Ini Matematika!



Saya melihat matematika layaknya saya melihat sendok. Saya pakai sendok untuk makan dan pakai matematika untuk berpikir. Tapi kita masih bisa makan tanpa ada sendok, dan masih bisa berpikir tanpa matematika. Karena sudah masuk dalam muscle memory, kita sering tidak sadar ketika menyuapkan makanan ke mulut. Begitu pula kita sering tidak sadar telah menggunakan matematika dalam membuat keputusan.

Bagi saya, matematika jauh lebih luas daripada apa yang diajarkan di bangku sekolah. Matematika bukan soal rumus dan hitungan, tapi soal bahasa dan logika. Tanpa sadar kita sering menerapkan matematika dalam kehidupan nyata, tapi seringkali tidak mengakuinya karena masih trauma dengan apa yang terjadi di pelajaran matematika di SMA.

Saya beri contoh sederhana, ketika ingin pergi ke suatu tempat kita selalu memilih rute yang paling lurus menuju lokasi tujuan. Ini sejalan dengan konsep segitiga bahwa sisi terpanjang pasti masih lebih pendek daripada penjumlahan dua sisi lainnya. Atau konsep segitiga siku-siku dimana sisi miring lebih pendek daripada penjumlahan dua sisi yang membentuk sudut 90 derajat. Bayangkan trio panjang sisi segitiga 3-4-5.

Kalau kita mau pergi dari A ke C kita pasti akan memilih lewat AC sejauh 5 cm daripada AB lalu BC dengan total 7 cm, keputusan yang gampang bukan? Seolah hanya pengambilan keputusan biasa menggunakan 'skill kehidupan'. Tapi sebenarnya tanpa sadar kita pakai hukum phytagoras disana, hukum yang bisa juga dibahasakan dengan dua ekspresi berikut (dua bentuk yang mungkin sedikit bikin anxiety, tapi sebenarnya ini sinonim):
dan


Persamaan yang mungkin bikin pusing karena lebih banyak huruf daripada angkanya ini sebenarnya punya aktualisasi yang sangat-sangat-sangat sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Sayangnya memang susah mengajarkan matematika selengkap ini ditengah banyaknya materi dan mata pelajaran yang harus ditelan anak sekolah.

Pada awalnya orang suka matematika bukan karena bisa matematika. Tapi karena dia sadar ada algoritma matematika yang ikut serta dalam processing di otak bahkan ketika melakukan dan memutuskan hal-hal sederhana. Dia menyadari proses matematis itu, ketika mungkin sebagian yang lain menyadari input (soal) dan outputnya (jawaban) saja. 

Selanjutnya, kesadaran bahwa matematika banyak muncul dalam alam nyata membuat dia lebih mudah memahami simulasi permasalahan yang ditampilkan dalam soal cerita matematika di bangku sekolah. Ketika ada soal yang menanyakan kapan Adi yang berangkat dari Kota A dan Budi yang berangkat dari kota B berpapasan setelah Budi sempat beristirahat selama 15 menit, yang dia bayangkan bukan rumus kecepatan, percepatan, waktu yang suka ketuker-tuker itu. Melainkan benar-benar ada dua orang naik NMAX, satu dari Jakarta, satu dari Bandung, lalu akan papasan di suatu tempat mungkin sekitar Jonggol, sampai sedetail itu.

Orang yang suka matematika sebenarnya juga tidak suka dengan huruf dan simbol, maka dia akan memvisualisasikan dalam imajinasinya untuk mempermudah permasalahan. Imajinasi itu muncul begitu saja, tanpa effort, sama seperti menyendok sesuap nasi. 

Dia tidak perlu hafal rumus, dari pengalamannya naik motor dia tahu kalau waktu berbanding terbalik dengan kecepatan. Dengan tahu informasi kecepatan dan jarak dia tinggal melakukan operasi tambah kurang kali bagi lalu ketemu jawabannya. Di lembar coret-coretannya tidak ada tulisan rumus, karena itu tidak perlu.

Saya kurang nyaman ketika diminta mengerjakan soal uraian matematika dimana rumus harus ditulis di baris paling awal dan harus benar. Sebaliknya saya suka soal matematika dasar dan TPA numerik berupa pilihan ganda karena banyak cara untuk memvisualisasikannya dan tidak perlu menggunakan atau menuliskan rumusnya.

Ada rumus-rumus yang memang perlu dihafal, terutama yang berupa dalil, teori, dan hukum. Tapi tidak perlulah menganggap semua rumus perlu dihafal. Hafalkan saja rumus luas persegi panjang, segitiga, dan lingkaran, maka kita bisa menghitung luas permukaan semua bangun datar dan bangun ruang karena pada dasarnya semua tersusun dari komponen itu. 

Sama seperti naik sepeda, main gitar, atau sekedar makan. Berikutnya yang berbicara adalah soal kebiasaan. Seorang murid yang terbiasa menyadari proses berpikir matematis akan semakin sering menggunakannya dan menjadi semakin bisa. Mau itu kehidupan nyata ataupun soal matematika dasar di tryout TOBAT* nyaris tidak ada bedanya.

Matematika sama sekali tidak menentukan tingkat kebijaksanaan seseorang dan tidak pula menentukan akan seberapa sukses seseorang di masa depan. Murid pintar dan tidak pintar itu juga hanya standar yang dibentuk oleh institusi sekolah dan kurikulum, tidak lantas mencerminkan kenyataan. 

Keterbatasan dalam pengajaran matematika di sekolah sehingga banyak siswa justru takut karenanya sama sekali bukan salah guru. Mereka sudah melakukan yang terbaik ditengah sistem dan kurikulum yang serba membatasi. Mungkin ada satu dua guru yang mampu mengatasi itu semua dan bisa menunjukkan bentuk matematika yang sebenarnya. 

Salah satu yang bisa adalah Pak Sudaryanta, guru matematika SMPN 1 Bantul tempat saya sekolah dulu tahun dari tahun 2007-2010. Ditunjang tinggi badan diatas rata-rata 186 cm tampilannya sudah langsung berkharisma. Langkahnya lebar dan tegap dilihat dari lantai 2 tempat kelas kami berada. Beliau adalah yang pertama kali menunjukkan pada saya "Ini Matematika!".

Beliau adalah sosok yang membuat saya tidak sepakat dengan pandangan bahwa guru adalah profesi yang sedikit inferior dibandingkan profesi lain seperti dokter atau engineer, sekaligus marah ketika ada berita tentang murid yang tidak menghormati gurunya. Sebuah quote dari motivator asal Amerika Serikat mengatakan:

a doctor can do heart surgery and save the life of a kid, but a great teacher can reach the heart of that kid and allow him to truly live - Prince Ea

Berikan satu sekolah satu guru seperti Pak Dar, dan matematika di Indonesia akan sangat berbeda. Tidak semua pengalaman selama sekolah saya menyenangkan. Tapi diajar matematika oleh beliau adalah kesempatan yang sangat saya syukuri. Tidak semua detail masa-masa saya menjadi murid beliau bisa saya tuliskan disini. Tapi percayalah saya merasa sangat berutang budi.

Sampai ketika akhir-akhir kuliah, setiap lebaran saya dan beberapa teman yang diajar oleh beliau masih rutin berkunjung ke kediamannya. Tahun ini tentu saja tidak. Tapi saya sangat ingin kapan-kapan sowan dan bertemu dengan beliau.

Pak Dar paling kanan jaket putih biru, foto ketika beliau pelatihan selama 2 bulan di Perth Australia, karena prestasinya sebagai guru matematika


Ketika Pak Dar ke Aussie, di saat yang sama saya lomba matematika di Jakarta dan alhamdulillah dapat medali perunggu. Momen yang pertama kali membuat saya memilih Jakarta sebagai kota cita-cita. Teman saya namanya Budi Azhari yang juga 'binaan' Pak Dar meraih perak, sekarang dia jadi PNS peneliti di LIPI, termasuk teman yang saya kagum dan banyak belajar darinya.


Layaknya sendok, saya pun kikuk kalau menggunakan sendok yang ukuran atau bentuknya tidak biasa seperti di restoran hotel, resepsi pernikahan, atau tempat yang sangat 'luar negeri' dan kental table manner. Begitu pulalah pemahaman matematika saya sangat terbatas. Tapi saya senang kalau bisa menggunakan dan membagikan keindahan matematika pada orang lain.

Terima kasih,
Chandra Nurohman, kelas 7B


*TOBAT: Tryout Bareng Teknik, yaitu tryout SBMPTN yang diselenggarakan fakultas teknik UGM. Waktu itu saya ikut dan alhamdulillah pulang bawa piala dan tablet karena jadi juara umum. Tapi akhirnya nggak kuliah disana hehe..

0 comments :

Post a Comment