Personal Blog

The Smartest Bear: Bicara Aturan LPDP

February 28, 2026 Posted by Chandra Nurohman No comments
When a Yosemite National Park ranger was asked why it was so tough to design a bear-proof garbage bin, he responded, "There is considerable overlap between the intelligence of the smartest bears and the dumbest human".

Sulit untuk memverifikasi apakah kalimat tersebut benar terucap karena tidak ada nama, tidak ada waktu, dan tidak ada rekamannya. Tapi jawaban tersebut served a good sense. Pengelola taman nasional ingin membuat tempat sampah yang cukup mudah dibuka orang agar tidak buang sampah sembarangan, tapi cukup sulit untuk diterobos beruang agar sampah tidak berceceran. Tapi itu nggak mudah, karena kalau dibuat terlalu rumit agar beruang kesulitan ternyata ada turis yang kesulitan juga. Tapi kalau dibuat terlalu mudah agar semua orang bisa buang sampah, beruang juga jadi bisa masuk. Menurut saya itu mirip dengan dilema aturan LPDP soal kembali pengabdian ke Indonesia.

Sulit men-tuning aturan beasiswa ini secara pas. Kalau tidak ada kewajiban untuk pulang takutnya ini dimanfaatkan oleh oknum awardee yang cari beasiswa untuk kabur dari Indonesia dan berencana menetap dari sejak sebelum berangkat. Tapi di sisi lain adanya kewajiban pulang ini membuat para genius yang sebenarnya bisa berkontribusi besar dari luar harus kembali ke Indonesia yang di mana belum tentu ada tempat buat mereka. Di antara ribuan awardee, kedua tipe itu co-exist.

Maka ketentuan harus mengabdi 2n+1 dengan n adalah lama masa studi, kemungkinan untuk extend stay di luar dengan syarat tertentu, atau kewajiban pengembalian dana dengan alasan-alasannya, adalah sebagian upaya untuk mencari aturan yang paling mendekati optimal. Mungkin memang nggak ada silver bullet yang bisa menyelesaikan semua permasalahan. Tetep akan ada yang mencari cara untuk berlama-lama di luar, dan tetep akan ada berlian yang terpaksa pulang. Pertanyaannya, how much is acceptable?

Mungkin most of the time orang sudah nrimo soal ini. Ketika ada orang pinter yang harus pulang dan terhambat mengaplikasikan ilmunya, orang menganggap minimal sudah berkesempatan sekolah di luar dan toh nanti setelah masa pengabdian selesai bisa bebas mencari jalan. Atau kalau ada katakan 20 dari 2000 awardee tidak pulang mungkin orang hanya akan bilang "yah itu urusanmu, hatimu, dan Tuhanmu" karena mau menuntut juga nggak tahu caranya, mungkin cuma bisa mention LPDP atau Kemenkeu. Makanya ribut-ribut LPDP ini kambuhan nunggu ada sesuatu yang viral. 

Kini sedang ada kasus di UK yang menyangkut ex-awardee LPDP, saya pikir hampir semua orang tahu ini. Seberapa salah DS dan keluarganya? Bagaimana sebenarnya status mereka terkait beasiswa? Apa alasannya dia membuat konten yang viral itu? Apakah tekanan netizen yang dialamatkan pada DS sudah proporsional dengan blunder yang dia lakukan? Banyak yang bisa dibincangkan disini. Diskursus yang ditimbulkan oleh kasus ini sudah sangat luas sampai nyenggol kontribusi public figure yang juga awardee, pertanyaan apakah orang (sangat) kaya etis untuk apply beasiswa, pendapat bahwa sebaiknya beasiswa luar negeri berbentuk loan saja, sampai perbandingan spending LPDP dengan MBG. 

Orang bisa berpandangan apa saja dan mengajukan berbagai macam solusi untuk ini. Tapi menurut saya selama masih ada overlap akan sulit untuk membuat aturan yang optimal. Mungkin solusinya di karakter, bagaimana menciptakan generasi yang enggan mengambil yang bukan haknya, dalam hal apapun. Sehingga tidak ada lagi oknum calon awardee yang oportunis memanfaatkan beasiswa negara untuk migrasi. Kita tahu bahwa topik luar negeri apalagi dalam konteks pakai pajak rakyat adalah makanan empuk untuk kecemburuan sosial yang dibumbui kebijakan-kebijakan jelek pemerintah, pemborosan APBN, korupsi, police brutality, dan lain sebagainya.

Keramaian seperti ini tidak bisa dihindari ketika ada konten menyinggung dalam suasana yang sedang panas. In the end balik lagi ke aturan yang berlaku dan ditandatangani. Beasiswa niatnya baik dan tidak ada yang memaksa awardee untuk sign up, mereka melakukannya secara sukarela. Solusi jangka pendeknya adalah terus mengalibrasi aturan yang ada sehingga bisa memaksimalkan ROI. Solusi jangka panjangnya ya perbaikan karakter baik untuk pencari beasiswa maupun masyarakat (netizen) pada umumnya.

Salam,
Chandra














Not Even Water

February 23, 2026 Posted by Chandra Nurohman , No comments
"Not even water?"
"Yeah not even water"
3-days-in di Ramadhan tahun ini dan pertanyaan itu sudah muncul. 

Saya bersyukur berada di lingkungan yang memungkingkan untuk terus terang bahwa saya berpuasa meskipun di situ saya satu-satunya. Sebagian orang familiar dengan ramadhan karena pernah tinggal di negara atau tempat mayoritas muslim. Sebagian yang lain pernah peripherally mendengar soal ramadhan tapi belum pernah ketemu langsung dengan orang yang menjalankannya. Respon orang-orang seperti ini justru lucu karena mereka belum tahu bagaimana harus bersikap pada orang yang berpuasa.

Pertanyaan not even water itu salah satunya. Bagi mereka barangkali tidak makan dari pagi sampai malam masih masuk akal, satu dua kali mungkin mereka pernah mengalami dalam hidupnya. Tapi tidak minum bahkan segelas air putih pun bagi mereka adalah sesuatu yang luar biasa. Mereka jadi concern sekali dengan kondisi orang yang berpuasa, sering ada yang bertanya "how are you doing?", "what is your energy level?", dan lain sebagainya.

Orang juga jadi sangat apologetic ketika tahu di sekitarnya ada orang yang sedang berpuasa. Mereka berusaha untuk tidak kelihatan makan dan minum. Padahal ya nggak perlu-perlu banget, kita kan sudah dewasa bukan anak kecil yang gampang kepengen. Tapi good thing bahwa orang sini tingkat considerate-nya lumayan tinggi hingga bentuk ekspresinya sampai seperti itu. Dalam satu forum yang saya ikuti sebelum dimulai presenternya tanya "anyone doing ramadhan today?". Satu orang puasa, semuanya tidak ambil minum, padahal biasanya selalu ada kopi menemani.

Saya sangat happy ketika ada yang tanya soal puasa karena saya jadi bisa menjelaskan kebutuhan dan ekspektasi saya atas mereka. Saya bisa jelaskan bahwa mereka tidak perlu mengajak makan siang seperti biasanya. Mereka juga tidak perlu terlalu concern dengan kondisi saya karena saya tahu batasnya. Dari jauh-jauh hari saya juga sudah bilang bahwa jika suikerfeest atau idul fitri jatuh di hari kerja saya akan ambil cuti. Selain itu di diskusi seperti ini saya bisa menyisipkan Indonesia 101 atau Islam 101 yang tentu saja menyenangkan untuk disampaikan.


Kadang dengan setengah becanda ada yang bilang, "nggakpapa minum aja, jendelanya ketutup nggak ada yang lihat". Tentu mereka nggak serius menyuruh mbatal. Tapi kalau dipikir-pikir tuntunan dalam Islam itu memang pure, either kamu menjalankan atau tidak. Jadi nggak perlu cheating juga karena nggak ada yang ngawasi. Dos and Don'ts dalam Islam clear dan diyakini di hati masing-masing pemeluknya. Nothing artificial.

Saya ingin membalas pengertian orang-orang di sekitar dengan berusaha untuk tidak merepotkan dan membuat excuse terkait puasa. Agak disayangkan kemarin di tarawih awal-awal saking banyaknya jamaah dan suhu yang masih dingin parkiran dan jalanan di sekitar masjid-masjid penuh dan macet. Saya khawatir disrupsi seperti ini mengganggu warga kanan kiri yang tidak berpuasa dan mencoreng citra komunitas muslim pada umumnya. Menjalankan ibadah sambil tetap asik dan cool bagi sekitar adalah sesuatu yang perlu diusahakan.

Selamat Ramadhan, selamat menjalankan ibadah di bulan yang mulia ini. Semoga Allah SWT memberikan kesempatan untuk kita memaksimalkan Ramadhan ini dan kita tidak malas untuk menjalankannya. Aamiin.



Chandra

Goofy

February 15, 2026 Posted by Chandra Nurohman No comments
Watching new sports is wild, because wym his stance is Goofy?? 



Saya pernah nulis tentang TVRI Sports, di mana berkat channel itu saya bisa tahu berbagai cabang olahraga yang belum pernah dilihat atau belum familiar sebelumnya. Sekarang saya nemu hal yang sama di Ziggo Sport: professional darts, snooker, speed skating, biathlon, balap kuda, tenis, liga hoki Swedia, dan yang terbaru mereka menayangkan Winter Olympics dengan segala cabornya. Watching football is fun, tapi nonton olahraga yang nggak tahu satupun atletnya dan nggak tahu seperti apa aturannya juga seru.


Pertama yang saya lakukan ketika menemukan cabang olahraga baru adalah coba memahami bagaimana cara main dan penilaiannya. Speed skating terlihat seperti cepet-cepetan saja, tapi kalau dilihat meta-nya ada cara main di mana atletnya bertukar lane setiap putaran dan pakai handband warna tertentu untuk penanda mana yang start dari lajur dalam dan lajur luar. 

Professional darts seperti hanya melempar ke arah papan untuk cari skor tertinggi, tapi kalau dilihat lebih cermat mereka mengincar kolom tertentu lebih sering dari yang lain, misalnya triple 20 untuk mengejar one hundred and eighty. Tapi di saat yang lain mereka nyari triple 19 supaya menghilangkan sisa ganjil, lalu di akhir mereka berusaha menyisakan kelipatan 2 (8, 16, 32, 64, dst) supaya lebih mudah closing-nya. 

Setelah tahu cara mainnya, saya mulai bisa membedakan mana yang jago dan mana yang jago banget. Sampai akhirnya tahu beberapa nama seperti Luke Littler, Luke Humphries, dan Van Gerwen di darts; Fedor Gorst, Johan Chua, dan Alcaide di nineball; serta jadi ngerti kalau Alcaraz, Sinner, dan Sabalenka memang sejago itu di tennis. Atlet-atlet langganan juara ini asik ditonton sebagai neutral karena kadang-kadang mereka bisa perform sesuatu yang nggak terpikir sebelumnya, seperti nonton prime Messi membawa bola melewati 5 pemain lawan.


Sampai level ini mulai terasa ada olahraga yang bisa saya nikmati dan yang tidak. Kalau saya minat akan saya dalami lebih jauh lagi seperti bagaimana sejarahnya olahraga ini, saya cari highlight-highlight-nya di youtube, dan saya eksplor trivia-trivia yang ada misalnya bagaimana dalam hill jump dulu atlet lompat dengan posisi ski sejajar namun setelah diriset ternyata posisi V memungkinkan terbang lebih jauh dan lama, kemudian dalam lompat tinggi seorang atlet mengubah cara lompat once and for all dari konvensional ke cara punggung, dan tentu saja saya cari tahu soal stance goofy tadi.

Jadi ternyata dalam cabang olahraga halfpipe dulu awalnya pemain melompat dengan posisi kaki kiri di depan. Lalu muncullah tokoh kartun Goofy yang kalau berselancar kaki kanannya di depan. Ketika akhirnya ada atlet profesional yang menirunya kemudian gaya itu disebut gaya Goofy. Ya, dari kartun ke panggung olimpiade.

Salam olahraga,
Chandra

Belajar Hukum

February 08, 2026 Posted by Chandra Nurohman , No comments
Hari Sabtu (7/2) kemarin Ikatan Alumni ITB di Belanda (IAITB NL) mengadakan sebuah seminar berjudul Technology x Law. Ide diadakannya acara ini adalah karena akhir-akhir ini ada beberapa kasus hukum yang menjerat kalangan teknokrat. Acara ini mencoba memberikan wawasan hukum dasar bagi para anggota dan membahas beberapa kasus yang sudah terjadi atau sedang berjalan. Ali Abdillah, dosen UI sekaligus lawyer yang saat ini sedang menempuh S3 di Universitas Utrecht diminta untuk jadi pembicara. Acara diadakan di meeting hall Stichting Generasi Baru (SGB) di Utrecht.

                         foto oleh IAITB NL

Menurut seminar ini, hal yang membuat teknokrat rawan kena masalah hukum adalah:
1. Terlalu fokus pada aspek teknologi tanpa mau memahami hukum dan prosedur. Due diligence jadi kurang karena pengetahuan hukum yang terbatas.
2. Ingin memindahkan budaya privat/korporat yang cepat dan satset ke sektor publik yang birokratis dan prosedural. Menurut Ali namanya birokrasi publik itu dibuat supaya ribet karena ada uang masyarakat yang dikelola di sana.

Ada dua kasus yang jadi case study di seminar ini, dua-duanya oleh alumni ITB. Kasus pertama adalah Dasep Ahmadi, beliau divonis 7 tahun penjara dalam kasus kendaraan listrik. Kasus ini sempat ramai dan ada keberpihakan publik di Pak Dasep waktu itu karena dianggap negara menangkap periset. Riset kan nggak harus berhasil, gimana negara bisa maju kalau ilmuwan ditangkap karena risetnya tidak sesuai ekspektasi, dan lain sebagainya.

Ali yang sudah membaca ratusan halaman putusan Dasep Ahmadi dari tingkat PN, Banding, Kasasi, sampai PK mengatakan bahwa fakta hukumnya tidak demikian. Fakta atau berita yang bereder di masyarakat dan fakta hukum di persidangan adalah dua hal yang berbeda. Ini yang sering gagal dipahami orang plus diperparah dengan media yang membuat judul click bait.

Fakta persidangannya adalah bahwa perjanjian antara perusahaan Pak Dasep dengan negara/BUMN saat itu adalah pengadaan biasa bukan riset. Dengan uang yang diberikan Pak Dasep berkomitmen untuk mendeliver 16 kendaraan listrik yang akan digunakan untuk mengangkut delegasi APEC. Pada akhirnya hanya 3 kendaraan yang jadi, itupun tidak memenuhi standar kelayakan dan tidak bisa dioperasikan sebagai kendaraan umum. Kerugian negara milyaran rupiah menurut BPKP terjadi karena negara sudah membayar 85-95% pada PT yang dimiliki Pak Dasep.

Hukum tidak peduli jika yang terjadi di bengkel adalah riset, trial and error, dan semacamnya. Hukum tahunya PT berkomitmen memberikan 16 kendaraan yang ternyata tidak bisa dipenuhi. Kalau memang tujuannya riset, perjanjian dan deliverables-nya berbeda. Bendera yang dipakai untuk riset juga mestinya lembaga riset bukan PT yang berbisnis dengan orientasi profit. 

Kasus kedua yang dibahas adalah Karen Agustiawan, Dirut Pertamina yang terjerat kasus investasi pada blok Basker Manta Gummy (BMG) Australia pada 2009. Investasi Pertamina di BMG saat itu boncos karena hasil eksplorasi yang diperoleh jauh di bawah harapan. Akhirnya Pertamina cutloss dengan melakukan divestasi tapi kerugian sudah terjadi karena valuasi yang turun. Bu Karen dianggap menyalahgunakan wewenang dan sudah sempat divonis bersalah di tingkat PN dan dikuatkan di tingkat Banding karena dianggap merugikan keuangan negara lebih dari 200 milyar. 

Ali bilang bahwa ada dua aliran dalam menilai apakah uang BUMN itu uang negara. Menurut UI, uang BUMN bukan uang negara walaupun itu penyertaan modal negara, alasannya ketika sudah masuk pembukuan BUMN ada pertimbangan bisnis di sana yang kadang butuh fleksibilitas dalam penggunaan dana. Sementara menurut UGM, uang BUMN adalah uang negara, paham ini yang saat ini dianut dalam penulisan hukum sehingga kerugian Pertamina = kerugian uang negara.

Tapi Karen menang di tingkat Kasasi dan divonis bebas. Dalam putusannya ada beberapa hal yang meringankan: (Ali meringkas dari putusan, saya rephrase lagi)
1. Investasi di BMG adalah keputusan bisnis yang gagal bukan tindak pidana.
2. Sudah jadi rahasia umum bahwa bisnis migas adalah bisnis resiko tinggi, no risk no business.
3. Karen tidak menerima aliran dana.
4. Dewan Komisaris sudah meng-approve keputusan bisnis itu namun sehari setelah penandatanganan kesepakatan DK menarik aprovalnya alias mendua.

Ada beberapa kasus lain yang dimention tapi tidak dibahas jauh karena persidangan masih berjalan seperti Ibrahim Arief dan Nadiem. Tapi Ali memberikan contoh bahwa keputusan Nadiem untuk membuat shadow team di kementeriannya adalah contoh budaya korporat yang dibawa ke sektor publik secara tidak ideal. Ya mungkin itu akan mempercepat beberapa proses, tapi itu bukan cara birokrasi bekerja. Meski begitu karena persidangan masih berjalan segala kemungkinan masih bisa terjadi.

Chandra.





Castle

February 02, 2026 Posted by Chandra Nurohman No comments
Series Castle mengisahkan soal seorang penulis novel misteri Richard Castle yang menjadi konsultan untuk detektif NYPD Kate Beckett. Pertemuan keduanya dimulai ketika Detektif Beckett menyelidiki sebuah kasus pembunuhan dengan modus operandi yang sangat mirip dengan salah satu cerita dalam novel Castle. Berawal dari diminta keterangan soal siapa yang mungkin melakukan copy-cat dari novelnya, Castle kemudian menjadi konsultan yang ikut menangani kasus-kasus Becket. Selanjutnya you can guess, they're falling for each other.


Sebagai homicide detective di NYPD, kasus yang mereka tangani adalah kasus-kasus pembunuhan. Hebatnya, series Castle mampu menyajikan penyelesaian kasus pembunuhan tanpa membuat show-nya terlalu gore. Ada banyak crime series berbasis forensik yang saya hindari karena tidak tahan melihat terlalu banyak internal part manusia. Castle mampu menghaluskan bagian ini sehingga orang seperti saya bisa menikmati kedelapan season-nya. Ini adalah poin plus utama untuk Castle.

Sebagai penikmat yang nonton bukan hanya untuk pemecahan kasusnya tapi juga mencari tawa, karakter Castle yang dibawakan oleh Nathan Fillion patut diacungi jempol. Menurut saya penampilannya di sini lebih baik daripada di The Rookie sebagai John Nolan. Nolan agak terlalu kaku dan terbatas karena personanya sebagai anggota LAPD, sementara sebagai Castle yang orang sipil bisa lebih keluar banyolan dan terobosannya. 


Formula di mana seorang law enforcement berpartner dengan unortodox figure sudah dipakai beberapa series lain dan yang jadi favorit saya adalah White Collar. Di sana ada Peter Burke dan Neal Caffrey, agen FBI dan konsultannya seorang ex-conman yang bersama-sama membongkar banyak kejahatan intelektual. Peter Burke setipe Kate Beckett: driven, cerdas, dan lurus. Sementara Neal Caffrey sejenis Richard Castle: resourceful, keras kepala, out-of-the-box thinker. Dua duo ini sangat mirip, terlalu mirip untuk dibilang kebetulan, mereka memang mengikuti rumus yang sama.

Bahkan secara sengaja Castle menaruh lumayan banyak Easter Egg, pada S08E19 ketika Castle dan Beckett melacak LokSat mereka menemukan bahwa Caleb Brown menggunakan nama alias Peter McCaffrey, wow sangat jelas sekali ya. Selain itu pada season 4 ada beberapa yang lebih subtle, seperti terlibatnya pemeran Matthew Keller dan Sara Ellis, serta penggunaan nama 'Bagwell' dan 'Scofield' (satu ini dari Prison Break). Pemeran Linc Burrows (Prison Break), Rachel Zane (Suits), dan Jessica Pearson (Suits) juga ada di Castle. 

Tapi dalam Castle, Kate Beckett bukan hanya digambarkan sebagai detektif wanita, tapi juga hot cop. Ini membuka kemungkinan dinamika hubungan antara Castle dan Beckett yang tidak dimiliki White Collar. Bumbu romance yang ada di Castle menurut saya adalah nilai tambah yang membuatnya bukan hanya crime-comedy tapi crime-romcom. Walaupun sebab itu pula Castle jadi rated as TV-14 karena adanya intense violence, sexual context, dan mature themes. Rating ini lebih ketat daripada White Collar yang TV-PG. 

Untuk peran pendukung, saya mengapresiasi penampilan Detektif Esposito dan Detektif Ryan. Keduanya punya presence yang cukup banyak dalam cerita, bukan hanya sebagai tembok yang memantulkan dialog. Bahkan ada episode-episode tertentu di mana mereka menjadi centernya. Dinamika antara keduanya juga menarik, satu Latin satu Irish, satu rebel satu lurus, satu menjuluki yang lainnya Castle junior saking mudahnya dipengaruhi oleh ide-ide gila Castle. Dokter Lanie Parish sebagai medical examinator sekaligus wing-lady-nya Beckett juga tampil baik terutama dalam fase manas-manasi Beckett ketika didekati oleh Castle.


Justru yang agak maksa adalah penempatan putri Castle, Alexis, yang digambarkan jadi sumber inspirasi Castle dalam memecahkan kasus. Alexis ini ingin dibuat seperti Mozzie-nya Neal Caffrey, but not quite. Alexis digambarkan seperti anak-anak biasa yang tumbuh dewasa, lalu darimana dia mendapatkan skill investigasi? Tapi tetap patut diapresiasi bagaimana dia eksis dari S1 sampai S8 dan tumbuh dari anak-anak menjadi dewasa. Along the series orang dewasa 'hanya' tampak menua, tapi yang mulai sebagai anak-anak akan sangat terlihat perbedaannya, lihat Sheldon yang lama-lama tidak lagi Young.

Model cerita Castle adalah satu episode satu kasus lalu ada underlying case yang berjalan panjang. Sayangnya umdetlying case ini dalam Castle terasa tipis dan dipanjang-panjangkan. Dari awal sampai akhir kasus yang ingin diungkap hanya satu. Ini terasa kurang untuk memberikan spark-spark ketika penonton mulai bosan dengan kasus-kasus yang muncul di tiap episode-nya. Kualitas per episode-nya tidak kalah dengan White Collar, tapi underlying case yang dihadari Caffrey dan Burke lebih banyak dan menarik, mulai dari perjuangan menemukan Kate Moreau sampai keinginan Caffrey untuk bebas.


Bicara soal Caffrey bebas, 10-15 menit terakhir dari White Collar mungkin adalah finale terbaik yang pernah saya tonton dari semua produk sinema. Kualitasnya sulit ditandingi siapapun termasuk Castle. Ending Castle oke, tapi masih di bawah White Collar. Itu salah satu faktor juga yang membuat Rotten Tomatoes Castle 'hanya' 82/86 compared to 96/93-nya White Collar.

Rating di atas 80 tentu tidaklah buruk, dan memang Castle sangat bisa dinikmati. Selama berbulan-bulan ini adalah go-to show saya. Unsur pemecahan kasusnya kreatif, komedinya lucu, cast-nya bagus, tensinya tidak terlalu tinggi, dan yang paling penting sukses menggambarkan homicide tanpa terlalu banyak darah. Castle sangat bisa ditonton siapapun (asal memenuhi rating umur) dan cocok untuk teman bersantai atau makan siang.


Chandra