Buat saya tema 2025 adalah integrasi. Kami memulai tahun dengan perasaan masih menjadi setengah penduduk. Suasananya masih adaptasi, baru pada tahap memastikan apa-apa yang dibutuhkan tahu dimana bisa didapat. Saat itu banyak hal yang kami belum tahu, misalnya bahwa setiap orang harus terdaftar ke general practicioner agar punya akses ke layanan kesehatan, kalau buang sampah harus dipilah sehingga di rumah perlu ada beberapa tempat sampah terpisah, dan lain sebagainya.
Seiring berjalannya waktu kami berusaha untuk belajar jadi warga biasa pada umumnya. Kami berusaha memahami bahasa level dasar, kebiasaan orang-orang, dan norma yang berlaku di masyarakat. Itu semua bukan untuk menjadi model citizen, sekedar bentuk respect dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung, plus agar tidak kena semprot orang Belanda yang kalau negur zero basa-basi. Sebisa mungkin jangan sampai melakukan rookie mistakes.
Saya menemukan bahwa integrasi memang perlu dipaksa. Untuk bisa ngobrol dan kenal ya harus ketemu orang. Dari sekedar keluar rumah melihat bagaimana cara orang berjalan, menyeberang, dan bersepeda saja banyak yang bisa dipelajari. Bagaimana cara memberi sinyal kalau mau belok, boleh nggak pakai headphone ketika berjalan, mesti gimana kalau mau nyebrang jalan raya, dan lain-lain. Nantinya ketika nyetir lebih banyak lagi yang dicari tahu dan sampai sekarang saya masih belajar.
Ketika kami ke pasar atau ke toko niatnya bukan hanya untuk belanja kebutuhan tapi juga untuk ketemu orang. Ketemu kasir toko, pelayan warung makan, dan pedagang di pasar minimal memoles English speaking syukur-syukur belajar memahami Dutch. Sebagai orang yang lumayan hobi COD barang marktplaats (semacam OLX), saya mengalami beberapa momen seru, tak terduga, dan awkward. Suatu waktu saat sedang menunggu bis sambil nonton tayangan sepakbola di handphone tiba-tiba ada grandpa nyamperin mau ikut nonton. Kami terpaksa ngobrol pakai bahasa isyarat karena saya masih baru dan beliau sudah sepuh kurang bisa English, tapi bahasa universal bola menghubungkan kami. Apapun itu ya saya coba telan dan tertawakan saja, namanya juga ngumpulin 'poin integrasi'.
Sama seperti main game Pokemom GO yang ketika baru mulai naik levelnya cepet karena setiap saat dapat pokemon atau item baru. Begitu juga pindah ke tempat yang asing, setiap saat belajar sesuatu yang baru. Sekedar di mana ada swalayan, masjid, dan warung halal saja bisa jadi perbendaharaan informasi yang penting. Alhamdulillah-nya di sini kebutuhan dasar terpenuhi dan basic safety terjaga. Jadi kalau ada culture shock ya hanya menyebalkan saja tidak sampai membahayakan.
Selain eksposure dengan lingkungan dan kehidupan masyarakat sekitar, saya merasa integrasi sangat terbantu dengan banyaknya orang Indonesia yang saya temui tahun ini (2025). Ketika jumlah kenalan masih terbatas, rasanya konsep mutual friends dan six degress of separation bekerja in full flow. Satu orang baru bisa menghubungkan ke 5 orang lainnya, lalu masing-masing dari 5 orang itu menghubungkan ke 5 yang lain lagi, begitu seterusnya.
Pengajian, padel, dan paguyuban ikatan alumni kampus adalah tempat di mana saya paling banyak ketemu teman baru. Beberapa diantaranya sampai akrab karena ketemu itu lagi itu lagi. Kalau dibuat venn diagram, ada banyak yang masuk di 2 dari 3 lingkaran itu atau bahkan di tiga-tiganya. Dikarenakan usia dan cerita yang serupa jadi lebih gampang nyambung satu sama lain. Saya bersyukur di sini ketemu lumayan banyak abang-abangan senior yang bisa ditanya macam-macam hal.
Selain jumlah yang bertambah, kedekatan dan frekuensi ketemu juga makin banyak. Awalnya dulu kami hanya ikut satu forum pengajian yang diadakan tiap bulan. Lebih baik daripada tidak sama sekali tapi rasanya itu masih kurang. Untung setelah itu ada demam padel sehingga ada media dan alasan untuk bersosialisasi hampir tiap minggu. Kemudian menjelang akhir tahun kemarin beberapa keluarga muda Indonesia yang bertetangga bersepakat membuat forum pengajian kecil-kecilan juga. Sirkel ini lebih rapat lagi karena jumlahnya (masih) sedikit, tinggalnya berdekatan, umur sebaya, dan acaranya sambil makan-makan di rumah.
Maka dengan itu semua alhamdulillah yang tadinya masih seperti turis sekarang terasa makin ngomah. Di luar itu setelah melewati satu siklus musim tahunan badan juga sudah lebih beradaptasi. Tahun ini winternya agak lebih dingin tapi bukannya kedinginan kami malah bisa menikmati salju yang turun lebih deras dan tebal. Untuk makanan walaupun utamanya masih masak sendiri masakan indonesia dengan nasi, tapi pelan-pelan juga makin bisa menerima budaya makan lokal dan makanan mancanegara.
Hal yang terasa masih dan mungkin akan tetap berat adalah berada jauh dari rumah. Memang jaman sekarang komunikasi sudah sangat mudah, telepon dan videocall dalam genggaman. Setiap hari juga ada penerbangan Jakarta Amsterdam dan sebaliknya. Tapi jarak yang jauh dan perbedaan waktu tetap bisa draining kalau kedekatan hati dan doa tidak dijaga.
Selamat tahun baru 2026, semoga apa yang baik-baik di tahun lalu bisa diteruskan tahun ini. Sukses untuk apa yang direncanakan ke depan, semoga selalu bahagia dalam lindungan-Nya.
Chandra
0 comments:
Post a Comment