ini semacam katalog store, tapi instead of katalog dalam bentuk kertas, ini katalognya tiga dimensi dan bisa disentuh.

IKEA sudah mengantisipasi jika pengunjung lelah berjalan menyusuri ruang-ruang display tersebut. Pada segmen 11 mereka memiliki restoran yang menjual berbagai jenis makanan yang dinamai Swedish Restaurant & Cafe. Menu andalannya adalah Bola Daging Swedia, kalau kesini wajib coba. Selain yang ini, di lantai GF juga ada counter snack yang mereka sebut Swedish Bistro. Serba Swedia.

Oh ya, kita boleh lho datang ke IKEA cuma untuk makan, bahkan mereka punya layanan Drive-thru. Restorannya proper dan fully restaurant gitu, bukan hanya pelengkap sebuah toko furnitur. Rasa enak, tempat bersih, layanan baik terpenuhi semua. IKEA sangat serius dengan bisnis makanannya.

IKEA date
 

Saatnya melanjutkan berbelanja ke lantai GF. Sebagai market hall, disini konsepnya lebih normal seperti toko furnitur pada umumnya. Tentu dengan penataan dan desain interior yang tetap ciamik. Dari segmen 12 sampai 20 pengkategorian dilakukan berdasarkan jenis barang: pecah belah, tekstil, peralatan kamar mandi, lampu, dekorasi, and so on. 

Segmen 21 adalah yang ikonik dan biasa jadi tempat pengunjung foto-foto dengan tema gudang. Segmen ini disebut Self-serve furniture area, pengunjung bisa mengambil furnitur dalam kemasan datar langsung dari rak-raknya (ingat barang yang diincar dari showroom tadi, ini salah satu tempat ambilnya). Selanjutnya segmen 22 adalah As-Is dimana barang-barang obral ditaruh, biasanya karena cacat atau ex-display. Segmen 23 adalah kasir, tentu IKEA menerima segala jenis pembayaran.

 

Sebelum keluar, segmen 24 adalah yang saya bilang Swedish Bistro tadi. Lalu segmen 25 sampai 28 adalah layanan pelengkap. Pengunjung tidak perlu khawatir dengan ketersediaan toilet, mushola, ATM serta fasilitas lain ya, semua ada dan lokasinya ditunjukkan secara jelas di peta. Walaupun sejujurnya jumlah toiletnya agak minim untuk toko sebesar itu.

Jika berbelanja furnitur, trolley bisa dibawa sampai parkiran. IKEA juga sudah menyediakan loading dock di parkiran sehingga belanjaan bisa langsung dimasukkan ke bagasi mobil. Oh ya, parkir di IKEA gratis untuk mobil dan motor. Kalau datang tidak bawa mobil bagaimana, misal pakai taksi atau motor, apakah bisa beli furnitur? Bisa, karena IKEA menyediakan layanan pengiriman. Untuk IKEA Alam Sutera, mereka bisa kirim-kirim se-Jabodetabek.



IKEA juga sangat ramah anak. Mereka menyediakan taman bermain dan tempat penitipan anak yang disebut Smaland, anak-anak bisa bermain disana sementara orang tuanya berbelanja. Tapi tentu kalau anak ingin diajak keliling boleh juga. Di restorannya pun IKEA menyediakan menu kids meal.

Itu tadi catatan perjalanan saya di IKEA Alam Sutera. Menurut saya IKEA menjual 3 hal: furnitur, makanan, dan pengalaman. Store IKEA sangat well-thought dari konsep dasar hingga detail-detailnya. Komplit tapi simpel, ramah bagi semua orang. IKEA menyebut pegawainya dengan istilah co-worker, dan menganggap pengunjungnya sebagai teman.

Saya di IKEA dari jam 13.30 sampai 19.00 dan sama sekali tidak merasa bosan. 

Alhamdulillah..


Chandra


0 comments :

Post a Comment