Generasi Peminum Kopi


Ada perbedaan pada cara saya, dan mungkin kita, dalam memakai Instagram antara dulu saat pertama kali buat akun (2014-an) dan sekarang. Dulu jejaring yang terbentuk didominasi orang yang memang sudah kenal. Mungkin 70% dari following adalah kenalan langsung, sisanya baru akun publik (OG will remember infobdg), public figure (ridwankamil, radityadika, dll), dan tim olahraga favorit. Sementara kini kita dengan mudahnya terpapar konten dari orang yang sama sekali tidak kenal, lewat fitur reels misalnya. Dulu enggak karena cuma bisa upload gambar di profile.

Fitur reels ini yang kini mencekoki saya dengan konten tentang kopi. Entah kenapa, padahal saya minum kopi aja enggak. Baunya pun saya nggak tahan, termasuk bau kopiko permen. Sejauh saya ingat, saya baru minum kopi dua kali seumur hidup, pertama karena dipaksa waktu acara 'pelantikan' malam-malam pas SMA, kedua saat suatu hari bertamu disuguh kopi susu. Booming budaya kopi sejak beberapa tahun terakhir tidak membuat saya ingin ikut ngopi, kalaupun ke kedai kopi ya saya beli es teh. Kalau ke warkop pesennya nutrisari. 

Tapi banyaknya video kopi lama-lama membuat saya kepo juga soal biji satu ini. Bukan sebagai minuman tapi sebagai semacam hobi dan pemuasan curiousity. Karena saya mulai browsing soal kopi dan follow beberapa account, makin banyak lah tu konten kopi. Ada yang sering upload video ASMR saat bikin kopi, demonstrasi alat-alat rumit nan overkill di kofisyop, itung-itungan bisnis kopi, dan pendekar yang menyuarakan pendapatnya soal kopi.



Insight yang menarik menurut saya adalah adanya beberapa wave dalam budaya peminum kopi. Saya nggak nemu di komoditas lain ada yang begini. Setiap generasi peminum kopi ini ada ciri khasnya. Kalau sepaham saya, simpelnya generasi pertama adalah yang minum kopi kemasan dan orientasinya untuk memenuhi kebutuhan, mendapatkan asupan kafein misalnya. Generasi kedua adalah yang minum kopi di jaringan kedai kopi seperti St*rb*cks, Kopi Kenangan, Fore, Famima, dll sebagai lifestyle. Generasi ketiga adalah yang ngopi di kedai kopi artisan dimana minuman kopi diperlakukan sebagai seni atau kerajinan. Lalu generasi keempat adalah yang care dengan bagaimana biji kopi itu ditanam, dipanen, diroasting, dan diproses sebelum akhirnya jadi minuman.


Seorang teman dulu ada yang datang langsung ke perkebunan kopi dan menuliskan pengalamannya jadi generasi keempat peminum kopi ini, sayang sekarang saya cari tulisannya sudah nggak ada. Seru padahal, andai saya bisa minum kopi, saya akan melakukan hal yang sama dengan senang hati.

Salam,
Chandra


gambar 1: dokumentasi pribadi
gambar 2: icocoffee.org

0 comments :

Post a Comment