When a Yosemite National Park ranger was asked why it was so tough to design a bear-proof garbage bin, he responded, "There is considerable overlap between the intelligence of the smartest bears and the dumbest human".
Sulit untuk memverifikasi apakah kalimat tersebut benar terucap karena tidak ada nama, tidak ada waktu, dan tidak ada rekamannya. Tapi jawaban tersebut served a good sense. Pengelola taman nasional ingin membuat tempat sampah yang cukup mudah dibuka orang agar tidak buang sampah sembarangan, tapi cukup sulit untuk diterobos beruang agar sampah tidak berceceran. Tapi itu nggak mudah, karena kalau dibuat terlalu rumit agar beruang kesulitan ternyata ada turis yang kesulitan juga. Tapi kalau dibuat terlalu mudah agar semua orang bisa buang sampah, beruang juga jadi bisa masuk. Menurut saya itu mirip dengan dilema aturan LPDP soal kembali pengabdian ke Indonesia.
Sulit men-tuning aturan beasiswa ini secara pas. Kalau tidak ada kewajiban untuk pulang takutnya ini dimanfaatkan oleh oknum awardee yang cari beasiswa untuk kabur dari Indonesia dan berencana menetap dari sejak sebelum berangkat. Tapi di sisi lain adanya kewajiban pulang ini membuat para genius yang sebenarnya bisa berkontribusi besar dari luar harus kembali ke Indonesia yang di mana belum tentu ada tempat buat mereka. Di antara ribuan awardee, kedua tipe itu co-exist.
Maka ketentuan harus mengabdi 2n+1 dengan n adalah lama masa studi, kemungkinan untuk extend stay di luar dengan syarat tertentu, atau kewajiban pengembalian dana dengan alasan-alasannya, adalah sebagian upaya untuk mencari aturan yang paling mendekati optimal. Mungkin memang nggak ada silver bullet yang bisa menyelesaikan semua permasalahan. Tetep akan ada yang mencari cara untuk berlama-lama di luar, dan tetep akan ada berlian yang terpaksa pulang. Pertanyaannya, how much is acceptable?
Mungkin most of the time orang sudah nrimo soal ini. Ketika ada orang pinter yang harus pulang dan terhambat mengaplikasikan ilmunya, orang menganggap minimal sudah berkesempatan sekolah di luar dan toh nanti setelah masa pengabdian selesai bisa bebas mencari jalan. Atau kalau ada katakan 20 dari 2000 awardee tidak pulang mungkin orang hanya akan bilang "yah itu urusanmu, hatimu, dan Tuhanmu" karena mau menuntut juga nggak tahu caranya, mungkin cuma bisa mention LPDP atau Kemenkeu. Makanya ribut-ribut LPDP ini kambuhan nunggu ada sesuatu yang viral.
Kini sedang ada kasus di UK yang menyangkut ex-awardee LPDP, saya pikir hampir semua orang tahu ini. Seberapa salah DS dan keluarganya? Bagaimana sebenarnya status mereka terkait beasiswa? Apa alasannya dia membuat konten yang viral itu? Apakah tekanan netizen yang dialamatkan pada DS sudah proporsional dengan blunder yang dia lakukan? Banyak yang bisa dibincangkan disini. Diskursus yang ditimbulkan oleh kasus ini sudah sangat luas sampai nyenggol kontribusi public figure yang juga awardee, pertanyaan apakah orang (sangat) kaya etis untuk apply beasiswa, pendapat bahwa sebaiknya beasiswa luar negeri berbentuk loan saja, sampai perbandingan spending LPDP dengan MBG.
Orang bisa berpandangan apa saja dan mengajukan berbagai macam solusi untuk ini. Tapi menurut saya selama masih ada overlap akan sulit untuk membuat aturan yang optimal. Mungkin solusinya di karakter, bagaimana menciptakan generasi yang enggan mengambil yang bukan haknya, dalam hal apapun. Sehingga tidak ada lagi oknum calon awardee yang oportunis memanfaatkan beasiswa negara untuk migrasi. Kita tahu bahwa topik luar negeri apalagi dalam konteks pakai pajak rakyat adalah makanan empuk untuk kecemburuan sosial yang dibumbui kebijakan-kebijakan jelek pemerintah, pemborosan APBN, korupsi, police brutality, dan lain sebagainya.
Keramaian seperti ini tidak bisa dihindari ketika ada konten menyinggung dalam suasana yang sedang panas. In the end balik lagi ke aturan yang berlaku dan ditandatangani. Beasiswa niatnya baik dan tidak ada yang memaksa awardee untuk sign up, mereka melakukannya secara sukarela. Solusi jangka pendeknya adalah terus mengalibrasi aturan yang ada sehingga bisa memaksimalkan ROI. Solusi jangka panjangnya ya perbaikan karakter baik untuk pencari beasiswa maupun masyarakat (netizen) pada umumnya.
Salam,
Chandra
0 comments:
Post a Comment