Ikan Kecil di Kolam Besar


Dalam periodisasi major selama 25 tahun usia, saya beberapa kali pindah dari kondisi ikan kecil di kolam besar ke ikan besar di kolam kecil dan sebaliknya. Kadang mengagetkan berubah dari inferior jadi superior lalu jadi inferior lagi. Tapi kalau diingat-ingat rasanya memang itu jalan yang tepat. Perpindahan itu perlu karena menjadi ikan yang terlalu besar di sebuah kolam kecil menyesakkan, dan menjadi terlalu kecil di sebuah lautan mengerdilkan.

Babak 1: 2001-2007 Masa-masa sekolah dekat rumah
Saya sekolah di SD inpres dekat rumah. Sekolah yang sangat sederhana dan lokasinya di desa. Semua muridnya adalah penduduk sekitar. Beberapa angkatan jumlah muridnya kurang dari 15 orang. Bahkan secara de jure sekolah ini sudah tidak ada karena tepat setelah saya lulus digabung dengan sekolah lain. 

Sekolah dekat rumah tidak bisa lepas dari sosiologi masyarakat desa, saya yang alhamdulillah berasal dari keluarga 'pegawai' jadi dapat predikat ikan besar yang tidak saya inginkan. Tapi secara akademik juga alhamdulillah saya tidak keluar dari 2 besar. Jadilah ketempelan status ikan besar yang sebenarnya mempersulit pergaulan. Kalau pernah di posisi saya Anda pasti paham.

Beberapa teman menganggap kehidupan saya seperti orang-orang kaya di sinetron: apa-apa dilayani pembantu, di dalam rumah pakai sandal hotel, tidur pake piyama, gak pernah panas-panasan wkwkwkwk padahal nyatanya beda 180 derajat. Aslinya tiap hari main bola sampe dengkul banyak luka, keluar rumah jarang pake alas kaki, nggak biasa gosok gigi sebelum tidur.

Babak 2: 2007-2010 Mencoba beranjak ke kota
Culture shock dong. Sebelumnya selalu ranking di SD tiba-tiba disatukan dengan ranking satu-ranking satu sekolah-sekolah bagus se-Bantul. Mana sebagian besar dari mereka gaya hidupnya lebih kota daripada saya. Ada anak pejabat Bantul, anak dokter kondang, anak pengusaha besar, dan lain sebagainya.

Nggak tahu kalau sekarang, tapi jaman dulu jalurnya anak Bantul untuk jadi dokter kondang jebolan UGM dan insinyur moncer kaya raya ya SMPN 1 Bantul. Sudah sejak tahun 70an, jamannya pakde-pakde, sekolah ini dianggap sebagai jaminan masa depan untuk masyarakat kawasan Jogja bagian selatan. 

Akademik ngedrop, pergaulan sempit, benar-benar jadi murid yang invisible alias nggak dianggap keberadaannya. Mutlak jadi ikan kecil di kolam besar.

Babak 3: 2010-2013 Ada keinginan yang tidak tercapai
For your information, jalur suteranya anak Bantul itu SMPN 1 Bantul - SMAN 1 Jogja/SMAN 3 Jogja - FK/FT UGM/ITB. Saya pun ingin dan sebenarnya memungkinkan untuk menempuh jalur itu karena walaupun di awal terseok-seok tapi di akhir masa SMP lumayan bunyi. Tapi karena beberapa alasan saya mengambil pilihan konservatif: SMAN 1 Bantul.

Sempat sedikit kecewa dan kehilangan semangat karena merasa kehilangan kesempatan. Sekolah ini bukan sekolah yang jelek, masih yang paling baik di Bantul. Tapi ibaratnya di SMP tiga tahun menapaki tangga naik, tiga tahun berikutnya seperti berjalan datar - ketika sebenarnya merasa layak naik.

Tapi dari situ saya coba terapkan standar lebih tinggi dari yang diminta. Walaupun tidak instan tapi pada saatnya terlihat hasilnya. Beda dengan di SMP yang harus sikut-sikutan di level sekolah dulu, di SMA saya seperti punya 1 slot langganan ikut lomba-lomba berbau matematika dan fisika lalu bersaing dengan teman-teman dari SMA di Kota Jogja. Di tingkat sekolah saya merasa menjadi si ikan besar.

Babak 4: 2013-2017 Kuliah dan merantau
Kehidupan berulang, saya kembali berada di sisi inferior ketika bertemu dengan anak-anak dari berbagai daerah. Saya nggak bilang semua anak ITB brilian, tapi saya katakan sebagian besar dari mereka punya high achieving mentality pada apa yang mereka kerjakan. Kebanyakan tidak suka basa-basi, tidak suka membuang waktu, militan belajar hal baru, dan bisa berdiri di kaki sendiri.

Saya terintimidasi ketika di kelas tiba-tiba banyak teman menanyakan pertanyaan-pertanyaan cerdas pada dosen. Berbeda sekali dengan budaya di SMA yang cukup mendengarkan saja, mungkin ada pengaruh dari budaya sopan santun orang Jawa merasa tidak pantas bertanya pada orang tua. Saya jadi merasa belum paham apa-apa. 

Secara pergaulan juga entah kenapa yang dari daerah ini seperti sedikit di bawah anak-anak ibukota dan anak tuan rumah Bandung. Di kampus sapaan aku-kamu untuk teman sudah dianggap aneh padahal itu default lidah saya. Saya masuk ITB sebagai ikan sangat kecil di kolam besar. Tumbuh memang, tapi sampai lulus juga belum jadi ikan besar.

Babak 5: 2017-sekarang Dunia kerja dan masyarakat
Jika selepas kuliah saya langsung bekerja di perusahaan multinasional besar saya akan menganggap diri saya seekor ikan kecil. Tapi perusahaan saya yang dulu maupun yang sekarang bukanlah perusahaan yang dikenal banyak orang, walaupun tidak bisa dibilang kecil juga karena sudah Tbk. 

Di sisi lain saya punya idealisme yang masih di atas rata-rata. Mungkin karena sebagian coworker sudah berkeluarga. Tapi seperti ada yang hilang dari lingkungan saya yaitu high achieving spirit itu tadi. Meski begitu saya sadar bahwa ini adalah anak tangga yang harus dilalui lebih dulu jika ingin berada di tempat yang lebih tinggi.

Secara skill saya masih junior dan berada di tempat yang bukan blue chip, tapi di sisi lain masih punya idealisme dan keyakinan bahwa saya worth untuk sesuatu yang lebih besar di masa yang akan datang. Maka saya consider bahwa sekarang antara ikan kecil di kolam besar dan ikan besar di kolam kecil saya bukan dua-duanya. Setidaknya untuk saat ini, tidak tahu nanti.

Lalu apa?
Dari perjalanan yang sudah saya lalui, 25 years old me merasa bahwa menjadi ikan besar di kolam kecil atau ikan kecil di kolam besar hanyalah soal waktu. Tidak ada yang lebih mulia dan jelata dari dua itu. Yang tidak baik adalah menjadi terlalu besar atau terlalu kecil seperti yang saya tulis sebelumnya.

Perpindahan dari kolam besar ke kolam kecil dan sebaliknya belum tentu sesuai rencana. Justru perubahan mendadak itu yang banyak membentuk kita. Berubah dari superior menjadi inferior mengingatkan kita bahwa diatas langit masih ada langit dan bahkan belum tentu kita adalah langit. Maka harus lebih berhati-hati dan mengerti. Berubah dari inferior menjadi superior mengingatkan kita untuk menjadi berguna selagi bisa. Menjadi pupuk yang menyuburkan sekitarnya. 

Nyaris dalam semua perkara, punya kesempatan berada di dua sisi adalah tiket untuk menjadi orang yang punya empati. Tetaplah bersinar dimanapun berada. Tetap tersenyumlah biar semakin mudah.

Salam,
Chandra

0 comments :

Post a Comment