Personal Blog

Goofy

February 15, 2026 Posted by Chandra Nurohman No comments
Watching new sports is wild, because wym his stance is Goofy?? 



Saya pernah nulis tentang TVRI Sports, di mana berkat channel itu saya bisa tahu berbagai cabang olahraga yang belum pernah dilihat atau belum familiar sebelumnya. Sekarang saya nemu hal yang sama di Ziggo Sport: professional darts, snooker, speed skating, biathlon, balap kuda, tenis, liga hoki Swedia, dan yang terbaru mereka menayangkan Winter Olympics dengan segala cabornya. Watching football is fun, tapi nonton olahraga yang nggak tahu satupun atletnya dan nggak tahu seperti apa aturannya juga seru.


Pertama yang saya lakukan ketika menemukan cabang olahraga baru adalah coba memahami bagaimana cara main dan penilaiannya. Speed skating terlihat seperti cepet-cepetan saja, tapi kalau dilihat meta-nya ada cara main di mana atletnya bertukar lane setiap putaran dan pakai handband warna tertentu untuk penanda mana yang start dari lajur dalam dan lajur luar. 

Professional darts seperti hanya melempar ke arah papan untuk cari skor tertinggi, tapi kalau dilihat lebih cermat mereka mengincar kolom tertentu lebih sering dari yang lain, misalnya triple 20 untuk mengejar one hundred and eighty. Tapi di saat yang lain mereka nyari triple 19 supaya menghilangkan sisa ganjil, lalu di akhir mereka berusaha menyisakan kelipatan 2 (8, 16, 32, 64, dst) supaya lebih mudah closing-nya. 

Setelah tahu cara mainnya, saya mulai bisa membedakan mana yang jago dan mana yang jago banget. Sampai akhirnya tahu beberapa nama seperti Luke Littler, Luke Humphries, dan Van Gerwen di darts; Fedor Gorst, Johan Chua, dan Alcaide di nineball; serta jadi ngerti kalau Alcaraz, Sinner, dan Sabalenka memang sejago itu di tennis. Atlet-atlet langganan juara ini asik ditonton sebagai neutral karena kadang-kadang mereka bisa perform sesuatu yang nggak terpikir sebelumnya, seperti nonton prime Messi membawa bola melewati 5 pemain lawan.


Sampai level ini mulai terasa ada olahraga yang bisa saya nikmati dan yang tidak. Kalau saya minat akan saya dalami lebih jauh lagi seperti bagaimana sejarahnya olahraga ini, saya cari highlight-highlight-nya di youtube, dan saya eksplor trivia-trivia yang ada misalnya bagaimana dalam hill jump dulu atlet lompat dengan posisi ski sejajar namun setelah diriset ternyata posisi V memungkinkan terbang lebih jauh dan lama, kemudian dalam lompat tinggi seorang atlet mengubah cara lompat once and for all dari konvensional ke cara punggung, dan tentu saja saya cari tahu soal stance goofy tadi.

Jadi ternyata dalam cabang olahraga halfpipe dulu awalnya pemain melompat dengan posisi kaki kiri di depan. Lalu muncullah tokoh kartun Goofy yang kalau berselancar kaki kanannya di depan. Ketika akhirnya ada atlet profesional yang menirunya kemudian gaya itu disebut gaya Goofy. Ya, dari kartun ke panggung olimpiade.

Salam olahraga,
Chandra

Belajar Hukum

February 08, 2026 Posted by Chandra Nurohman , No comments
Hari Sabtu (7/2) kemarin Ikatan Alumni ITB di Belanda (IAITB NL) mengadakan sebuah seminar berjudul Technology x Law. Ide diadakannya acara ini adalah karena akhir-akhir ini ada beberapa kasus hukum yang menjerat kalangan teknokrat. Acara ini mencoba memberikan wawasan hukum dasar bagi para anggota dan membahas beberapa kasus yang sudah terjadi atau sedang berjalan. Ali Abdillah, dosen UI sekaligus lawyer yang saat ini sedang menempuh S3 di Universitas Utrecht diminta untuk jadi pembicara. Acara diadakan di meeting hall Stichting Generasi Baru (SGB) di Utrecht.

                         foto oleh IAITB NL

Menurut seminar ini, hal yang membuat teknokrat rawan kena masalah hukum adalah:
1. Terlalu fokus pada aspek teknologi tanpa mau memahami hukum dan prosedur. Due diligence jadi kurang karena pengetahuan hukum yang terbatas.
2. Ingin memindahkan budaya privat/korporat yang cepat dan satset ke sektor publik yang birokratis dan prosedural. Menurut Ali namanya birokrasi publik itu dibuat supaya ribet karena ada uang masyarakat yang dikelola di sana.

Ada dua kasus yang jadi case study di seminar ini, dua-duanya oleh alumni ITB. Kasus pertama adalah Dasep Ahmadi, beliau divonis 7 tahun penjara dalam kasus kendaraan listrik. Kasus ini sempat ramai dan ada keberpihakan publik di Pak Dasep waktu itu karena dianggap negara menangkap periset. Riset kan nggak harus berhasil, gimana negara bisa maju kalau ilmuwan ditangkap karena risetnya tidak sesuai ekspektasi, dan lain sebagainya.

Ali yang sudah membaca ratusan halaman putusan Dasep Ahmadi dari tingkat PN, Banding, Kasasi, sampai PK mengatakan bahwa fakta hukumnya tidak demikian. Fakta atau berita yang bereder di masyarakat dan fakta hukum di persidangan adalah dua hal yang berbeda. Ini yang sering gagal dipahami orang plus diperparah dengan media yang membuat judul click bait.

Fakta persidangannya adalah bahwa perjanjian antara perusahaan Pak Dasep dengan negara/BUMN saat itu adalah pengadaan biasa bukan riset. Dengan uang yang diberikan Pak Dasep berkomitmen untuk mendeliver 16 kendaraan listrik yang akan digunakan untuk mengangkut delegasi APEC. Pada akhirnya hanya 3 kendaraan yang jadi, itupun tidak memenuhi standar kelayakan dan tidak bisa dioperasikan sebagai kendaraan umum. Kerugian negara milyaran rupiah menurut BPKP terjadi karena negara sudah membayar 85-95% pada PT yang dimiliki Pak Dasep.

Hukum tidak peduli jika yang terjadi di bengkel adalah riset, trial and error, dan semacamnya. Hukum tahunya PT berkomitmen memberikan 16 kendaraan yang ternyata tidak bisa dipenuhi. Kalau memang tujuannya riset, perjanjian dan deliverables-nya berbeda. Bendera yang dipakai untuk riset juga mestinya lembaga riset bukan PT yang berbisnis dengan orientasi profit. 

Kasus kedua yang dibahas adalah Karen Agustiawan, Dirut Pertamina yang terjerat kasus investasi pada blok Basker Manta Gummy (BMG) Australia pada 2009. Investasi Pertamina di BMG saat itu boncos karena hasil eksplorasi yang diperoleh jauh di bawah harapan. Akhirnya Pertamina cutloss dengan melakukan divestasi tapi kerugian sudah terjadi karena valuasi yang turun. Bu Karen dianggap menyalahgunakan wewenang dan sudah sempat divonis bersalah di tingkat PN dan dikuatkan di tingkat Banding karena dianggap merugikan keuangan negara lebih dari 200 milyar. 

Ali bilang bahwa ada dua aliran dalam menilai apakah uang BUMN itu uang negara. Menurut UI, uang BUMN bukan uang negara walaupun itu penyertaan modal negara, alasannya ketika sudah masuk pembukuan BUMN ada pertimbangan bisnis di sana yang kadang butuh fleksibilitas dalam penggunaan dana. Sementara menurut UGM, uang BUMN adalah uang negara, paham ini yang saat ini dianut dalam penulisan hukum sehingga kerugian Pertamina = kerugian uang negara.

Tapi Karen menang di tingkat Kasasi dan divonis bebas. Dalam putusannya ada beberapa hal yang meringankan: (Ali meringkas dari putusan, saya rephrase lagi)
1. Investasi di BMG adalah keputusan bisnis yang gagal bukan tindak pidana.
2. Sudah jadi rahasia umum bahwa bisnis migas adalah bisnis resiko tinggi, no risk no business.
3. Karen tidak menerima aliran dana.
4. Dewan Komisaris sudah meng-approve keputusan bisnis itu namun sehari setelah penandatanganan kesepakatan DK menarik aprovalnya alias mendua.

Ada beberapa kasus lain yang dimention tapi tidak dibahas jauh karena persidangan masih berjalan seperti Ibrahim Arief dan Nadiem. Tapi Ali memberikan contoh bahwa keputusan Nadiem untuk membuat shadow team di kementeriannya adalah contoh budaya korporat yang dibawa ke sektor publik secara tidak ideal. Ya mungkin itu akan mempercepat beberapa proses, tapi itu bukan cara birokrasi bekerja. Meski begitu karena persidangan masih berjalan segala kemungkinan masih bisa terjadi.

Chandra.





Castle

February 02, 2026 Posted by Chandra Nurohman No comments
Series Castle mengisahkan soal seorang penulis novel misteri Richard Castle yang menjadi konsultan untuk detektif NYPD Kate Beckett. Pertemuan keduanya dimulai ketika Detektif Beckett menyelidiki sebuah kasus pembunuhan dengan modus operandi yang sangat mirip dengan salah satu cerita dalam novel Castle. Berawal dari diminta keterangan soal siapa yang mungkin melakukan copy-cat dari novelnya, Castle kemudian menjadi konsultan yang ikut menangani kasus-kasus Becket. Selanjutnya you can guess, they're falling for each other.


Sebagai homicide detective di NYPD, kasus yang mereka tangani adalah kasus-kasus pembunuhan. Hebatnya, series Castle mampu menyajikan penyelesaian kasus pembunuhan tanpa membuat show-nya terlalu gore. Ada banyak crime series berbasis forensik yang saya hindari karena tidak tahan melihat terlalu banyak internal part manusia. Castle mampu menghaluskan bagian ini sehingga orang seperti saya bisa menikmati kedelapan season-nya. Ini adalah poin plus utama untuk Castle.

Sebagai penikmat yang nonton bukan hanya untuk pemecahan kasusnya tapi juga mencari tawa, karakter Castle yang dibawakan oleh Nathan Fillion patut diacungi jempol. Menurut saya penampilannya di sini lebih baik daripada di The Rookie sebagai John Nolan. Nolan agak terlalu kaku dan terbatas karena personanya sebagai anggota LAPD, sementara sebagai Castle yang orang sipil bisa lebih keluar banyolan dan terobosannya. 


Formula di mana seorang law enforcement berpartner dengan unortodox figure sudah dipakai beberapa series lain dan yang jadi favorit saya adalah White Collar. Di sana ada Peter Burke dan Neal Caffrey, agen FBI dan konsultannya seorang ex-conman yang bersama-sama membongkar banyak kejahatan intelektual. Peter Burke setipe Kate Beckett: driven, cerdas, dan lurus. Sementara Neal Caffrey sejenis Richard Castle: resourceful, keras kepala, out-of-the-box thinker. Dua duo ini sangat mirip, terlalu mirip untuk dibilang kebetulan, mereka memang mengikuti rumus yang sama.

Bahkan secara sengaja Castle menaruh lumayan banyak Easter Egg, pada S08E19 ketika Castle dan Beckett melacak LokSat mereka menemukan bahwa Caleb Brown menggunakan nama alias Peter McCaffrey, wow sangat jelas sekali ya. Selain itu pada season 4 ada beberapa yang lebih subtle, seperti terlibatnya pemeran Matthew Keller dan Sara Ellis, serta penggunaan nama 'Bagwell' dan 'Scofield' (satu ini dari Prison Break). Pemeran Linc Burrows (Prison Break), Rachel Zane (Suits), dan Jessica Pearson (Suits) juga ada di Castle. 

Tapi dalam Castle, Kate Beckett bukan hanya digambarkan sebagai detektif wanita, tapi juga hot cop. Ini membuka kemungkinan dinamika hubungan antara Castle dan Beckett yang tidak dimiliki White Collar. Bumbu romance yang ada di Castle menurut saya adalah nilai tambah yang membuatnya bukan hanya crime-comedy tapi crime-romcom. Walaupun sebab itu pula Castle jadi rated as TV-14 karena adanya intense violence, sexual context, dan mature themes. Rating ini lebih ketat daripada White Collar yang TV-PG. 

Untuk peran pendukung, saya mengapresiasi penampilan Detektif Esposito dan Detektif Ryan. Keduanya punya presence yang cukup banyak dalam cerita, bukan hanya sebagai tembok yang memantulkan dialog. Bahkan ada episode-episode tertentu di mana mereka menjadi centernya. Dinamika antara keduanya juga menarik, satu Latin satu Irish, satu rebel satu lurus, satu menjuluki yang lainnya Castle junior saking mudahnya dipengaruhi oleh ide-ide gila Castle. Dokter Lanie Parish sebagai medical examinator sekaligus wing-lady-nya Beckett juga tampil baik terutama dalam fase manas-manasi Beckett ketika didekati oleh Castle.


Justru yang agak maksa adalah penempatan putri Castle, Alexis, yang digambarkan jadi sumber inspirasi Castle dalam memecahkan kasus. Alexis ini ingin dibuat seperti Mozzie-nya Neal Caffrey, but not quite. Alexis digambarkan seperti anak-anak biasa yang tumbuh dewasa, lalu darimana dia mendapatkan skill investigasi? Tapi tetap patut diapresiasi bagaimana dia eksis dari S1 sampai S8 dan tumbuh dari anak-anak menjadi dewasa. Along the series orang dewasa 'hanya' tampak menua, tapi yang mulai sebagai anak-anak akan sangat terlihat perbedaannya, lihat Sheldon yang lama-lama tidak lagi Young.

Model cerita Castle adalah satu episode satu kasus lalu ada underlying case yang berjalan panjang. Sayangnya umdetlying case ini dalam Castle terasa tipis dan dipanjang-panjangkan. Dari awal sampai akhir kasus yang ingin diungkap hanya satu. Ini terasa kurang untuk memberikan spark-spark ketika penonton mulai bosan dengan kasus-kasus yang muncul di tiap episode-nya. Kualitas per episode-nya tidak kalah dengan White Collar, tapi underlying case yang dihadari Caffrey dan Burke lebih banyak dan menarik, mulai dari perjuangan menemukan Kate Moreau sampai keinginan Caffrey untuk bebas.


Bicara soal Caffrey bebas, 10-15 menit terakhir dari White Collar mungkin adalah finale terbaik yang pernah saya tonton dari semua produk sinema. Kualitasnya sulit ditandingi siapapun termasuk Castle. Ending Castle oke, tapi masih di bawah White Collar. Itu salah satu faktor juga yang membuat Rotten Tomatoes Castle 'hanya' 82/86 compared to 96/93-nya White Collar.

Rating di atas 80 tentu tidaklah buruk, dan memang Castle sangat bisa dinikmati. Selama berbulan-bulan ini adalah go-to show saya. Unsur pemecahan kasusnya kreatif, komedinya lucu, cast-nya bagus, tensinya tidak terlalu tinggi, dan yang paling penting sukses menggambarkan homicide tanpa terlalu banyak darah. Castle sangat bisa ditonton siapapun (asal memenuhi rating umur) dan cocok untuk teman bersantai atau makan siang.


Chandra


Korea Selatan 2002

January 28, 2026 Posted by Chandra Nurohman , No comments

Singkat cerita saya menemukan plang selamat datang ini. Papan ini berdiri di pinggir jalan memberitahukan bahwa di depan sudah masuk area Varsseveld. Yang menarik adalah di papan ini ada tulisan dengan huruf Korea, tapi untuk apa aksara Korea ada di sana? Varsseveld itu kota kecil yang rasanya tidak mungkin jadi sister city suatu kota di Korea. Saya juga tidak melihat ada Korean Town atau area yang bernuansa Korea di sana.

Karena penasaran saya translate tulisan Korea itu dengan Google, ternyata terjemahannya adalah "This is Hiddink's hometown". Sekarang jadi masuk akal kenapa ada tulisan Korea di Varsseveld, ini soal sepak bola. Guus Hiddink adalah nama yang tersohor di dunia sepak bola terutama sebagai pelatih. Dia pernah melatih klub-klub besar seperti Real Madrid, Chelsea, dan PSV. Sementara itu di level timnas dia pernah menangani timnas Belanda, Turki, Australia, dan tentu saja Korea Selatan.


Guus Hiddink adalah pelatih Korea Selatan di piala dunia 2002 Korea-Jepang. Saat itu Korsel yang dibintangi Park Ji Sung dan Ahn Jung Hwan berhasil masuk semifinal sebelum kalah dari Jerman (Kahn, Ballack, dkk). Pada perebutan juara 3 Korsel kalah lagi lawan Turki sehingga harus puas di posisi 4. Tapi prestasi ini sudah dianggap sangat tinggi hingga figur Hiddink sudah jadi seperti pahlawan bagi orang Korea. Karena Hiddink lahir dan besar di Varsseveld, jadilah ada hubungan unik antara Korea dan kota kecil ini.

Alamat rumah di mana Guus Hiddink dulu tinggal tersebar di kalangan orang Korea sampai-sampai banyak turis Korea datang pakai bis ke Varsseveld. Padahal tempat ini jauh dari kota besar seperti Amsterdam. Saking inginnya mengabadikan momen itu kabarnya mereka sampai membawa pulang kerikil dari pekarangan rumah Hiddink sebagai suvenir. Andai kemarin Indonesia berhasil lolos Piala Dunia bersama STY, mungkin banyak pula orang Indonesia yang akan menyerbu rumahnya di Korea sana.


Chandra

Anomali Air

January 18, 2026 Posted by Chandra Nurohman No comments

Waktu SD dulu salah satu pertanyaan yang sering muncul di ujian IPA adalah "peristiwa pemuaian air ketika suhunya turun dari 4 ke 0 derajat celcius disebut?". Jawabannya anomali air, sudah, pokoknya ketika ada kata kunci 4 dan 0 derajat maka jawabannya pasti anomali air. Jarang sekali dijelaskan atau ditanya lebih lanjut apa yang sebenarnya terjadi, kenapa itu bisa terjadi, dan yang paling penting apa akibatnya dan kenapa itu penting. Saya juga baru mengerti ketika dewasa, lebih tepatnya ketika menghadapi langsung fenomena ini di alam. 

Ketika membeku menjadi es, ikatan antar molekul hidrogen membentuk struktur kristal yang punya ruang terbuka di antaranya. Ini menjadikannya lebih 'longgar' dan berat jenisnya berkurang hingga densitas es lebih rendah daripada densitas air. Berat jenis yang lebih rendah menjadikan sesuatu mengapung, contoh gampang dari ini adalah es batu yang selalu ada di atas dalam segelas es teh. Tapi ada dampak yang lebih besar dan penting dari anomali air ini yaitu apa yang terjadi di sungai dan danau pada musim dingin.

Ketika suhu udara turun mendekati nol atau bahkan minus, ada delay sampai suhu air danau atau sungai mencapai titik beku. Ini dikarenakan air masih menyimpan panas dari hari atau kondisi sebelumnya. Ketika terekspos udara dingin cukup lama, suhu permukaan akan turun dan lama-kelamaan membeku. Here's the catch, karena berat jenisnya di 0 derajat lebih rendah daripada di 4 derajat, air yang mula-mula membeku tadi tetap ada di atas. 

Air tidak membeku kemudian tenggelam ke bawah seperti yang intuitively terjadi ketika barang yang sama dibandingkan kondisi padat dan cairnya. Normalnya jarak antar molekul pada kondisi padat lebih dekat satu sama lain daripada saat kondisi cair, nantinya lebih renggang lagi pada kondisi gas. Tapi air tidak selalu normal makanya disebut anomali. Umumnya benda memuai ketika suhu dinaikkan, tapi khusus air pada suhu 4 ke 0 derajat celcius, pemuaian juatru terjadi saat suhunya turun alias didinginkan.

Karena air yang mengalami proses pembekuan tetap berada di atas (mengapung), sungai dan danau di musim dingin membeku dari bagian atasnya lebih dulu. Kemudian lapisan es yang semakin tebal ini justru menjadi insulasi alami dan efektif agar suhu air di bawah es tidak turun lagi. Ikan dan segala makhluk hidup yang ada di air jadi bisa hidup seperti biasanya. Bayangkan jika body of water membeku dari bawahnya, satu sungai atau danau bisa membeku total dan mematikan hewan dan tumbuhan di dalamnya. Bisa-bisa setiap musim dingin terjadi potong generasi satu ekosistem.


Maka betapa canggihnya alam ini diciptakan-Nya. Selain menjaga kelestarian makhluk air, sungai yang beku juga bisa jadi lokasi ice skating dadakan. Musim dingin itu physically challenging, setiap keluar ruangan harus pakai baju tebal berlapis, sepatu, penutup kepala, dan sarung tangan. Melepas sarung tangan 30 detik saja sudah bisa membuat ujung jari seperti ditusuk, seperti memasukkan tangan ke freezer untuk mengambil sesuatu yang nggak keambil-ambil karena beku. Aktivitas olahraga, commuting, atau berbelanja jadi lebih repot dari biasanya. Belum lagi hari yang pendek dan matahari yang jarang terlihat rawan menyebabkan seasonal depression.

Maka penting untuk mengubah mindset dari survival menjadi enjoying. Ice skating di sungai yang beku tadi salah satunya, tapi sekedar jalan-jalan ke luar pun bisa menyenangkan kalau fokusnya pada saljunya bukan pada dingin dan repotnya. Maka alhamdulillah ini adalah beberapa momen putih yang sempat saya capture beberapa minggu kemarin.

Salam,
Chandra

Hujan Ucapan

January 11, 2026 Posted by Chandra Nurohman No comments

Dua minggu di penghujung tahun adalah lebarannya orang barat. Sejak weekend terakhir sebelum natal orang-orang sudah sibuk christmas shopping. Pekerja yang bisa cuti akan ambil cuti hingga bisa libur sampai setelah tahun baru, jam buka toko-toko dan bisnis berubah atau malah tutup karena menggaji karyawan lembur akan mahal, anak-anak sekolah libur, aktivitas sosial ditiadakan dengan alasan winter vakantie, dan jalanan jadi lebih sepi. Nantinya kehidupan baru normal kembali pada senin pertama di tahun yang baru. 

Maka sejak tanggal 18-19-20 Desember sudah banyak yang pamit liburan dengan bilang, "My vacation is here, see you guys next year, merry christmas and happy new year". Biasanya akan saya jawab dengan, "Enjoy, have a good time and happy new year". Lalu saya baru merasakan betapa banyaknya saya mendapat ucapan selamat natal tahun ini. Saya memang tidak mengumumkan kalau saya tidak natalan, hanya jika ditanya. Saya juga tahu mereka tidak ada niat menyinggung keyakinan, otomatis saja keluar ucapan selamat natal sepaket dengan selamat tahun baru karena budayanya begitu.

Ini sama seperti di Indonesia yang, setidaknya saya, sering tanpa sadar menggunakan referensi Islam ketika berkomunikasi dengan teman agama lain. Kadang-kadang ketika janjian kita pakai acuan waktu salat misalnya sebelum jumatan atau setelah maghrib. Padahal mereka belum tentu tahu itu jam berapa dan bukan kewajiban mereka untuk mencari tahu. Ketika hari jumat kita juga 'memaksa' mereka untuk mengerti bahwa kita baru akan kembali bekerja jam setengah 2 karena setelah salat baru kita hitung jam istirahatnya. 

Di lain waktu mungkin kita sebagai muslim pernah makan rendang dengan lahapnya di depan orang yang keyakinannya tidak boleh makan daging sapi. Saya pernah stupidly menawarkan malkist abon sapi kepada teman yang Budha. Saya nggak tahu apa yang dia pikirkan saat itu, bisa jadi tersinggung atau bisa juga biasa saja. Tapi the magnitude of kesalahan saat itu baru saya pahami sekarang ketika posisinya sebagai minoritas.

Mayoritas, dimanapun berada, sering take it for granted bahwa keyakinan mereka bisa membentuk standar sosial yang harus diikuti semua orang termasuk yang pribadinya punya paham berbeda. Maka pelajarannya dari ini saya pikir adalah sebelum berdebat soal boleh nggaknya mengucapkan selamat natal ada baiknya kita periksa dulu apakah kita masih suka kelepasan menggunakan istilah yang sebenarnya internal tapi kita pakai di dunia luar.

Ini bukan memisahkan agama dengan budaya, tapi justru menempatkan agama pada tempatnya. Lagi pula kalau memakai pertimbangan citra baik (mau tulis dakwah kok kayaknya terlalu jauh), terlali banyak menggunakan istilah sebelum jumatan setelah maghrib tadi bukannya mendekatkan orang justru menjadikan orang merasa berjarak. Justru menjadi considerate serta memahami sudut pandang dan paham orang lain menurut keyakinan saya lebih baik dan produktif.

Salam,
Chandra

2025 ke 2026

January 03, 2026 Posted by Chandra Nurohman No comments

Buat saya tema 2025 adalah integrasi. Kami memulai tahun dengan perasaan masih menjadi setengah penduduk. Suasananya masih adaptasi, baru pada tahap memastikan apa-apa yang dibutuhkan tahu dimana bisa didapat. Saat itu banyak hal yang kami belum tahu, misalnya bahwa setiap orang harus terdaftar ke general practicioner agar punya akses ke layanan kesehatan, kalau buang sampah harus dipilah sehingga di rumah perlu ada beberapa tempat sampah terpisah, dan lain sebagainya.

Seiring berjalannya waktu kami berusaha untuk belajar jadi warga biasa pada umumnya. Kami berusaha memahami bahasa level dasar, kebiasaan orang-orang, dan norma yang berlaku di masyarakat. Itu semua bukan untuk menjadi model citizen, sekedar bentuk respect dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung, plus agar tidak kena semprot orang Belanda yang kalau negur zero basa-basi. Sebisa mungkin jangan sampai melakukan rookie mistakes.

Saya menemukan bahwa integrasi memang perlu dipaksa. Untuk bisa ngobrol dan kenal ya harus ketemu orang. Dari sekedar keluar rumah melihat bagaimana cara orang berjalan, menyeberang, dan bersepeda saja banyak yang bisa dipelajari. Bagaimana cara memberi sinyal kalau mau belok, boleh nggak pakai headphone ketika berjalan, mesti gimana kalau mau nyebrang jalan raya, dan lain-lain. Nantinya ketika nyetir lebih banyak lagi yang dicari tahu dan sampai sekarang saya masih belajar.

Ketika kami ke pasar atau ke toko niatnya bukan hanya untuk belanja kebutuhan tapi juga untuk ketemu orang. Ketemu kasir toko, pelayan warung makan, dan pedagang di pasar minimal memoles English speaking syukur-syukur belajar memahami Dutch. Sebagai orang yang lumayan hobi COD barang marktplaats (semacam OLX), saya mengalami beberapa momen seru, tak terduga, dan awkward. Suatu waktu saat sedang menunggu bis sambil nonton tayangan sepakbola di handphone tiba-tiba ada grandpa nyamperin mau ikut nonton. Kami terpaksa ngobrol pakai bahasa isyarat karena saya masih baru dan beliau sudah sepuh kurang bisa English, tapi bahasa universal bola menghubungkan kami. Apapun itu ya saya coba telan dan tertawakan saja, namanya juga ngumpulin 'poin integrasi'. 

Sama seperti main game Pokemom GO yang ketika baru mulai naik levelnya cepet karena setiap saat dapat pokemon atau item baru. Begitu juga pindah ke tempat yang asing, setiap saat belajar sesuatu yang baru. Sekedar di mana ada swalayan, masjid, dan warung halal saja bisa jadi perbendaharaan informasi yang penting. Alhamdulillah-nya di sini kebutuhan dasar terpenuhi dan basic safety terjaga. Jadi kalau ada culture shock ya hanya menyebalkan saja tidak sampai membahayakan.

Selain eksposure dengan lingkungan dan kehidupan masyarakat sekitar, saya merasa integrasi sangat terbantu dengan banyaknya orang Indonesia yang saya temui tahun ini (2025). Ketika jumlah kenalan masih terbatas, rasanya konsep mutual friends dan six degress of separation bekerja in full flow. Satu orang baru bisa menghubungkan ke 5 orang lainnya, lalu masing-masing dari 5 orang itu menghubungkan ke 5 yang lain lagi, begitu seterusnya. 

Pengajian, padel, dan paguyuban ikatan alumni kampus adalah tempat di mana saya paling banyak ketemu teman baru. Beberapa diantaranya sampai akrab karena ketemu itu lagi itu lagi. Kalau dibuat venn diagram, ada banyak yang masuk di 2 dari 3 lingkaran itu atau bahkan di tiga-tiganya. Dikarenakan usia dan cerita yang serupa jadi lebih gampang nyambung satu sama lain. Saya bersyukur di sini ketemu lumayan banyak abang-abangan senior yang bisa ditanya macam-macam hal.

Selain jumlah yang bertambah, kedekatan dan frekuensi ketemu juga makin banyak. Awalnya dulu kami hanya ikut satu forum pengajian yang diadakan tiap bulan. Lebih baik daripada tidak sama sekali tapi rasanya itu masih kurang. Untung setelah itu ada demam padel sehingga ada media dan alasan untuk bersosialisasi hampir tiap minggu. Kemudian menjelang akhir tahun kemarin beberapa keluarga muda Indonesia yang bertetangga bersepakat membuat forum pengajian kecil-kecilan juga. Sirkel ini lebih rapat lagi karena jumlahnya (masih) sedikit, tinggalnya berdekatan, umur sebaya, dan acaranya sambil makan-makan di rumah.




Maka dengan itu semua alhamdulillah yang tadinya masih seperti turis sekarang terasa makin ngomah. Di luar itu setelah melewati satu siklus musim tahunan badan juga sudah lebih beradaptasi. Tahun ini winternya agak lebih dingin tapi bukannya kedinginan kami malah bisa menikmati salju yang turun lebih deras dan tebal. Untuk makanan walaupun utamanya masih masak sendiri masakan indonesia dengan nasi, tapi pelan-pelan juga makin bisa menerima budaya makan lokal dan makanan mancanegara. 

Hal yang terasa masih dan mungkin akan tetap berat adalah berada jauh dari rumah. Memang jaman sekarang komunikasi sudah sangat mudah, telepon dan videocall dalam genggaman. Setiap hari juga ada penerbangan Jakarta Amsterdam dan sebaliknya. Tapi jarak yang jauh dan perbedaan waktu tetap bisa draining kalau kedekatan hati dan doa tidak dijaga.

Selamat tahun baru 2026, semoga apa yang baik-baik di tahun lalu bisa diteruskan tahun ini. Sukses untuk apa yang direncanakan ke depan, semoga selalu bahagia dalam lindungan-Nya.

Chandra