Personal Blog

Korea Selatan 2002

January 28, 2026 Posted by Chandra Nurohman , No comments

Singkat cerita saya menemukan plang selamat datang ini. Papan ini berdiri di pinggir jalan memberitahukan bahwa di depan sudah masuk area Varsseveld. Yang menarik adalah di papan ini ada tulisan dengan huruf Korea, tapi untuk apa aksara Korea ada di sana? Varsseveld itu kota kecil yang rasanya tidak mungkin jadi sister city suatu kota di Korea. Saya juga tidak melihat ada Korean Town atau area yang bernuansa Korea di sana.

Karena penasaran saya translate tulisan Korea itu dengan Google, ternyata terjemahannya adalah "This is Hiddink's hometown". Sekarang jadi masuk akal kenapa ada tulisan Korea di Varsseveld, ini soal sepak bola. Guus Hiddink adalah nama yang tersohor di dunia sepak bola terutama sebagai pelatih. Dia pernah melatih klub-klub besar seperti Real Madrid, Chelsea, dan PSV. Sementara itu di level timnas dia pernah menangani timnas Belanda, Turki, Australia, dan tentu saja Korea Selatan.


Guus Hiddink adalah pelatih Korea Selatan di piala dunia 2002 Korea-Jepang. Saat itu Korsel yang dibintangi Park Ji Sung dan Ahn Jung Hwan berhasil masuk semifinal sebelum kalah dari Jerman (Kahn, Ballack, dkk). Pada perebutan juara 3 Korsel kalah lagi lawan Turki sehingga harus puas di posisi 4. Tapi prestasi ini sudah dianggap sangat tinggi hingga figur Hiddink sudah jadi seperti pahlawan bagi orang Korea. Karena Hiddink lahir dan besar di Varsseveld, jadilah ada hubungan unik antara Korea dan kota kecil ini.

Alamat rumah di mana Guus Hiddink dulu tinggal tersebar di kalangan orang Korea sampai-sampai banyak turis Korea datang pakai bis ke Varsseveld. Padahal tempat ini jauh dari kota besar seperti Amsterdam. Saking inginnya mengabadikan momen itu kabarnya mereka sampai membawa pulang kerikil dari pekarangan rumah Hiddink sebagai suvenir. Andai kemarin Indonesia berhasil lolos Piala Dunia bersama STY, mungkin banyak pula orang Indonesia yang akan menyerbu rumahnya di Korea sana.


Chandra

Anomali Air

January 18, 2026 Posted by Chandra Nurohman No comments

Waktu SD dulu salah satu pertanyaan yang sering muncul di ujian IPA adalah "peristiwa pemuaian air ketika suhunya turun dari 4 ke 0 derajat celcius disebut?". Jawabannya anomali air, sudah, pokoknya ketika ada kata kunci 4 dan 0 derajat maka jawabannya pasti anomali air. Jarang sekali dijelaskan atau ditanya lebih lanjut apa yang sebenarnya terjadi, kenapa itu bisa terjadi, dan yang paling penting apa akibatnya dan kenapa itu penting. Saya juga baru mengerti ketika dewasa, lebih tepatnya ketika menghadapi langsung fenomena ini di alam. 

Ketika membeku menjadi es, ikatan antar molekul hidrogen membentuk struktur kristal yang punya ruang terbuka di antaranya. Ini menjadikannya lebih 'longgar' dan berat jenisnya berkurang hingga densitas es lebih rendah daripada densitas air. Berat jenis yang lebih rendah menjadikan sesuatu mengapung, contoh gampang dari ini adalah es batu yang selalu ada di atas dalam segelas es teh. Tapi ada dampak yang lebih besar dan penting dari anomali air ini yaitu apa yang terjadi di sungai dan danau pada musim dingin.

Ketika suhu udara turun mendekati nol atau bahkan minus, ada delay sampai suhu air danau atau sungai mencapai titik beku. Ini dikarenakan air masih menyimpan panas dari hari atau kondisi sebelumnya. Ketika terekspos udara dingin cukup lama, suhu permukaan akan turun dan lama-kelamaan membeku. Here's the catch, karena berat jenisnya di 0 derajat lebih rendah daripada di 4 derajat, air yang mula-mula membeku tadi tetap ada di atas. 

Air tidak membeku kemudian tenggelam ke bawah seperti yang intuitively terjadi ketika barang yang sama dibandingkan kondisi padat dan cairnya. Normalnya jarak antar molekul pada kondisi padat lebih dekat satu sama lain daripada saat kondisi cair, nantinya lebih renggang lagi pada kondisi gas. Tapi air tidak selalu normal makanya disebut anomali. Umumnya benda memuai ketika suhu dinaikkan, tapi khusus air pada suhu 4 ke 0 derajat celcius, pemuaian juatru terjadi saat suhunya turun alias didinginkan.

Karena air yang mengalami proses pembekuan tetap berada di atas (mengapung), sungai dan danau di musim dingin membeku dari bagian atasnya lebih dulu. Kemudian lapisan es yang semakin tebal ini justru menjadi insulasi alami dan efektif agar suhu air di bawah es tidak turun lagi. Ikan dan segala makhluk hidup yang ada di air jadi bisa hidup seperti biasanya. Bayangkan jika body of water membeku dari bawahnya, satu sungai atau danau bisa membeku total dan mematikan hewan dan tumbuhan di dalamnya. Bisa-bisa setiap musim dingin terjadi potong generasi satu ekosistem.


Maka betapa canggihnya alam ini diciptakan-Nya. Selain menjaga kelestarian makhluk air, sungai yang beku juga bisa jadi lokasi ice skating dadakan. Musim dingin itu physically challenging, setiap keluar ruangan harus pakai baju tebal berlapis, sepatu, penutup kepala, dan sarung tangan. Melepas sarung tangan 30 detik saja sudah bisa membuat ujung jari seperti ditusuk, seperti memasukkan tangan ke freezer untuk mengambil sesuatu yang nggak keambil-ambil karena beku. Aktivitas olahraga, commuting, atau berbelanja jadi lebih repot dari biasanya. Belum lagi hari yang pendek dan matahari yang jarang terlihat rawan menyebabkan seasonal depression.

Maka penting untuk mengubah mindset dari survival menjadi enjoying. Ice skating di sungai yang beku tadi salah satunya, tapi sekedar jalan-jalan ke luar pun bisa menyenangkan kalau fokusnya pada saljunya bukan pada dingin dan repotnya. Maka alhamdulillah ini adalah beberapa momen putih yang sempat saya capture beberapa minggu kemarin.

Salam,
Chandra

Hujan Ucapan

January 11, 2026 Posted by Chandra Nurohman No comments

Dua minggu di penghujung tahun adalah lebarannya orang barat. Sejak weekend terakhir sebelum natal orang-orang sudah sibuk christmas shopping. Pekerja yang bisa cuti akan ambil cuti hingga bisa libur sampai setelah tahun baru, jam buka toko-toko dan bisnis berubah atau malah tutup karena menggaji karyawan lembur akan mahal, anak-anak sekolah libur, aktivitas sosial ditiadakan dengan alasan winter vakantie, dan jalanan jadi lebih sepi. Nantinya kehidupan baru normal kembali pada senin pertama di tahun yang baru. 

Maka sejak tanggal 18-19-20 Desember sudah banyak yang pamit liburan dengan bilang, "My vacation is here, see you guys next year, merry christmas and happy new year". Biasanya akan saya jawab dengan, "Enjoy, have a good time and happy new year". Lalu saya baru merasakan betapa banyaknya saya mendapat ucapan selamat natal tahun ini. Saya memang tidak mengumumkan kalau saya tidak natalan, hanya jika ditanya. Saya juga tahu mereka tidak ada niat menyinggung keyakinan, otomatis saja keluar ucapan selamat natal sepaket dengan selamat tahun baru karena budayanya begitu.

Ini sama seperti di Indonesia yang, setidaknya saya, sering tanpa sadar menggunakan referensi Islam ketika berkomunikasi dengan teman agama lain. Kadang-kadang ketika janjian kita pakai acuan waktu salat misalnya sebelum jumatan atau setelah maghrib. Padahal mereka belum tentu tahu itu jam berapa dan bukan kewajiban mereka untuk mencari tahu. Ketika hari jumat kita juga 'memaksa' mereka untuk mengerti bahwa kita baru akan kembali bekerja jam setengah 2 karena setelah salat baru kita hitung jam istirahatnya. 

Di lain waktu mungkin kita sebagai muslim pernah makan rendang dengan lahapnya di depan orang yang keyakinannya tidak boleh makan daging sapi. Saya pernah stupidly menawarkan malkist abon sapi kepada teman yang Budha. Saya nggak tahu apa yang dia pikirkan saat itu, bisa jadi tersinggung atau bisa juga biasa saja. Tapi the magnitude of kesalahan saat itu baru saya pahami sekarang ketika posisinya sebagai minoritas.

Mayoritas, dimanapun berada, sering take it for granted bahwa keyakinan mereka bisa membentuk standar sosial yang harus diikuti semua orang termasuk yang pribadinya punya paham berbeda. Maka pelajarannya dari ini saya pikir adalah sebelum berdebat soal boleh nggaknya mengucapkan selamat natal ada baiknya kita periksa dulu apakah kita masih suka kelepasan menggunakan istilah yang sebenarnya internal tapi kita pakai di dunia luar.

Ini bukan memisahkan agama dengan budaya, tapi justru menempatkan agama pada tempatnya. Lagi pula kalau memakai pertimbangan citra baik (mau tulis dakwah kok kayaknya terlalu jauh), terlali banyak menggunakan istilah sebelum jumatan setelah maghrib tadi bukannya mendekatkan orang justru menjadikan orang merasa berjarak. Justru menjadi considerate serta memahami sudut pandang dan paham orang lain menurut keyakinan saya lebih baik dan produktif.

Salam,
Chandra

2025 ke 2026

January 03, 2026 Posted by Chandra Nurohman No comments

Buat saya tema 2025 adalah integrasi. Kami memulai tahun dengan perasaan masih menjadi setengah penduduk. Suasananya masih adaptasi, baru pada tahap memastikan apa-apa yang dibutuhkan tahu dimana bisa didapat. Saat itu banyak hal yang kami belum tahu, misalnya bahwa setiap orang harus terdaftar ke general practicioner agar punya akses ke layanan kesehatan, kalau buang sampah harus dipilah sehingga di rumah perlu ada beberapa tempat sampah terpisah, dan lain sebagainya.

Seiring berjalannya waktu kami berusaha untuk belajar jadi warga biasa pada umumnya. Kami berusaha memahami bahasa level dasar, kebiasaan orang-orang, dan norma yang berlaku di masyarakat. Itu semua bukan untuk menjadi model citizen, sekedar bentuk respect dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung, plus agar tidak kena semprot orang Belanda yang kalau negur zero basa-basi. Sebisa mungkin jangan sampai melakukan rookie mistakes.

Saya menemukan bahwa integrasi memang perlu dipaksa. Untuk bisa ngobrol dan kenal ya harus ketemu orang. Dari sekedar keluar rumah melihat bagaimana cara orang berjalan, menyeberang, dan bersepeda saja banyak yang bisa dipelajari. Bagaimana cara memberi sinyal kalau mau belok, boleh nggak pakai headphone ketika berjalan, mesti gimana kalau mau nyebrang jalan raya, dan lain-lain. Nantinya ketika nyetir lebih banyak lagi yang dicari tahu dan sampai sekarang saya masih belajar.

Ketika kami ke pasar atau ke toko niatnya bukan hanya untuk belanja kebutuhan tapi juga untuk ketemu orang. Ketemu kasir toko, pelayan warung makan, dan pedagang di pasar minimal memoles English speaking syukur-syukur belajar memahami Dutch. Sebagai orang yang lumayan hobi COD barang marktplaats (semacam OLX), saya mengalami beberapa momen seru, tak terduga, dan awkward. Suatu waktu saat sedang menunggu bis sambil nonton tayangan sepakbola di handphone tiba-tiba ada grandpa nyamperin mau ikut nonton. Kami terpaksa ngobrol pakai bahasa isyarat karena saya masih baru dan beliau sudah sepuh kurang bisa English, tapi bahasa universal bola menghubungkan kami. Apapun itu ya saya coba telan dan tertawakan saja, namanya juga ngumpulin 'poin integrasi'. 

Sama seperti main game Pokemom GO yang ketika baru mulai naik levelnya cepet karena setiap saat dapat pokemon atau item baru. Begitu juga pindah ke tempat yang asing, setiap saat belajar sesuatu yang baru. Sekedar di mana ada swalayan, masjid, dan warung halal saja bisa jadi perbendaharaan informasi yang penting. Alhamdulillah-nya di sini kebutuhan dasar terpenuhi dan basic safety terjaga. Jadi kalau ada culture shock ya hanya menyebalkan saja tidak sampai membahayakan.

Selain eksposure dengan lingkungan dan kehidupan masyarakat sekitar, saya merasa integrasi sangat terbantu dengan banyaknya orang Indonesia yang saya temui tahun ini (2025). Ketika jumlah kenalan masih terbatas, rasanya konsep mutual friends dan six degress of separation bekerja in full flow. Satu orang baru bisa menghubungkan ke 5 orang lainnya, lalu masing-masing dari 5 orang itu menghubungkan ke 5 yang lain lagi, begitu seterusnya. 

Pengajian, padel, dan paguyuban ikatan alumni kampus adalah tempat di mana saya paling banyak ketemu teman baru. Beberapa diantaranya sampai akrab karena ketemu itu lagi itu lagi. Kalau dibuat venn diagram, ada banyak yang masuk di 2 dari 3 lingkaran itu atau bahkan di tiga-tiganya. Dikarenakan usia dan cerita yang serupa jadi lebih gampang nyambung satu sama lain. Saya bersyukur di sini ketemu lumayan banyak abang-abangan senior yang bisa ditanya macam-macam hal.

Selain jumlah yang bertambah, kedekatan dan frekuensi ketemu juga makin banyak. Awalnya dulu kami hanya ikut satu forum pengajian yang diadakan tiap bulan. Lebih baik daripada tidak sama sekali tapi rasanya itu masih kurang. Untung setelah itu ada demam padel sehingga ada media dan alasan untuk bersosialisasi hampir tiap minggu. Kemudian menjelang akhir tahun kemarin beberapa keluarga muda Indonesia yang bertetangga bersepakat membuat forum pengajian kecil-kecilan juga. Sirkel ini lebih rapat lagi karena jumlahnya (masih) sedikit, tinggalnya berdekatan, umur sebaya, dan acaranya sambil makan-makan di rumah.




Maka dengan itu semua alhamdulillah yang tadinya masih seperti turis sekarang terasa makin ngomah. Di luar itu setelah melewati satu siklus musim tahunan badan juga sudah lebih beradaptasi. Tahun ini winternya agak lebih dingin tapi bukannya kedinginan kami malah bisa menikmati salju yang turun lebih deras dan tebal. Untuk makanan walaupun utamanya masih masak sendiri masakan indonesia dengan nasi, tapi pelan-pelan juga makin bisa menerima budaya makan lokal dan makanan mancanegara. 

Hal yang terasa masih dan mungkin akan tetap berat adalah berada jauh dari rumah. Memang jaman sekarang komunikasi sudah sangat mudah, telepon dan videocall dalam genggaman. Setiap hari juga ada penerbangan Jakarta Amsterdam dan sebaliknya. Tapi jarak yang jauh dan perbedaan waktu tetap bisa draining kalau kedekatan hati dan doa tidak dijaga.

Selamat tahun baru 2026, semoga apa yang baik-baik di tahun lalu bisa diteruskan tahun ini. Sukses untuk apa yang direncanakan ke depan, semoga selalu bahagia dalam lindungan-Nya.

Chandra