Amsterdam Research Project : Seattle van Java



Minggu ini cukup padat. Merapel kerjaan yang kemarin sempat tercecer gara-gara seminggu jadi fasilitator peneliti dari Belanda. Plus membuat progres 'rahasia' biar nanti kalau harus ditinggal-tinggal lagi tetep ada sesuatu untuk disampaikan waktu bimbingan hehehe

Jadi ceritanya minggu lalu ada beberapa orang dari Belanda yang akan melakukan kunjungan ke Asia, tepatnya Indonesia dan Myanmar. Mereka adalah mahasiswa bisnis yang berkuliah di VU Amsterdam, Belanda. Ada yang bachelor, ada juga yang master. Tapi semua di bidang bisnis dan manajemen.

Lalu kenapa kunjungan ke bidang aerospace ?

Rombongan yang berkunjung ke Indonesia atas nama Amsterdam Research Project (ARP) sebenarnya ada 19 orang. Nah mereka dibagi jadi beberapa kelompok kecil. Tiap kelompok mendapat topik masing-masing untuk diteliti. Ada yang aerospace, ada yang food and agriculture, ada yang construction, dll. Sebagai mahasiswa bisnis mereka diminta untuk meneliti perusahaan-perusahaan Indonesia di masing-masing bidang itu, mengenai kondisi perusahaan, pasar, inovasi, dll.

Mereka ingin tahu, "What Dutch can do to accelerate the improvement of Indonesian industries ?". Mereka diendorse oleh perusahaan-perusahaan Belanda. Untuk bidang aerospace, mereka didukung oleh NLR.

Setelah dibagi kelompok mereka mencari perusahaan-perusahaan yang akan dituju dan mencari buddy untuk membantu mereka selama kunjungan. Itulah mengapa saya bisa ikut project mereka. Mereka menghubungi prodi Teknik Penerbangan ITB dan membuka lowongan untuk jadi buddy. Saya dan seorang teman, Fazlur, maju mengambil kesempatan ini.

Kelompok aerospace beranggotakan 4 orang : Max de Raaff, Madelaine de Jong, Ronald Singh, dan Wouter Slotemaker. Kelompok yang kebagian topik aerospace ini menghubungi kami lewat email, Skype, dan WhatsApp. Mereka menjelaskan maksud kedatangan dan kebutuhan mereka selama di sini. Mereka berkunjung ke Bandung 4-8 April dan kami sudah kontak-kontakan sejak pertengahan Maret.

Ini foto pas di Lembang sebenarnya. Kenalkan, kiri dari depan : Fazlur, Max, Madeleine. Kanan dari depan : Wouter, Chandra, Ronald


Ada hal menarik selama masa persiapan kunjungan. Kami (saya dan Fazlur) heran melihat betapa santainya mereka menyiapkan kunjungan ini, sudah H-7 tapi list perusahaan belum fix. Mereka tampaknya belum tahu betapa rumitnya birokrasi di Indonesia. Katanya, di Belanda untuk menemui seorang pada level manajer atau pimpinan tidak terlalu sulit. Janji bisa dibuat dengan cepat. Tapi itu tidak berlaku di sini...

Beruntung kami masih bisa mengunjungi banyak perusahaan. Walaupun dengan persiapan yang mepet. Saya dan Fazlur juga agak sibuk di hari-hari akhir untuk membantu mengontak perusahaan. Mungkin embel-embel "tamu dari Belanda" membuat perusahaan tertarik dan pekerjaan agak lebih mudah.

Hari pertama (Selasa, 4 April), tujuannya adalah ITB. Kami mengajak mereka berkeliling kampus, mengunjungi beberapa spot menarik, dan duduk-duduk sambil membahas rencana beberapa hari ke depan. Tidak lupa kami ajak mereka berkunjung ke lab-lab kami. Mereka tertarik dengan fakta bahwa ada hubungan dekat antara Teknik Penerbangan ITB dengan TU Delft Belanda.

Waffle dari Belanda euy

Acara puncak hari itu adalah makan siang dan sharing-sharing bersama dosen penerbangan. Alhamdulillah ada 3 dosen yang dapat hadir dalam pertemuan itu dan berbagi wawasannya : Mr. Hisar (aircraft design, business, airport, maintenance), Mr. Yazdi (flight mechanics), dan Mr. Ridanto (astrodynamics, space).

Bersama bapak-bapak dosen

Hari kedua (Rabu, 5 April), tim di-split gara-gara banyak perusahaan yang perlu didatangi. Saya menemani Wouter dan Madeleine ke Rekatama Putra Gegana (RPG) di sekitar kawasan Jatayu. RPG adalah sebuah perusahaan dengan spesialisai perawatan propeller dan beberapa komponen pesawat.

Ngobrol dengan Pak Doddy dari RPG

Sementara itu, Fazlur bersama Max dan Ronald berkunjung ke Angkasa Pura II Bandara Husein Sastranegara dan Nusantara Turbin dan Propulsi (NTP) yang lokasinya masih di kompleks bandara. Hari kedua kami cuma jalan-jalan setengah hari. Mereka harus kembali ke hotel untuk membuat janji pertemuan hari-hari berikutnya. Mendadak banget ya hahaha

Hari ketiga (Kamis, 6 April), pagi hari tim kembali di split. Saya bersama Wouter dan Madeleine berkunjung ke PT Advance Engineering (Aering) yang berlokasi di bagian selatan Kota Bandung. Aering adalah perusahaan yang bergerak di bidang flight data analysis (FDA). Gampangnya, baca-baca dan analisis data black box pesawat gitu. Sementara itu Fazlur bersama Max dan Ronald datang ke PT Dewata Angkasa di kawasan Buah Batu.

Pak Gunta (tengah) dan Pak Purnomo (samping saya) menerima kami dengan sangat friendly di Aering
Siang harinya, Max dan Wouter menemui manajer hotel tempat mereka menginap, Hotel Savoy Homann (bersejarah cuy ini hotel, bangunannya gaya Belanda, Art Deco). Mereka membantu kawannya yang melakukan penelitian di bidang food and agriculture. Sementara itu, saya, Fazlur, Ronald dan Madelaine bertamu ke AeroIntek di kawasan Pasteur.

AeroIntek adalah perusahaan yang bergerak di bidang perawatan engine dan komponen pesawat. Namun di sana kami mendapat informasi lebih dari itu. Sebabnya, kami bertemu dengan Mr. Ikhsan Amin yang juga presdir Bandung International Aviation (BIA). BIA adalah holding company yang membawahi Bandung Pilot Academy, Cadet dormitory, dll pokoknya banyak saya lupa hehe. Ada yang di bidang aircraft sales, ada yang maintenance, komplit lah.

Melihat peran Bandung sebagai pusat kegiatan penerbangan di Indonesia, beliau mengatakan "Bandung is the Seattle of Indonesia". Ntaps.

Hari keempat (Jumat, 7 April), pagi hari saya, Fazlur, Ronald, dan Wouter berkunjung ke Aeroterascan (ATS). ATS adalah perusahaan di bidang drone dan jasa aerial mapping yang berpusat di daerah Dipati Ukur, tidak jauh dari kampus ITB. Rencananya kami juga akan berkunjung ke workshop tempat drone dibuat di daerah Cinambo, namun batal karena waktu mepet salat Jumat. Mereka care sekali soal jadwal salat kami.

Kunjungan ke AeroTerraScan. Itu salah satu model drone mereka

Setelah 4 hari capek jalan-jalan, sorenya kami refreshing..hehehe. Mereka mengajak saya dan Fazlur dinner di 18 Restaurant and Lounge. Sepertinya ini adalah makan malam termahal saya sejauh ini, ada lah saya habis 350 ribu sekali makan. Wajar karena lokasinya prestisius, di rooftop The Trans Hotel, kawasan Trans Studio Bandung.

Lantai 18 lhoo..anginnya kenceng lhoo..bawahnya kaca lhoo

Sabtu, 8 April, pagi hari kami bertemu dengan 2 pegawai PTDI. Birokrasi yang agak rumit memaksa kami untuk bertemu di luar PTDI. Kami ngobrol lesehan di rumput lapangan sipil ITB. Terima kasih Pak Krisnan dan Pak Sani yang bersedia melunangkan waktunya.

Siangnya, kami berwisata ke Lembang dan Sari Ater. Tidak usah saya ceritakan nanti jadi panjang banget tulisan ini haha. Tapi 1 hal menarik, tiket masuk Tangkuban Perahu untuk foreigner adalah 300 ribu per orang. Kami habis 1 juta di sana, pikir lagi kalau bawa orang asing ya.

Barudak ketemu bule ya minta foto

Hoy Max, what are u doing ?!
Itulah cerita saya minggu kemarin, maaf baru sempat nulis. Sebenarnya masih ada hal-hal yang belum tertuliskan di sini, kalau mau tahu sesuatu tanyakan saja.

A very big thanks to kawan-kawan dari Belanda. Terima kasih atas kesempatannya untuk ikut dalam project ini. Tidak sia-sia meninggalkan TA beberapa hari. Semoga saya gantian yang kesana ya. Aamiin :)



Salam,
Chandra


0 comments :

Post a Comment