Personal Blog

Hujan Ucapan

January 11, 2026 Posted by Chandra Nurohman No comments

Dua minggu di penghujung tahun adalah lebarannya orang barat. Sejak weekend terakhir sebelum natal orang-orang sudah sibuk christmas shopping. Pekerja yang bisa cuti akan ambil cuti hingga bisa libur sampai setelah tahun baru, jam buka toko-toko dan bisnis berubah atau malah tutup karena menggaji karyawan lembur akan mahal, anak-anak sekolah libur, aktivitas sosial ditiadakan dengan alasan winter vakantie, dan jalanan jadi lebih sepi. Nantinya kehidupan baru normal kembali pada senin pertama di tahun yang baru. 

Maka sejak tanggal 18-19-20 Desember sudah banyak yang pamit liburan dengan bilang, "My vacation is here, see you guys next year, merry christmas and happy new year". Biasanya akan saya jawab dengan, "Enjoy, have a good time and happy new year". Lalu saya baru merasakan betapa banyaknya saya mendapat ucapan selamat natal tahun ini. Saya memang tidak mengumumkan kalau saya tidak natalan, hanya jika ditanya. Saya juga tahu mereka tidak ada niat menyinggung keyakinan, otomatis saja keluar ucapan selamat natal sepaket dengan selamat tahun baru karena budayanya begitu.

Ini sama seperti di Indonesia yang, setidaknya saya, sering tanpa sadar menggunakan referensi Islam ketika berkomunikasi dengan teman agama lain. Kadang-kadang ketika janjian kita pakai acuan waktu salat misalnya sebelum jumatan atau setelah maghrib. Padahal mereka belum tentu tahu itu jam berapa dan bukan kewajiban mereka untuk mencari tahu. Ketika hari jumat kita juga 'memaksa' mereka untuk mengerti bahwa kita baru akan kembali bekerja jam setengah 2 karena setelah salat baru kita hitung jam istirahatnya. 

Di lain waktu mungkin kita sebagai muslim pernah makan rendang dengan lahapnya di depan orang yang keyakinannya tidak boleh makan daging sapi. Saya pernah stupidly menawarkan malkist abon sapi kepada teman yang Budha. Saya nggak tahu apa yang dia pikirkan saat itu, bisa jadi tersinggung atau bisa juga biasa saja. Tapi the magnitude of kesalahan saat itu baru saya pahami sekarang ketika posisinya sebagai minoritas.

Mayoritas, dimanapun berada, sering take it for granted bahwa keyakinan mereka bisa membentuk standar sosial yang harus diikuti semua orang termasuk yang pribadinya punya paham berbeda. Maka pelajarannya dari ini saya pikir adalah sebelum berdebat soal boleh nggaknya mengucapkan selamat natal ada baiknya kita periksa dulu apakah kita masih suka kelepasan menggunakan istilah yang sebenarnya internal tapi kita pakai di dunia luar.

Ini bukan memisahkan agama dengan budaya, tapi justru menempatkan agama pada tempatnya. Lagi pula kalau memakai pertimbangan citra baik (mau tulis dakwah kok kayaknya terlalu jauh), terlali banyak menggunakan istilah sebelum jumatan setelah maghrib tadi bukannya mendekatkan orang justru menjadikan orang merasa berjarak. Justru menjadi considerate serta memahami sudut pandang dan paham orang lain menurut keyakinan saya lebih baik dan produktif.

Salam,
Chandra

0 comments:

Post a Comment